Selamat Jalan ‘Rajawali Ngepret’, Sebuah Kisah dari Dana Non Budgeter Bulog hingga ‘Theory of Change’
JAKARTA, Investortrust.id – Mengumbar senyum dan menyapa setiap orang yang belum ia kenal, sambil menggenggam gelas teh dan mendengarkan setiap ucapan lawan bicaranya, menjadi awal perkenalan dengan Rizal Ramli.
Ia serius berbicara sembari menerangkan sejumlah isu, walaupun tampaknya ia paham tengah berhadapan dengan jurnalis ekonomi rookie yang belum terlalu memahami isu-isu makro ekonomi yang ia sampaikan.
Saat itu di akhir dasawarsa 90-an, Rizal Ramli adalah salah satu tokoh kunci di Econit Advisory Group bersama Arif Arryman, yang kerap menyampaikan kritik tajam pengelolaan dana milik pemerintah yang amburadul saat itu. Termasuk soal tata kelola pemerintahan yang masih mencari format ideal pascareformasi.
Maka setiap undangan diskusi dari Econit, akan menjadi ajang bagi para jurnalis untuk menggali isu, sekaligus mendalami sejumlah persoalan-persoalan aktual agar bisa dikonversi menjadi sebuah artikel yang menarik dan akurat.
Foto: Investortrust/Elsid Arendra.
Pada masa era Orde Baru, namanya juga telah mencuat sebagai salah satu yang mengkritik keras kebijakan pemerintah soal Mobil Nasional yang dikelola oleh anak-anak Presiden Soeharto. Tak cuma itu, soal peredaran pupuk bagi para petani, serta perizinan pengelolaan Puncak Grasberg oleh PT Freeport kerap disuarakan secara pedas oleh Rizal.
Segala kritik dan masukan yang dilayangkan Rizal lewat bendera Econit tampaknya mengena di hati KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke 4, yang segera memanggilnya untuk menjadi kepala di Badan Urusan Logistik (Bulog).
Padahal sebelumnya ia sempat ditawari Gus Dur untuk menjadi Kepala Badan Pemeriksa Keuangan, dan sempat pula ditawari untuk menjadi duta besar RI di Amerika Serikat. Namun dua tawaran jabatan tersebut ia tolak. Ketika diminta untuk mengepalai Bulog, barulah ia menyatakan kesediaannya.
Saat itu Bulog layaknya sebuah pundi uang bernilai masif, yang dikelilingi oleh para penyamun. Dana yang terkumpul di Bulog hampir pasti dikatakan tidak transparan, dan saat itu Bulog kerap dianalogikan sebagai lembaga kas dan bendahara bagi penguasa dan kelompok tertentu. Alokasi dananya pun tak pernah bisa terbaca oleh publik. Maka beken saat itu ada sebutan dana non budgeter di Bulog. Sebuah frase tentang pengelolaan dana tak transparan, namun nilainya sangat masif. Dan Rizal Ramli adalah personil yang paling nyaring menyuarakan pentingnya penyelidikan penggunaan dana off budget atau non budgeter Bulog.
Foto: Investortrust/Elsid Arendra.
Singkat cerita, diangkatlah pria kelahiran Padang, Sumatera Barat 10 Desember enampuluh sembilan tahun silam ini sebagai komandan di Bulog pada tahun 2000, menggantikan Jusuf Kalla.
Baca Juga
Profil Rizal Ramli, si Rajawali Ngepret yang Meninggal Dunia Hari Ini
Tampaknya menjadi pejabat tak mampu mengubah tabiatnya yang ceplas ceplos, dan menyuarakan ide-ide bernasnya tanpa tedeng aling-aling. Alkisah ia mendapatkan kesempatan berbicara di sebuah forum di Kantor Bappenas di seberang Taman Suropati, Jakarta, beberapa saat setelah menjabat sebagai Kepala Bulog.
Hari itu, (penulis lupa tanggal pastinya, red), Rizal secara tegas menginginkan fungsi Bulog diperluas tak hanya sebagai lembaga stabilisator harga beras semata, tapi juga menjadi lembaga negara yang mengelola komoditas pangan seperti gula dan kedelai.
Sekadar informasi saja, sejak tahun 1998 melalui Keputusan Presiden No.19 tanggal 21 Januari 1998, pemerintah mengembalikan tugas Bulog seperti Keputusan Presiden No.39 tahun 1969 yang pada ujungnya ruang lingkup komoditas yang ditangani Bulog kembali dipersempit di komoditas beras an sich.
Keppres 19/1998 ini sejatinya merupakan bagian dari kesepakatan yang diambil oleh Pemerintah dengan IMF yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI). Tugas pokok Bulog dibatasi hanya untuk menangani komoditas beras. Sedangkan komoditas pangan pokok lainnya dilepaskan ke mekanisme pasar.
Tertibkan Dana Non Budgeter Bulog
Sayangnya ide Rizal yang bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan yang tak terbatas pada beras lewat Bulog, kandas.
Baca Juga
Namun lewat komandonya di Bulog, pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berhasil menghapuskan rekening off-budget atau non budgeter, dan ditertibkan menjadi dana on-budget sehingga Bulog mencatatkan surplus pendapatan yang cukup tinggi saat itu. Di tangan Rizal pula penyederhanaan dan konsolidasi rekening-rekening Bulog yang sebelumnya berjumlah 117 rekening, ditertibkan menjadi hanya 9 rekening saja.
Rizal Ramli juga disebut-sebut sebagai peletak dasar proses restrukturisasi yang mempersiapkan Bulog menjadi sebuah Perusahaan Umum (Perum).
Masa tugasnya memang tak lama di Bulog, tercatat Rizal hanya menjabat selama 15 bulan. Ia harus cabut dan digantikan Widjanarko Puspoyo pada 19 Desember 2001. Masa jabatannya yang singkat, cukup membuat Bulog menjadi lembaga yang akuntabel, kendati membawa dampak pemanggilan sejumlah pejabat tinggi dan tokoh partai yang harus mempertanggungjawabkan penggunaan dana Bulog di muka hukum akibat aksi bersih-bersih Rizal Ramli.
Selepasnya dari Bulog, tak berarti Rizal nganggur, sejumlah jabatan kembali dipercayakan Gus Dur kepada pendiri Komite Bangkit Indonesia ini.
Pada 23 Agustus 2000, Presiden KH Abdurrahman Wahid melantiknya menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri. Tak lama, sekitar 10 bulan menjabat, ia diberhentikan dari jabatan tersebut karena Gus Dur memberikan penugasan baru buat Rizal Ramli untuk menjadi Menteri Keuangan pada 12 Juni 2001.
Tugasnya sebagai Menteri Keuangan pun dijalani relatif hanya setahun, hingga 23 Juli 2001. Ia berhenti menjadi Menteri Keuangan berbarengan dengan dimakzulkannya Gus Dur sebagai Presiden RI ke-4 oleh DPR RI, dan digantikan oleh Megawati Sukarnoputri.
Rajawali Ngepret
Lama berada di luar lingkaran kekuasaan, Rizal kembali mendapatkan kepercayaan dari Presiden Joko Widodo di periode pertama pemerintahannya. Saat itu ia didapuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Indonesia menggantikan Indroyono Soesilo saat reshuffle kabinet di 12 Agustus 2015.
Lagi-lagi gaya aktivisnya masih melekat pada dirinya sebagai seorang birokrat. Saat itu ia mulai memperkenalkan frase ‘Rajawali Ngepret’, yang sejatinya berawal dari julukan sahabatnya Adhie Massardi, yang juga sempat menjadi juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid.
“Saya bawa angin dari luar yang kenceng ke dalam agar bawa perubahan. Ini theory of change," kata Rizal saat berbincang dengan sejumlah pemimpin redaksi di Istana Negara, medio Agustus 2015 silam usai ditunjuk sebagai Menko (19/8/2015).“Ini rajawali ngepret,” tegasnya.
Tak kurang sesama kolega di kabinet harus menerima ‘kepretan’ Rizal yang tak kehilangan semangat kritisnya. Sri Mulyani salah satunya yang sempat mendapat kritik pedas atas kinerja pembiayaan APBN yang dianggap Rizal terlalu mengandalkan utang.
Baca Juga
Bahkan ia sempat ‘berselisih’ dengan Wakil Presidan Jusuf Kalla yang saat itu mendampingi Joko Widodo di periode pertamanya menjabat sebagai Presiden. Risal menyoroti proyek pengadaan pembangkit listrik 35 GigaWatt yang ditengarai bakal mengakibatkan over supply listrik, dan akan menenggelamkan perusahaan penyedia setrum nasional PT PLN ke dalam gundukan utang masif.
Saat masih menjabat sebagai Menko Bidang Maritim dan Sumber Daya Indonesia, ia menyempatkan diri berkunjung ke sebuah kantor media massa di bilangan Jl Gatot Subroto. Saat itu ia sempat menjabarkan sejumlah programnya untuk menekan tingkat biaya logistik nasional yang masih relatif tinggi. Saat itu, ia kembali menegaskan bahwa setiap kebijakan yang bertentangan dengan kemaslahatan bangsa dan orang banyak, tak akan lepas dari kepretan sang Rajawali.
Wafat setelah Jalani Sebulan Perawatan di Rumah Sakit
Pada Selasa, 6 Januari 2024, datang kabar duka yang menyebutkan telah wafatnya sang Rajawali Ngepret. Setelah selama sebulan menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rizal menutup mata selamanya pada pukul 19.30 WIB.
"Telah berpulang, bapak/kakek/mertua kami, Rizal Ramli pada tanggal 2 Januari 2024 pukul 19.30 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Kami segenap keluarga memohon maaf jika ada kesalahan beliau selama hidupnya," demikian pesan singkat yang berdar di kalangan pegiat media.
Kabar duka ini membuat para koleganya hingga orang-orang yang pernah berseberangan dengan dirinya terhentak. Betapapun pedasnya ucapan sang Rajawali, sebuah upaya membangun pemerintahan dan tata kelola yang akuntabel, itu sesungguhnya yang dipahami sebagai tujuan ‘ceriwisnya’ Rizal Ramli.
Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang hadir di rumah duka di Jl. Bangka IX no 49R, Jakarta, Rabu (3/1/2024), mengenangnya sebagai sosok pemikir, aktivis yang aktif mengutarakan pendapatnya,dan tetap konsekuen kendati berada di dalam pemerintahan. “Beliau ini seorang pemikir dan aktivis artinya mengambil upaya berdasarkan pemikiran konsekuen selama 2 tahun di pemerintahan,” ujar Jusuf Kalla, yang mengakui bahwa ia kerap berbeda pendapat dengan almarhum saat hidupnya.
Walaupun beberapa kali berbeda pendapat, ia mengatakan bahwa mereka tetap bersahabat. “Beliau menggantikan saya sebagai ketua bulog. Selama pemerintahan sering beda pendapat tapi tetap bersahabat,” tegasnya.
Sementara itu Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia , mengungkapkan rasa kehilangannya pada tokoh yang ia anggap visioner. Rizal Ramli menurutnya senantiasa memperjuangkan pemikiran yang antimainstream dan selalu menimbulkan diskusus menarik.
“Kehilangan seorang tokoh bangsa, seorang tokoh sejati yang memperjuangkan apa pemikiran ekonomi yang berpihak kepada rakyat,” tutur Sandi.
Ungkapan senada juga disampaikan mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, yang mengenang Rizal Ramli sebagai ‘Men With Principle’
“Beliau adalah men with principle. Kalau orang mengatakan Pak Rizal oposan, oposan sejak mahasiswa. On and off dalam pemerintah. Tapi sikap beliau konsisten. Mengekspresikan pandangan yang kadang-kadang saya banyak perbedaan dengan beliau,” urainya.
Namun Sofyan menyebut Rizal Ramli telah memberikan peran yang sangat besar kepada bangsa Indonesia sebagai tokoh pergerakan mahasiswa, ahli ekonomi, dan politisi. “Ia telah meninggalkan prinsip yang baik, dengan tetap tegas dengan pendiriannya untuk mengungkapkan kebenaran dan keadilan,” kenang Sofyan.
Rizal Ramli akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada Kamis, 4 Januari 2023 jam 11.00 WIB. Saat tulisan ini diturunkan, pihak keluarga masih menunggu kehadiran salah satu putri almarhum yang sedang dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat.
Selamat Jalan ‘Rajawali Ngepret’.

