Politeknik Cristo Re Merajut Mimpi
Oleh: Dr Ignatius Iryanto - Chief Operating Officer PT Triputra Edukasi Nusantara dan Wakil Direktur Operasional Politeknik Cristo Re–Keuskupan Maumere
INVESTORTRUST - Pada Jumat siang, 4 September 2026, Bupati Sikka Yuventus Prima Yoris Kago hadir dan memberikan motivasi kepada 126 mahasiswa baru Politeknik Cristo Re. Saya bersyukur dapat mengikuti pertemuan tersebut sekaligus mencatat sejumlah pesan penting yang disampaikan dan ditegaskan kembali oleh Bupati Sikka.
Sebagai seorang aktivis organisasi sejak muda, forum semacam itu tampaknya bukanlah sesuatu yang asing bagi Yuventus. Pertemuan tersebut seperti sebuah repetisi atau déjà vu baginya. Ia mampu membangun dinamika pertemuan dan menghadirkan suasana yang menyentuh jiwa generasi muda yang sedang memulai perjalanan pendidikan mereka.
“Ijazah itu penting, tetapi yang lebih penting adalah karakter dan kompetensi kalian,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan Bupati Sikka. Pada zaman sekarang, menurut dia, perusahaan tidak lagi hanya bertanya mengenai ijazah dan indeks prestasi kumulatif seseorang. Perusahaan akan lebih dahulu melihat apa yang dapat dibuat, dilakukan, dikerjakan, dan diproduksi oleh calon tenaga kerja.
Setelah kompetensinya terbukti, karakter seseorang akan diamati. Karakter itulah yang ikut menentukan seberapa lama seseorang mampu bertahan di tempat kerja serta apakah ia layak dikembangkan dan bertumbuh bersama perusahaan. Penegasan itu memotivasi para mahasiswa baru untuk bangga menempuh pendidikan di Politeknik Cristo Re, sebuah lembaga pendidikan vokasi yang memang menempatkan keterampilan dan pembentukan karakter sebagai prioritas utama.
Pada bagian akhir pertemuan, Bupati Sikka menjelaskan kesempatan memperoleh beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Sikka melalui program “Satu Keluarga Miskin, Satu Sarjana”. Ia berpandangan, program tersebut akan memberikan manfaat yang lebih efektif apabila beasiswa diberikan kepada mahasiswa yang memiliki peluang segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Pilihan itu dinilai lebih produktif dibandingkan membiayai pendidikan mahasiswa yang kemudian harus menganggur cukup lama sebelum mendapatkan pekerjaan.
Ekosistem yang dibangun PT Triputra Edukasi Nusantara, yang menaungi Politeknik Cristo Re, menyediakan kesempatan tersebut melalui prinsip dan motto, “Kuliah singkat, cepat kerja.” Namun, ekosistem yang baik tetap harus dioptimalkan oleh mahasiswa sendiri melalui kerja keras, disiplin, dan sikap pantang menyerah.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sikka yang hadir bersama Bupati langsung berkoordinasi dengan Direktur Politeknik Cristo Re. Data mahasiswa dari keluarga miskin pun segera dikirimkan kepada tim Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sikka. Data tersebut terutama mencakup mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Sikka dan tergolong miskin, yakni berada pada desil 1 sampai dengan desil 5 berdasarkan standar yang saat ini digunakan pemerintah melalui data statistik nasional.
Para mahasiswa tentu menunggu dengan perasaan berdebar: apakah mereka akan dimasukkan dalam daftar penerima beasiswa “Satu Keluarga Miskin, Satu Sarjana”?
Pendidikan sebagai Penggerak Ekonomi Keluarga
Tujuan program tersebut sesungguhnya sangat jelas. Setiap keluarga miskin diharapkan memiliki seorang anak lulusan perguruan tinggi yang mampu menjadi motor penggerak ekonomi keluarga. Setelah memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang memadai, lulusan tersebut diharapkan dapat membantu saudara-saudaranya agar ikut mandiri.
Dalam konteks itu, penerima program tidak harus selalu diarahkan pada pendidikan universitas jenjang sarjana. Esensi program ini adalah pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Karena itu, pendekatan Bupati Sikka yang memprioritaskan mahasiswa dengan peluang lebih besar untuk segera bekerja merupakan pilihan strategis dan tepat, terutama bagi daerah tertinggal seperti sejumlah kabupaten di Flores. Semoga para bupati lainnya di Flores juga memiliki komitmen serupa.
Meskipun demikian, pilihan strategis tersebut tetap mempunyai kelemahan yang bersifat sistemik. Selama Flores belum memiliki industri yang memadai, tenaga-tenaga terampil yang dididik, dipersiapkan, dan dibantu melalui beasiswa akan terpaksa mencari pekerjaan di luar Sikka, di luar Flores, bahkan di luar Indonesia.
Mereka memang akan memperoleh pengalaman, penghasilan yang lebih baik, dan kesempatan berkembang di luar daerah. Namun, manfaat langsung bagi daerah asal hanya terbatas pada remitansi atau uang yang dikirimkan kepada orang tua dan keluarga. Anak yang berbakti tentu akan menggunakan kekuatan ekonominya untuk membantu perkembangan saudara-saudaranya. Kondisi itu tetap jauh lebih baik dibandingkan apabila mereka tidak memperoleh pekerjaan atau hanya mendapatkan pekerjaan lokal dengan upah sangat rendah seperti yang masih banyak terjadi saat ini.
Akan tetapi, pola tersebut tetap belum optimal bagi pengembangan daerah itu sendiri. Karena itu, saya ingin mengusulkan pola kerja sama yang dapat dibangun antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan vokasi agar manfaat yang diperoleh daerah menjadi lebih besar. Dalam konteks tulisan ini, Politeknik Cristo Re digunakan sebagai salah satu contoh lembaga pendidikan vokasi.
Kolaborasi Desa dan Politeknik Cristo Re
Beasiswa yang diberikan Pemerintah Kabupaten Sikka akan memberikan manfaat lebih optimal bagi daerah apabila pemilihan penerimanya tidak hanya didasarkan pada desil kesejahteraan, tetapi juga dikaitkan dengan potensi desa asal mahasiswa.
Apabila proses seleksi dilakukan jauh sebelum masa perkuliahan, setiap desa dapat terlebih dahulu memetakan potensi ekonomi yang dimilikinya. Desa-desa di Flores umumnya memiliki komoditas pertanian dan perkebunan, potensi perikanan, ataupun destinasi pariwisata. Potensi tersebut seharusnya menjadi salah satu dasar untuk menentukan program pendidikan yang akan ditempuh oleh anak-anak desa.
Untuk desa-desa pegunungan maupun pesisir yang memiliki potensi perkebunan, pertanian, atau perikanan, anak-anak dari desa tersebut dapat diberikan beasiswa untuk belajar pada Program Studi Teknik Mesin ataupun Program Studi Perawatan Mesin Otomotif. Sejak awal, mereka harus membawa misi untuk menciptakan mesin atau peralatan yang dapat digunakan dalam pemrosesan komoditas unggulan desanya.
Biaya pendidikan mahasiswa dapat ditanggung melalui program beasiswa Pemerintah Kabupaten Sikka. Sementara itu, biaya pembuatan tugas akhir—yang diarahkan untuk menghasilkan mesin-mesin berteknologi tepat guna bagi desa—dapat didukung melalui dana desa ataupun bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Dengan skema tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh ijazah. Ketika lulus, ia telah menghasilkan alat produksi yang memberikan nilai tambah bagi komoditas di desanya. Mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang otomotif dapat diberi tanggung jawab untuk merawat mesin-mesin tersebut, terutama mesin yang mempunyai komponen penggerak.
Pola serupa dapat diterapkan pada desa-desa yang memiliki potensi pariwisata. Anak-anak dari desa tersebut dapat dididik pada Program Studi Ekowisata dan dipersiapkan agar mampu mengembangkan desanya menjadi destinasi wisata. Mereka dapat mempelajari cara menata destinasi, membangun sistem pengelolaan, serta mempersiapkan tenaga pemandu bagi wisatawan yang berkunjung.
Semua kompetensi itu dilatih di Program Studi Ekowisata Politeknik Cristo Re. Biaya penelitian tugas akhir—baik yang berkaitan dengan pengembangan destinasi baru, manajemen pariwisata desa maupun penyiapan tenaga lokal sebagai pemandu wisata alam, budaya, religius, dan bahari—dapat didukung melalui dana desa. Adapun biaya perkuliahannya tetap berasal dari program beasiswa pemerintah kabupaten.
Melalui pola seperti ini, manfaat yang diperoleh daerah akan jauh lebih besar dibandingkan apabila para lulusan langsung bekerja di luar Flores dan kontribusinya bagi daerah hanya berupa pengiriman uang kepada orang tua atau keluarganya.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa setelah lulus, mahasiswa tetap ingin bekerja di luar Flores. Untuk mengantisipasinya, sejak awal dapat dibuat perjanjian antara mahasiswa dan pemerintah desa atau pemerintah daerah. Penerima beasiswa diwajibkan mengabdi dan bekerja di desa selama jangka waktu tertentu sebelum diperbolehkan bekerja di luar Flores atau Nusa Tenggara Timur.
Politeknik Cristo Re sendiri tentu harus menyediakan fasilitas penelitian dan produksi serta sumber daya manusia yang andal untuk mendukung kolaborasi tersebut. Realisasinya tentu tidak semudah menuliskan gagasan ini. Namun, kita tidak akan pernah beranjak maju apabila tidak berani memulai sebuah terobosan, meskipun di dalamnya selalu terdapat risiko kegagalan.
Menghadirkan Industri di Flores
Terobosan kedua yang dapat dilakukan ialah menghadirkan industri pengolahan komoditas berskala menengah di bumi Flores. Ini bukan pekerjaan rumah yang mudah karena industri hanya akan masuk apabila model bisnisnya jelas, sumber daya manusia terampil tersedia, dan pasokan energi listrik yang memadai serta stabil dapat dijamin.
Tanpa prasyarat tersebut, Flores hanya akan terus bermimpi mengenai kehadiran industri tanpa pernah mampu merealisasikannya. Kita dapat melatih tenaga kerja, menciptakan berbagai keterampilan, dan menghasilkan lulusan yang kompeten. Namun, tanpa ekosistem industri, sebagian besar tenaga terampil itu akan tetap terserap oleh daerah atau negara lain.
Pendidikan vokasi karena itu harus berjalan beriringan dengan kebijakan investasi, pembangunan energi, pengembangan komoditas, dan penciptaan industri. Pemerintah daerah tidak cukup hanya memberikan beasiswa. Pemerintah juga harus membangun kondisi agar pengetahuan dan keterampilan para penerima beasiswa dapat digunakan untuk menciptakan nilai tambah di daerahnya sendiri.
Belajar dari Cabo Verde
Langkah ketiga dapat dipilih apabila gagasan pertama dianggap terlalu sulit dan langkah kedua belum dapat dilaksanakan, misalnya karena belum ada kepastian mengenai sumber energi yang stabil dan memadai. Pilihan tersebut adalah mempersiapkan dan mengirimkan anak-anak Flores untuk bekerja di luar negeri secara terencana, terampil, aman, dan bermartabat.
Menurut data yang saya peroleh dengan bantuan kecerdasan buatan, Cabo Verde—negara yang mencuri perhatian dunia melalui Piala Dunia 2026—berpenduduk sekitar 530.000 jiwa dan memiliki luas sekitar 4.033 kilometer persegi. Negara kepulauan yang terdiri atas 10 pulau utama tersebut mengandalkan pariwisata, perdagangan, transportasi, dan terutama remitansi dari komunitas diaspora Cabo Verde yang bekerja di luar negeri. Bahkan, warga Cabo Verde yang hidup di luar negeri disebut lebih banyak daripada warga yang tinggal di negaranya sendiri.
Cabo Verde memiliki sejumlah kemiripan dengan Flores. Keduanya merupakan wilayah kepulauan vulkanik, memiliki penduduk yang mayoritas beragama Katolik, sama-sama menyimpan jejak peradaban Portugis, dan masyarakatnya mempunyai kecenderungan kuat untuk merantau serta bekerja di luar daerah.
Penduduk Flores sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan penduduk Cabo Verde. Luas Pulau Flores sendiri mencapai sekitar 14.300 kilometer persegi. Angka itu belum mencakup pulau-pulau lain di sekitarnya, seperti Lembata, Adonara, Solor, Pemana, Palue, serta berbagai pulau di wilayah Ende dan kawasan lainnya. Secara keseluruhan, wilayah tersebut jauh lebih luas daripada Cabo Verde.
Apabila kita menolak penyediaan energi yang memadai, tidak mampu mendorong fase industrialisasi di Flores, atau belum dapat mewujudkan keduanya, kita masih mempunyai pilihan untuk mempelajari pola Cabo Verde. Tentu Flores bukan sebuah negara dan saat ini juga bukan satu provinsi tersendiri. Namun, seluruh wilayah di Flores dan pulau-pulau sekitarnya dapat bersama-sama merancang kemajuan sebagai satu kawasan. Salah satu jalannya ialah mendorong sebanyak mungkin warga Flores agar mampu bekerja di luar negeri.
Pilihan itu pun membutuhkan kerja keras bersama. Selama ini, kekatolikan masyarakat Flores dan semangat untuk merantau telah diwujudkan antara lain dalam kesediaan menjadi misionaris Katolik di berbagai negara. Hal tersebut jelas membanggakan. Namun, menurut saya, itu belum cukup. Kita juga perlu mendorong keberanian kaum awam untuk membentuk diaspora Flores yang bekerja secara profesional di berbagai negara.
Jaringan biara yang memiliki misionaris di berbagai negara dapat memainkan peran besar dalam mempersiapkan kaum awam. Setidaknya terdapat dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, mendirikan pusat-pusat pelatihan bahasa asing sesuai dengan negara asal ataupun wilayah pelayanan tarekat dan biara yang berada di Flores. Kedua, membantu membuka jaringan peluang kerja di negara-negara tersebut.
Program itu dapat dilaksanakan melalui kerja sama antara keuskupan di negara tujuan dan keuskupan-keuskupan di Flores. Apabila tersedia dukungan pendanaan, dapat dibangun kampung-kampung bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Italia, dan Mandarin di berbagai kabupaten di Flores. Kampung-kampung tersebut perlu dirancang agar menghadirkan suasana budaya negara tujuan dan menyelenggarakan pembelajaran bahasa secara intensif.
Di berbagai daerah saat ini telah berdiri kampung Inggris yang difungsikan sebagai pusat pembelajaran bahasa. Dengan jaringan misionaris internasional yang dimilikinya, Flores semestinya mampu melakukan lebih daripada itu.
Apakah gagasan tersebut terdengar sulit? Saya yakin tidak. Persoalannya tinggal apakah kita sungguh-sungguh mau menjalankannya. Sudah pasti dibutuhkan waktu, tenaga, dan ketekunan. Namun, anggaplah hal tersebut sebagai salib kecil yang harus dipikul. Upaya ini juga dapat ditempatkan dalam konteks pengiriman “misionaris awam” Flores ke berbagai penjuru dunia, melengkapi kehadiran para misionaris klerus yang selama ini telah disumbangkan Flores bagi Gereja Katolik universal.
Mimpi tersebut telah ada dan sedang coba dirajut di Politeknik Cristo Re. Dua langkah yang berada dalam jangkauan langsung Cristo Re adalah mengasah kompetensi mahasiswa dan membina karakter mereka. Sementara itu, ekosistem yang memungkinkan para lulusan bekerja di luar Flores dan di luar negeri tengah dipersiapkan oleh PT Triputra Edukasi Nusantara.
Gerakan ini akan menjadi jauh lebih kuat apabila ditopang oleh kolaborasi internal di Flores, baik melalui jaringan misionaris yang berbasis di berbagai biara maupun melalui jaringan pemerintah daerah. Perguruan tinggi vokasi, desa, pemerintah kabupaten, gereja, dunia usaha, dan masyarakat harus bergerak dalam arah yang sama.
Beasiswa jangan berhenti pada pembiayaan kuliah. Pendidikan jangan berhenti pada pemberian ijazah. Kompetensi harus bertemu dengan potensi desa, investasi harus bertemu dengan ketersediaan tenaga terampil, dan jaringan internasional Gereja harus ikut membuka jalan bagi diaspora profesional Flores.
Semoga mimpi ini tidak hanya dirajut, tetapi benar-benar mampu kita realisasikan secara bersama-sama. Amin.***
