Sulaeman: Putra Lembata Mendunia, Saatnya Bersinergi Bangun Daerah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Lembata memiliki kekuatan sumber daya manusia yang tersebar di berbagai daerah hingga mancanegara. Potensi putra-putri Lembata lintas profesi tersebut perlu dipertemukan melalui komunikasi dan kerja sama yang produktif agar menjadi kekuatan nyata untuk membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pesan itu disampaikan anggota DPR sekaligus sesepuh masyarakat Lembata di Papua, H Sulaeman L Hamzah seusai acara syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Otonomi Lembata di Wisma Kemiri KWI, Jakarta Pusat, Minggu (11/10/2026).
Menurut Sulaeman, kekayaan Lembata tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan dan pengalaman masyarakatnya. Putra-putri daerah ini mengabdi dalam beragam bidang, mulai dari pemerintahan, pendidikan, dunia usaha, penelitian, jurnalistik, hingga pelayanan sosial dan keagamaan. Mereka berkarya di kampung halaman, berbagai wilayah Indonesia, serta luar negeri.
“Lembata menyimpan banyak orang potensial yang bisa saling mendukung dalam memajukan kampung halaman, lewotana, leu awuq. Potensi SDM ini tidak hanya menyebar di Lembata dan Nusa Tenggara Timur tetapi juga mancanegara. Ini modal sosial kita sebagai putra-putri Lembata,” ujar Sulaeman.
Baca Juga
Diaspora Asal Lembata Berduka atas Meninggalnya Doni Monardo
Peringatan usia otonomi, menurut dia, menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali semangat kebersamaan yang dahulu menggerakkan perjuangan pembentukan Kabupaten Lembata. Kemampuan di berbagai bidang dan jejaring yang dimiliki masyarakat Lembata merupakan bekal untuk melanjutkan cita-cita para perintis.
Sulaeman, yang turut mendukung perjuangan pembentukan Kabupaten Lembata dari tanah Papua, mengenang panjangnya perjalanan daerah tersebut hingga berpisah dari Kabupaten Flores Timur pada 1999. Perjuangan itu berakar pada aspirasi para tokoh lintas profesi yang melahirkan Statemen Tujuh Maret 1954, kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya.
Ia menyampaikan penghargaan kepada para perintis, di antaranya Petrus Gute Betekeneng, Stanis Lela Tufan, Mas Abdul Salam Sarabiti, dan Tuang Ambarak Bajaher. Gagasan serta kerja keras mereka menjadi bagian penting dari perjalanan menuju terbentuknya kabupaten definitif.
“Pada peringatan HUT ke-27 Otonomi Lembata tahun ini, kita semua memanjatkan puji dan syukur atas penyertaan Allah dalam seluruh kerja keras para tokoh Lembata,” kata Sulaeman.
Semangat syukur sekaligus tanggung jawab melanjutkan pembangunan juga disampaikan Pastor Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD, saat memimpin misa. Ia mengajak umat memaknai peringatan tersebut sebagai momentum untuk merefleksikan perjalanan daerah dan memperbarui komitmen membangun tanah kelahiran.
Menurut imam kelahiran Udak, Nubatukan, Lembata itu, keberhasilan memperoleh otonomi merupakan buah doa, ketekunan, dan perjuangan para pendahulu yang dituntaskan oleh generasi penerus. Karena itu, seluruh putra-putri Lembata, di mana pun berada, perlu mengambil bagian dalam pembangunan sesuai kemampuan masing-masing.
“Perayaan syukur ini sekaligus menjadi momentum merefleksikan perjalanan daerah dan kerja keras pemerintah daerah, masyarakat, dan semua putra-putri Lembata di mana saja berada untuk ambil bagian dengan caranya masing-masing bersama pemerintah daerah memajukan lewotana, leu awuq tercinta,” ujar Pastor Boli Ujan.
Ia menilai, selama 27 tahun menjadi kabupaten definitif, Lembata telah mencatat berbagai kemajuan. Namun, masih banyak hal yang perlu dibenahi dengan memperhatikan kemampuan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), disertai dukungan serta kerja sama masyarakat.
Dalam konteks itu, komunikasi yang produktif antara pemerintah daerah, warga, perantau, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting. Komunikasi tersebut diperlukan untuk mempertemukan kebutuhan daerah dengan potensi kontribusi putra-putri Lembata.
“Lembata membutuhkan kerja sama semua anak tanah, baik di kampung halaman maupun yang berada di rantau. Komunikasi antara pemerintah daerah dan anak-anak Lembata di daerah maupun di tanah rantau merupakan aspek penting yang mesti menjadi perhatian. Kita semua punya kewajiban dan tanggung jawab besar memajukan tanah kelahiran,” kata dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores, tersebut.
Perjuangan Panjang Otonomi Lembata
Praktisi hukum Petrus Bala Pattyona, SH, MH, turut mengingatkan otonomi Lembata lahir melalui perjuangan panjang. Aspirasi yang dirumuskan para tokoh melalui Statemen Tujuh Maret 1954 diteruskan oleh berbagai unsur masyarakat, termasuk kalangan birokrasi, politisi, dan guru, melalui komunikasi dari tingkat lokal hingga pemerintah pusat.
Menurut Bala Pattyona, keberhasilan tersebut memperlihatkan pentingnya ketekunan memperjuangkan tujuan bersama serta kemampuan membangun komunikasi lintas tingkat pemerintahan. Semangat yang sama dibutuhkan untuk menjawab tantangan pembangunan saat ini.
“Saat ini tugas pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh elemen bahu-membahu melanjutkan kerja keras dan komunikasi produktif dengan pemerintah provinsi dan pusat sehingga Lembata semakin maju,” ujarnya.
Aktivis perempuan Suzy Langotukan mengatakan, terbentuknya Lembata sebagai daerah otonom membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengurus daerahnya sendiri dengan bertumpu pada potensi yang dimiliki. Keberhasilan itu sekaligus membawa tanggung jawab bagi generasi penerus untuk mewujudkan cita-cita kesejahteraan.
Baca Juga
Kritik Sentralisasi Kewenangan, Senator Desak Penguatan Hak Otonomi Daerah
Suzy, yang kini tinggal di Palembang, Sumatera Selatan, menekankan kontribusi membangun Lembata dapat diberikan dari mana saja. Setiap putra-putri daerah memiliki ruang untuk terlibat sesuai keahlian, pengalaman, dan kemampuannya.
“Kita semua anak Lembata punya tanggung jawab besar bersama pemerintah daerah memajukan tanah leluhur kita dengan potensi masing-masing. Namun, satu aspek penting yaitu komunikasi intensif dan sinergi agar Lembata bergerak cepat sehingga lebih maju dan warganya semakin sejahtera,” kata Suzy.
Dari kalangan generasi muda, Norman Syaril Ladopurap melihat perjuangan pembentukan Kabupaten Lembata sebagai warisan nilai yang perlu terus dihidupkan. Kerja keras, konsistensi, dan semangat pantang menyerah para perintis menjadi pelajaran bagi anak muda dalam menekuni bidang apa pun.
“Nilai-nilai ini tentu menjadi warisan bagi kita semua generasi muda. Sekali lagi, Selamat Hari Ulang Tahun ke-27 Otonomi Lembata 2026. Semoga peringatan ulang tahun kali ini menjadi awal yang baik kita semua bersinergi memajukan tanah Lembata,” ujar Norman.
