Sumpah Pemuda Kekinian, Miningkatkan Transparancy dan Profesionalisme untuk Ketahanan RI
Poin Penting
|
Oleh: Edi Permadi
INVESTORTRUST.ID - 98 tahun yang lalu, pemuda-pemudi dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul untuk menyatukan visi pertumpahan darah, bangsa, dan bahasa yang satu, yakni Indonesia. Perjuangan mereka saat itu bersifat fisik dan struktural—melawan kolonialisme demi sebuah kemerdekaan. Namun, hari ini, di tengah lanskap ekonomi global yang bergerak cepat, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mengubah peta kerja, dan kompleksitas pasar finansial, tantangan generasi muda telah bergeser. Musuh utama kita hari ini tidak lagi kasatmata.
Mereka bersembunyi di balik ruang-ruang gelap minimnya transparansi (transparency), runtuhnya rasa saling percaya (trust), serta maraknya praktik korupsi dan manipulasi pasar.
Sebagai bangsa, kita tidak boleh menutup mata terhadap realitas pahit. Skor Indeks Persepsi Korupsi (CPI) kita yang masih mengalami stagnasi dan fluktuasi di angka 34 adalah sebuah alarm keras. Lebih dekat lagi ke dapur perekonomian kita, pasar modal Indonesia belakangan ini diguncang isu tata kelola dan transparansi kepemilikan yang berujung pada sanksi berat bagi sejumlah emiten.
Dampaknya tidak main-main, dari hilangnya dana publik hingga ancaman penurunan status pasar saham kita oleh lembaga indeks global, seperti MSCI. Ketika manipulasi perdagangan saham merajalela, yang menjadi korban pertama adalah kepercayaan investor publik dan masa depan ekonomi yang akan diwarisi oleh generasi muda.
Dalam refleksi Sumpah Pemuda kali ini, pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton atau bahkan korban dari rapuhnya ekosistem ini. Generasi muda harus mengambil alih kemudi perubahan. Di dalam buku biografi saya, Direktur di Usia 29 Tahun, saya merumuskan konsep filosofi kepemimpinan "7E" yang menurut saya sangat relevan untuk diadopsi oleh generasi muda dalam menghadapi tantangan integritas nasional ini:
Menyalakan Kembali Ethos (Etos Kerja) dan Keadilan
Etos kerja merupakan fondasi utama keberhasilan. Keberhasilan sejati tidak datang secara kebetulan atau lewat jalan pintas manipulatif, melainkan melalui kerja keras, ketekunan, dan kompetensi. Ketika generasi muda mengedepankan etos kerja yang sehat, kita sedang merestorasi iklim ekonomi yang adil, berbasis meritokrasi, dan bebas dari praktik patronase ilegal.
Baca Juga
Jelang Satu Abad Sumpah Pemuda, Kemenpora Dorong Revisi UU Kepemudaan
Menjaga Integritas dengan Ethics (Etika) yang Kokoh
Keberhasilan tanpa etika tidak akan bertahan lama. Etika adalah kompas moral yang menjaga integritas kita dalam setiap keputusan bisnis dan profesional. Di tengah badai manipulasi pasar modal, etika menuntut transparansi radikal seperti keterbukaan informasi pemilik manfaat (beneficial ownership) laporan keuangan emiten agar tidak ada ruang bagi kolusi kerah putih.
Mendorong Transparansi Melalui Effectiveness (Efektivitas) & Efficiency (Efisiensi)
Transparansi bukan sekadar formalitas kepatuhan administratif di atas kertas. Melalui pemanfaatan teknologi digital, pemuda harus mendorong sistem pengawasan publik yang efektif dan efisien. Efisiensi mencerminkan disiplin untuk bertindak cepat tanpa membuang waktu, sedangkan efektivitas memastikan target tata kelola yang bersih tercapai melalui jalur yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menguatkan Kolaborasi dengan Empathy (Empati)
Dalam menghadapi korupsi sistemik, tidak ada tempat untuk ego individu. Kita butuh super-team, bukan Superman. Pendekatan yang profesional harus dibalut dengan empati yang kuat untuk merangkul seluruh stakeholders. Melalui empati, generasi muda selaku investor ritel baru, pelaku usaha, dan regulator dapat membangun aliansi kolektif yang saling menjaga dan peduli terhadap perlindungan hak-hak investor publik.
Menjaga Diri dengan Prinsip Eling (Kesadaran Diri)
Eling adalah sebuah pengingat spiritual agar kita tetap membumi, tahu diri, dan tidak dibutakan oleh keserakahan (greed). Di pasar finansial yang dinamis, nilai eling memaksa kita untuk tetap rasional, menjauhi skema spekulasi ilegal, dan waspada terhadap godaan keuntungan instan hasil manipulasi pasar. Karena implementasi Pancasila sila pertama bagaimana kita memahami setiap saat Tuhan yang maha melihat memperhatikan kita semua.
Menjemput Keberkahan Melalui Doa Emak (Ibu)
Fondasi terakhir yang mengikat semua perjuangan ini adalah restu orang tua. Keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kehebatan individu, melainkan dari keberkahan dan doa seorang Ibu yang senantiasa menuntun langkah kita pada jalan yang benar dan jujur. Bisnis yang bersih dan tata kelola yang berintegritas dimulai dari nilai-nilai moral yang ditanamkan dari rumah.
Baca Juga
Jelang Hari Sumpah Pemuda, Yenny Wahid Titip Pesan Ini ke Generasi Penerus Bangsa
Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah komitmen untuk menyatukan tanah air. Sumpah Pemuda generasi hari ini harus menjadi ikrar bersama untuk membersihkan tanah air dari para parasit ekonomi. Perjalanan memperbaiki iklim transparansi dan menekan kejahatan pasar memang bukan perkara instan, tetapi guncangan domestik ini jauh lebih mudah diperbaiki jika kita memiliki komitmen bersama untuk merawat integritas melalui prinsip ini.
Mari jadikan momentum ini sebagai titik balik. Masa depan Indonesia ada di tangan generasi yang menolak berkompromi dengan manipulasi, menjunjung tinggi transparansi, dan berjuang keras mengembalikan kepercayaan dunia kepada bangsa ini. Selamat Hari Sumpah Pemuda.
*) Tenaga Profesional (Taprof) Bidang Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas)
