Profil Rizal Ramli, si Rajawali Ngepret yang Meninggal Dunia Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id - Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli yang mendapat julukan Rajawali Ngepret meninggal dunia pada usia 69 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Selasa (2/1/2024).
Julukan Rajawali Ngepret disematkan kepada Rizal Ramli bukan tanpa sebab. Aktivis mahasiswa era 1970-an itu kerap melontarkan kritik pedas terhadap penyimpangan di pemerintahan.
Salah satu kritik pedas itu dilontarkan Rizal Ramli saat baru dilantik sebagai menko kemaritiman. Rizal Ramli saat itu mengkritik rencana pembelian pesawat baru oleh Kementerian BUMN untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia.
Baca Juga
Menurut Rizal, pembelian pesawat baru kebijakan yang tidak tepat dan memboroskan uang negara. Beberapa hari kemudian, Rizal juga mengkritik proyek pembangunan listrik 35.000 megawatt yang dianggap tidak realistis. Rizal menyebut proyek 35.000 megawatt adalah proyek ambisius Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla (JK). Kritikan tersebut segera mengundang reaksi keras dari Jusuf Kalla dan beberapa pejabat negara lainnya. Kontroversi ini sempat membuat kegaduhan dalam kabinet pemerintahan Jokowi-JK.
Banyak pihak yang mengecam kritik Rizal Ramli yang menilainya tidak etis dan menimbulkan kegaduhan di dalam pemerintahan. Namun, banyak yang setuju dan mendukung Rizal Ramli untuk membongkar setiap penyimpangan.
Rizal Ramli lahir di Padang, Sumatera Barat pada 10 Desember 1954. Ayahnya adalah seorang Asisten Wedana, sedangkan ibunya berprofesi sebagai guru.
Rizal Ramli tinggal bersama neneknya di Bogor, Jawa Barat, dan menamatkan SD hingga SMA di kota hujan tersebut. Setamat SMA, Rizal Ramli diterima kuliah di ITB. Rizal Ramli sempat bekerja di sebuah percetakan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan lantaran tak punya biaya untuk kuliar.
Rizal Ramli juga memanfaatkan kemahirannya berbahasa Inggris untuk mencari uang dengan bekerja sebagai penerjemah buku-buku dan makalah berbahasa Inggris.
Sikap kritis Rizal Ramli terasah sejak masih menjadi mahasiswa jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Rizal Ramli pernah menjadi presiden Student English Forum (SEF) ITB dan wakil ketua Dewan Mahasiswa (Dema) ITB dari 1976 hingga 1977.
Baca Juga
Pada 1978, Rizal Ramli dipenjara oleh rezim Orde Baru karena mengkritik sejumlah kebijakan pemerintahan Soeharto. Setelah menghirup udara bebas, Rizal melanjutkan pendidikanny hingga meraih gelar doktor ekonomi dari Universitas Boston pada 1990.
Bersama sejumlah ekonom, seperti Laksamana Sukardi, Arif Arryman, dan MS Zulkarnaen mendirikan ECONIT Advisory Group. Sebagai Managing Director Econit, Rizal Ramli sering mengkritik kebijakan ekonomi Orde Baru, seperti kebijakan mobil basional, pupuk urea, pertambangan Freeport, dan lainnya.
Rizal menolak tawaran Soeharto untuk menjadi menteri di Kabinet Pembangunan VII atau kabinet terakhir rezim Orde Baru. Setelah Reformasi, Rizal Ramli juga menolak tawaran Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur untuk menjadi ketua BPK, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS). Namun, Rizal Ramli akhirnya luluh dan menerima tawaran Gus Dur untuk menjadi kepala Bulog pada 2000. Rizal Ramli selanjutnya menjabat sebagai menko perekonomian, dan menteri keuangan.
Baca Juga
Rizal Ramli juga pernah menjadi anggota tim panel penasihat ekonomi PBB bersama sejumlah ekonomi dunia lainnya. Rizal Ramli kembali masuk lingkaran pemerintahan saat dilantik Presiden Jokowi pada Agustus 2015. Jabatan itu diemban Rizal Ramli hingga 27 Juli 2016.
Meski hanya sekitar 11 bulan mengemban jabatan tersebut, Rizal Ramli kerap menjadi pemberitaan utama karena kritik pedas yang dilontarkan. Hal itu yang membuat Rizal Ramli mendapat julukan Rajawali Ngepret.

