Rizal Ramli, sang Lokomotif Perubahan yang Dicintai Semua Kalangan
JAKARTA, investortrust.id - Ambulans putih bernomor polisi B 1028 SIX itu melaju pelan, keluar dari area Masjid Al-Ittihad, Mampang Pela, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Di luar, gerimis menyambut.
Tapi, rintikan gerimis dan mendung tak menghalangi semangat para pelayat mengiringi ambulans tersebut. Ambulans berjalan perlahan menyusuri Jl Bangka IX, meninggalkan deretan karangan bunga penanda duka, yang dikirim politisi hingga pejabat negara.
Dari Jl Banka IX, ambulan berbelok kiri. Menuju Jl Bangka Raya. Beberapa pengiring terus mengikuti ambulans menuju Jl Kemang Raya. Iring-iringan berbelok ke kanan, menuju Jl Benda Raya dan berakhir di TPU Jeruk Purut.
Di sanalah ambulans putih itu berhenti. Mengantar jenazah Rizal Ramli dimakamkan. Sebelum memasuki liang kubur, puluhan orang berkumpul. Dari rekan sejawat, aktivis, cendekiawan, hingga pengusaha.
Rizal Ramli dimakamkan satu liang bersama istrinya, Herawati. Menyatukan cinta yang tumbuh sejak era Rizal menjadi aktivis semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Latar belakang yang berbeda menyatukan Rizal dan Herawati. Tapi, Rizal percaya, perbedaan inilah yang melengkapi perjalanan mereka.
“Perbedaan yang ada malah memperkaya perjalanan hidup kami,” kata Rizal, dikutip dari buku Rizal Ramli Lokomotif Perubahan.
Pemakaman Rizal Ramli berlangsung penuh duka, bahagia, dan suasana aktivisme. Sahabat dan kerabat, Hariman Siregar menceritakan bagaimana pertemuan dan aktivisme Rizal semasa Orde Baru.
“Saya tahu, kawan-kawan (ITB) ini sangat gigih dan tidak pernah cengeng. Sampai saat Soeharto jatuh pada 1998,” kata Hariman di lokasi pemakaman, Kamis (04/01/2024).
Tak hanya Hariman yang berpidato di pemakaman. Di antara sesak pelayat, ada pula sosok Dhitta Puti Sarasvati, putri pertama Rizal Ramli.
Dhitta bercerita saat terakhir bersama Rizal. Tak hanya duka. Ada tawa dan rasa bahagia. “Saya bilang, ‘Pak, Bapak meninggal saja masih bisa humor’,” kata Dhitta.
Tawa, Duka, dan Bahagia
Dhitta bercerita, setelah kabar meninggalnya ayahanda, ada berita yang mengubah dukanya menjadi tawa. Salah satu berita itu menceritakan beberapa teman yang saling menyalahkan karena tak menerima kabar meninggalnya pria berjuluk Rajawali Ngepret itu. “Jadi saya, ya Allah, ini berita apaan? Jadi, saya tertawa,” ujar dia.
Bagi Dhitta, pertemuan terakhir dengan sang ayah begitu intim. Oleh sebab itu, kepergian Rizal juga menjadi syukur yang dia rasakan.
“Saya merasa alhamdulillah dalam beberapa hari gitu. Memang di dalam hati saya, rasa yang paling besar adalah rasa syukur,” kata dia.
Meski menangisi kepergian ayahandanya, Dhitta Puti Sarasvati begitu bersyukur sang ayah dicintai masyarakat. Ini ditandai kehadiran tamu yang tiada henti pada Rabu malam (3/1/2024).
“Tamu datang terus-menerus, dari pagi, ada pejabat, ada tokoh, dan sebagainya. Tapi yang paling saya bahagia itu adalah setelah Isya. Mengapa? Karena yang datang adalah warga-warga biasa. Orang-orang yang Bapak perjuangkan adalah orang-orang biasa,” tegas dia.
Memilih Indonesia
Dhitta bercerita mengenai saat-saat terakhir menemani Rizal Ramli di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Beberapa kerabat sempat memintanya membawa Rizal ke Singapura untuk perawatan.
Tapi, tawaran itu ditolak Rizal. Dhitta mengatakan, Rizal Ramli memilih RSCM karena rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pertama di Indonesia. “Ada satu buku Bapak yang belum terbit, judulnya Memilih Indonesia. Ketika Bapak memilih, kami akhirnya memilih di Cipto,” ujar dia.
Rasa cinta terhadap Indonesia itu turut mengiringi kepergian Rizal. Seorang sahabat menyampaikan pesan kepada Rizal Ramli, dua jam sebelum ia tutup usia.
“Sudah, Zal. Tugasmu sudah selesai,” kata Dhitta menirukan pesan sahabat itu kepada Rizal. “Indonesia baik-baik saja karena rakyatnya kuat. Jadi, kamu tenang saja.”
Di saat-saat terakhir, Dhitta Puti Sarasvati masih sempat meminta ayahnya tak khawatir. “Murid-murid bapak banyak. Meski tak segila dan senekat bapak, mereka akan memperjuangkan kebenaran,” tutur Dhitta.
Sebelum Rizal Ramli meninggal, Dhitta menemaninya dengan membaca surat Al-Ashr. Wal ashri yang berarti demi masa, menjadi pengiring dan pengingat keluarga mengenai kesabaran yang dijalani Rizal selama memperjuangkan cita-citanya untuk Indonesia.
“Sebelum Bapak saya meninggal, saya sempat membahas ini surat. Wal Asri. Saya katakan, saya kalau dengar surat Wal Asri, mari saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Bapak saya sabar. Kelihatannya dia tidak sabar, padahal aslinya dia sabar, untuk memperjuangkan cita-cita,” ujar dia.
Dhitta turut mengucap permohonan maaf dan terima kasih untuk sang ayahanda yang telah tiada.
Rizal Ramli Pembela Kaum Miskin
Cinta Tanah Air. Kata itulah yang bisa menggambarkan sosok Rizal Ramli, ekonom dan aktivis Orde Baru. Pria kelahiran Padang, 10 Desember 1954 itu penuh dengan gagasan dan perjuangan untuk kaum lemah.
Dampaknya, Rizal dijebloskan ke penjara karena bersama Keluarga Mahasiswa ITB menolak pencalonan Soeharto sebagai presiden untuk periode ketiga. Rizal menjadi salah satu penyusun Buku Putih Perjuangan Mahasiswa ITB.
“Isi buku itu antara lain mengkritik strategi pembangunan ekonomi yang diterapkan rezim Soeharto, yakni trickle down effect alias efek perembesan ke bawah. Strategi pembangunan ekonomi yang semata-mata mengejar pertumbuhan tinggi itu hanya menyengsarakan rakyat jelata,” tulis Rizal Ramli dalam bukunya.
Tapi, justru di penjara Sukamiskin-lah Rizal Ramli bisa leluasa mengembangkan gagasannya. Juru bicara keluarga Rizal Ramli, Yosef Sampurna Nggarang bercerita bahwa selama di penjara itulah Rizal mempelajari filsafat, ilmu yang kemudian mengantarkannya ke gagasan ekonomi.
“Dia bergerak dari mahasiswa itu untuk memperjuangkan visi mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa yang didapat dari pendiri bangsa,” ujar Yosef.
Selama berjuang, kata Yosef, Rizal selalu menggunakan visi yang tak jauh dari Pasal 33 UUD 1945. Itu sebabnya, ia juga dikenal sebagai ekonom kerayatan.
“Dalam membuat kebijakan atau masuk pemerintah, dia melihat porsinya. Dia mengutamakan kepentingan publik. Jadi, harus kepentingan publiknya yang lebih besar, baru investornya. Tapi, dia tidak punya kepentingan di situ,” tandas dia.
Sejak mahasiswa, Rizal Ramli selalu memupuk dirinya dengan keberpihakan kepada kaum papa. Ia, misalnya, pernah membentuk gerakan antikebodohan, yang kemudian memaksa pemerintahan Soeharto membuat kebijakan Wajib Belajar 6 Tahun.“Ketika ingin dengan rakyat, dia hidup bersama nelayan di pinggir pantura,” tutur Yosef Sampurna Nggarang.
Ekonom dan sahabat Rizal Ramli, Hendri Saparini mengungkapkan, gagasan Rizal Ramli mendukung masyarakat kecil muncul dari terobosan untuk menyelesaikan masalah. Misalnya efisiensi dan inklusivitas.
“Selanjutnya adalah national interest. Jadi, semua kebijakan dan usulan-usulan terobosan kebijakan strategis itu, dasarnya adalah national interest, itu nomor satu,” tegas Hendri kepada investortrust.id.
Demokrasi Ekonomi
Menurut Hendri Saparini, gagasan ekonomi inklusivitas yang dicetuskan Rizal Ramli pada hakikatnya adalah mengenai demokrasi ekonomi.
Sikap kritis Rizal Ramli juga fair, konstruktif, dan argumentatif. Kritik-kritik yang dilontarkan Rizal selalu menggunakan basis data.
“Jadi, yang pertama, Pak Rizal dan kami, segala sesuatu yang kami sampaikan itu berdasarkan data. Kedua, tidak boleh business as usual. Ketika tidak berhasil harus ada kemampuan, harus ada keberanian untuk mencarikan kebijakan yang baru, harus ada terobosan,” kata dia.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono menjadi salah satu orang yang mencermati tiap kritik Rizal Ramli. Meski akhir-akhir ini berjarak karena kesibukan masing-masing, Basuki mengaku dekat dengan Rizal karena kedekatan semasa kuliah.
“Beliau selalu mewarnai diskusi-diskusi dengan komunikasi yang egaliter. Saya selalu mengikuti pendapat-pendapat beliau,” kata Basuki yang turut menyalatkan jenazah.
Kini, mantan Menko Kemaritiman itu telah tiada. Rizal telah kembali ke pelukan Herawati. Bersama dalam keabadian di liang kubur. Cintanya yang tulus ke Herawati mampu memoles kelembutannya.
Kerinduan itu pernah dia tulis dalam sepenggal puisi saat bersekolah di Boston, Amerika Serikat. Puisi bertarikh 13 November 1980 itu dapat menggambarkan sisi lain Rizal Ramli, yang dikenal tajam dan tangkas dalam mengurai persoalan.
"Dear Hera
talked to a bunch of people
I got bored
I see numerous things and
Different places
My mind was not there
I remember you
I sit here realizing
It’s not people
Nor places
That make me happy
It’s you.
Selamat jalan Lokomotif Perubahan! ***

