Sepenggal Cerita tentang Rizal Ramli dan Nyamuk yang Berisik
JAKARTA, investortrust.id - Pagi itu hujan rintik-rintik membalut ibu kota. Bak berduka, langit ikut menangis, mengiringi arak-arakan kendaraan yang beringsut menuju sebuah rumah di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, tempat bersemayam sang ekonom kritis, Rizal Ramli.
Jalan yang mulai ramai itu disesaki karangan bunga bertuliskan Turut Berduka Cita atas Wafatnya Bapak Rizal Ramli. Berpuluh jumlahnya.
Karangan bunga itu baru berakhir di sebuah rumah dengan pagar krem putih bertuliskan Jl Bangka IX 49R. Rumah ini lumayan besar, cukup untuk menampung semua manusia yang hendak menunjukkan duka citanya pada sang ekonom.
Suasana duka langsung terasa saat memasuki rumah itu. Wajah-wajah sendu satu per satu bermunculan. Sebagian pelayat langsung menuju ruang tengah. Sebagian lagi mengamati deretan figura di tembok yang menunjukkan banyaknya memori almarhum semasa hidupnya.
Di ruang tengah tampak sesosok tubuh dingin berselimut kain batik: tubuh almarhum Rizal Ramli. Dan seketika terdengar lantunan sendu, “Allahu Akbar…”
Di ruang tamu tampak sosok yang sangat tidak asing, Yudi Latif. Ia ditemani Dedy ‘Miing Bagito’ Gumelar, pelawak, aktor, dan politikus dari Partai Gelora.
“Rizal Ramli tokoh yang berintegritas, kukuh pada pendirian, lantang bersuara,” ujar Yudi Latif.
“Beliau rela meninggalkan jabatan untuk mempertahankan kebenaran dan melawan ketidakadilan,” tambah Miing Bagito.
Tak lama berselang, satu per satu kerabat, rekan, dan kolega almarhum berdatangan. Tampak pula sejumlah tokoh nasional. Kepada para awak media, mereka mengatakan bagaimana sosok Rizal Ramli.
Rizal Ramli diindikasikan dokter mengidap kanker pankreas. Ekonom senior dan tokoh pergerakan mahasiswa era 1977-1978 itu dirawat selama sebulan lebih di rumah sakit. Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 19.30 WIB di RS Cipto Mangunkusumo, Selasa (02/01/2024) malam.
Pada usianya yang ke-69 tahun, Rizal Ramli meninggalkan tiga anak dan dua cucu. Sang aktivis dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Kamis (04/01/2024).
Baca Juga
Rizal Ramli, sang Lokomotif Perubahan yang Dicintai Semua Kalangan
Man with Principle
Para tokoh mengenal Rizal Ramli sebagai seorang man with principle alias manusia yang memegang teguh prinsip. Ia tidak akan segan mengutarakan pendapatnya yang terkesan beda dari kebanyakan pihak atau anti-mainstream.
“Orang-orang bilang Pak Rizal itu oposan, sejak mahasiswa. On and off dalam pemerintah. Tapi sikap baliau konsisten. Mengekspresikan pandangan yang kadang-kadang berbeda, termasuk dengan pandangan saya,” tutur mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kabinet Indonesia Bersatu, Sofyan Djalil.
Para tokoh nasional yang pagi itu melayat sepakat bahwa sebagai pembela rakyat, Rizal Ramli selalu berusaha menjadi pejabat politik yang jujur dalam beragumen. Itu sebabnya, mereka merasa sangat kehilangan mantan Kepala Bulog, mantan Menko Perekonomian, mantan menteri keuangan, dan mantan Menko Kemaritiman dan Investasi tersebut.
Menurut mereka, betapa susahnya menemukan pemimpin politik yang serupa Rizal Ramli. “Kita kehilangan seorang tokoh bangsa, seorang tokoh sejati yang memperjuangkan apa pemikiran ekonomi yang berpihak kepada rakyat,” tutur Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno.
Sebagai seorang pemikir, menurut Sandiaga, Rizal Ramli senantiasa memikirkan bagaimana cara membawa Indonesia menjadi negara maju dan berdaulat.
Dalam pandangan mantan Wapres Jusuf Kalla, Rizal Ramli bukan hanya politisi, tapi juga aktivis yang lantang menyuarakan kebenaran. “Beliau ini seorang pemikir dan aktivis, artinya mengambil upaya berdasarkan pemikiran konsekuen selama dua tahun di pemerintahan Jokowi,” ujar Jusuf Kalla.
Para tokoh nasional menilai kekritisan Rizal Ramli adalah hal baik, terlebih bagi jalannya proses pemerintahan. Pemerintahan yang baik akan menghargai kritik yang konstruktifsebagai upaya agar tumbuh lebih baik.
“Pemerintah tidak alergi kritik, pemerintah sungguh menghormati kritik. Kekritisan dibutuhkan untuk membangun pemerintahan yang lebih baik, bukan merongrong. Sepanjang punya niat yang baik untuk membangun bersama-sama, kritik itu bagus,” tegas Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko.
Moeldoko menjelaskan, kritikan yang kerap dilontarkan Rizal Ramli semasa hidupnya adalah obat penyembuh dan penyehat demokrasi. “Dan kita telah kehilangan obat penyehat itu,” ucap dia.
Jadilah Nyamuk yang Berisik
Bak buku yang terbuka, Rizal Ramli selalu mengatakan secara terus terang apa yang ada dalam pikirannya, walaupun hal tersebut dapat menimbulkan dispute, bahkan bagi koleganya sendiri.
“Dunia aktivis, dunia pergerakan, civil society telah kehilangan seorang tokoh besarnya sekarang,” ujar Menko Pohukam, Mahfud MD.
Mahfud MD tak hanya melihat Rizal Ramli sebagai politisi yang jujur, tapi jugaaktivis yang kritis dengan kekritisan yang konstruktif. Kekritisan itu sudah muncul sejak dirinya menjadi mahasiswa, bahkan ia pernah dijebloskan ke dalam penjara sebagai tahanan politik saat memperjuangkan demokrasi Indonesia di era Orde Baru.
“Aktivis yang pandai dan berani seperti beliau sangat langka. Beliau juga sering memberikan pelatihan kepada aktivis-aktivis muda,” kata mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo.
Rizal Ramli pernah berpesan kepada Miing Bagito bahwa aktiviasharus seperti nyamuk. “Pesan beliau, terus berbunyilah seperti nyamuk. Kalau bunyi tiap malam pasti orang tidak bisa tidur. Kalau kita terus ‘berisik’ atau tiada henti mengingatkan pemerintah terhadap kebijakan yang tidak sesuai maka lama-lama pemerintah akan ngeuh juga,” tegas dia.
Juru bicara keluarga Rizal Ramli, Yosef Nggarang bercerita bagaimana terpukulnya keluarga atas kehilangan salah satu orang tercintanya.
Yos mengunggkapkan, Rizal Ramli tidak pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya, bahkan ia tidak pernah membahas penyakitnya sama sekali. Ia hanya tertarik berbicara tentang keadilan dan demokrasi di Indonesia.
“Beliau kan orang pergerakan. Jadi, ia abaikan sakitnya. Beliau dirawat sebulan lebih, tapi tak pernah cerita sakitnya. Itu ciri-ciri orang pergerakan, dia tidak peduli sakitnya,” papar Yos Nggarang.
Baca Juga
Luhut, Moeldoko, dan Gatot Anggap Sikap Kritis Rizal Ramli sebagai Obat Penyembuh Demokrasi
Selalu tentang Demokrasi
Selama Rizal Ramli menjalani perawatan, keluarga terdekatnya setia menemani. Namun, keluarganya tak memiliki praduga bahwa ia akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa secepat itu.
Mengenai pesan terakhir almarhum, Yos Nggarang mengungkapkan, Rizal Ramli sepanjang hidupnya menyuarakan tentang bagaimana memperbaiki demokrasi di Indonesia.
”Demokrasi, kemudian menyelamatkan jutaan orang yang terjerat kemiskinan. Dia sangat menyayangkan negara kita kaya sumber alam, tapi maih banyak rakyatnya yang terjerat kemiskinan,” ungkap Yos.
Sejak menjadi mahasiswa, Rizal telah banyak memperjuangkan demokrasi dan cita-cita kemerdekaan. Almarhum dengan konsisten mengedepankan integritas dan moral yang dimilikinya demi kemajuan bangsa Indonesia.
“Beliau ini betul betul dari mahasiswa sudah memperjuangkan demokrasi, ia berjuang untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Itu membuat standar politiknya seperti tokoh ‘45, lebih mengedepankan integritas, moral, serta visi,” tutur dia.
Hingga detik terakhirnya pun, keluarga mengungkapkan Rizal tidak pernah menyinggung hal pribadi, terlebih mengenai penyakit yang dideritanya. Almarhum selalu mengedepankan pembicaraan mengenai bagaimana bangsa ini bisa maju.
“Beliau sudah berpulang, tapi nilai-nilai keberanian, sikap kritis, dan konsistensi dalam berjuang semoga tetap berada di hati aktivis senior dan junior,” papar Gatot Nurmantyo.***

