140 PMI Asal NTT Meninggal di Luar Negeri Sepanjang 2023
JAKARTA, investortrust.id - Sebanyak 140 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia di luar negeri sejak Januari hingga Desember 2023. Hal itu berdasarkan data yang diperoleh investortrust.id, Rabu (13/12/2023).
Data dari Crisis Center Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT per 1 Desember 2023 terungkap Kabupaten Malaka, Kabupaten Ende serta Kabupaten Flores Timur menjadi tiga daerah dengan jumlah kematian PMI di luar negeri terbanyak. Terdapat 27 PMI asal Kabupaten Malaka yang meninggal dunia. Para korban terdiri dari 20 perempuan dan tujuh laki-laki, Kemudian terdapat 22 PMI asal Kabupaten Ende yang meninggal dunia di luar negeri yang terdiri dari 19 laki-laki dan 3 orang perempuan. Selanjutnya, terdapat 15 laki-laki dan tiga perempuan dari Kabupaten Flores TImur yang meninggal dunia di luar negeri dalam status mereka sebagai PMI.
Daftar PMI asal NTT yang meninggal dunia di luar negeri diperkirakan akan terus bertambah. Hal ini mengingat terdapat tiga PMI asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia beberapa waktu lalu. Ketiga jenazah akan dipulangkan ke kampung halaman masing-masing pada Kamis (14/12/2023) besok. Ketiga PMI yang meninggal dunia di Malaysia itu berasal dari Kabupaten Malaka, Kabupaten Belu, dan Kabupaten Ngada.
Baca Juga
Mulai Hari Ini Barang Kiriman PMI Bebas Bea Masuk, Asal Tak Lampaui Ini
Berdasarkan investigasi Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia terungkap setiap calon PMI asal NTT tak dibekali ketrampilan bersertifikat di balai latihan kerja (BLK) dan diproses melalui layanan terpadu satu atap. Bahkan, di NTT hanya terdapat beberapa BLK PMI yang memenuhi syarat dan seluruhnya berada di Kupang.
"Sedangkan di Sumba dan Flores belum ada," kata Ketua Dewan Pembina Padma Indonesia, Gabriel Goa dikutip Rabu (13/12/2023).
Dikatakan, BLK swasta yang memenuhi standar 3D (dilatih, disertifikasi, dan ditempatkan) milik P3MI (Perusahaan Pengerah Pekerja Migran Indonesia) berada di Kupang dan milik Tarekat Don Bosco di Tambolaka, Sumba Barat Daya. Goa menekankan, saat ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Yang terpenting, katanya, selamatkan anak-anak NTT agar tidak meningga sia-sia.
Baca Juga
Pembelian Produk Dalam Negeri Tingkatkan PMI Manufaktur, Begini Penjelasannya
Aktivis human trafficking itu menyatakan, pencegahan kematian PMI asal NTT harus dilakukan dengan kolaborasi pentahelix. Pertama, melakukan sosialisasi pencegahan human trafficking melalui gerakan masyarakat anti-human trafficking dan migrasi aman atau Gema Hati Mia dari desa dengan kebijakan peraturan desa migrasi aman. Kedua, mendesak Penjabat Gubernur NTT Ayodhia Kalake bersama seluruh pemkab/pemkot se NTT untuk melakukan gerakan Rebranding PMI asal NTT dengan menyiapkan SDM andal melalui BLK dan pendidikan vokasi standar nasional dan internasional serta dilayani melalui layanan terpadu satu atap untuk mengurus semua persyaratan formil mulai dari KTP, paspor, perjanjian kerja, visa kerja, check up kesehatan, asuransi jaminan sosial dan bank atau pos giro penerima remitensi.
"Ketiga, melakukan pelindungan kepada PMI asal NTT baik melalui skema mandiri dan P3MI yang terdaftar resmi di Kemenaker dan BP2MI.serta melaporkan ke perwakilan RI di luar negeri," katanya.
Keempat, menyiapkan calon PMI asal NTT yang andal sekaligus menjadi duta pariwisata dan misionaris awam bekerja sama dengan para misionaris asal NTT yang tersebar.di seluruh dunia.
"Kami siap membantu Pak Penjabat Gubernur NTT untuk rebranding PMI NTT ke depan bisa menghasilkan remitensi bagi NTT sekaligus menjadi duta pariwisata NTT dan misionaris awam ke seluruh dunia membantu para misionaris asal NTT yang.sudah melayani di seluruh dunia. Diaspora NTT akan membangun dan memajukan NTT keluar dari kemiskinan dan gizi buruk," tegas Goa,

