El Nino, Pembakar Bayaran, dan Seni "Merampok" Lewat Pengadilan
"Kebakaran hutan itu bukan sekadar bencana ekologis, namun strategi akuisisi bisnis yang brilian, licik dan berbalut hukum".
Oleh: Sudarsono Soedomo - Guru Besar Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan dan LIngkungan IPB University
INVESTORTRUST - Musim kemarau datang, El Nino menengok dengan senyum jahilnya, dan kita pun kembali memasuki ritual tahunan bangsa ini: menyalahkan kelapa sawit. Setiap kali langit berubah warna menjadi oranye estetik (namun menyesakkan paru-paru), narasi tunggal yang siap disajikan kepada publik sudah tercetak di kepala: ada petani nakal yang membuka lahan, atau korporasi serakah yang membakar hutan demi profit. Ujung-ujungnya? Sawit lagi, sawit lagi. Si tanaman penghasil minyak goreng ini seolah menjadi kambing hitam abadi, lebih sering disalahkan daripada politisi yang janji kampanyenya menguap begitu saja.
Namun, izinkan saya mengajak Anda masuk ke dalam ruang gelap paranoia saya. Mungkin, hanya mungkin, kita semua sedang ditonton oleh sebuah sandiwara yang lebih rumit dari sinetron azab.
Saya punya kecurigaan yang agak "liar". Di balik asap tebal yang mengira kita semua batuk, ada profesi yang jarang dibicarakan di universitas manapun: pembakar profesional. Bayangkan mereka seperti hitman, tetapi alih-alih membawa senapan, mereka membawa korek api angin dan peta koordinat GPS. Mereka bukan petani miskin yang butuh lahan, melainkan "seniman" api yang dibayar mahal untuk memastikan kebun sawit tertentu—yang kebetulan sedang "menghalangi" kepentingan pihak lain—berubah menjadi arang dalam semalam.
Triknya jenaka namun mematikan. Setelah api padam dan korporasi pemilik lahan masih sibuk memijat pelipis karena stres, petugas pemerintah datang bak pahlawan kesiangan. Mereka membawa alat ukur dan kalkulator sakti. Di sinilah senjata pamungkas itu dihunus: Strict Liability atau asas tanggung jawab mutlak. Dalam hukum lingkungan kita, Anda tidak perlu repot-repot membuktikan siapa yang menyalakan korek api. Yang terbakar kebun Anda? Anda bayar. Titik. Tidak perlu sidik jari, tidak perlu saksi mata, cukup lihat asap, lalu tagih denda.
Masalahnya, metode penghitungan kerugian lingkungan ini seringkali masuk ke ranah fiksi ilmiah. Cara menghitung nilai ekonomi dari seekor nyamuk yang hangus, atau nilai emosional dari lumut yang gosong, seringkali dibuat dengan rumus yang membuat Einstein pun akan menggaruk kepala. Angkanya fantastis, tidak masuk akal, dan lebih besar dari PDB negara kecil di Pasifik.
Lalu, kita sampai pada babak paling dramatis: Pengadilan. Bayangkan posisi hakim yang malang ini. Mereka duduk di kursi empuk, tapi keringat dingin mengucur deras. Di satu sisi, ada gugatan dengan angka yang ngawur. Di sisi lain, ada tekanan publik dan aktivis yang siap viral.
Hakim menjadi serba salah. Jika ia menolak gugatan yang tidak masuk akal itu, ia takut dituduh disuap oleh tergugat (baca: korporasi sawit). Label "pro-pembakar hutan" siap disematkan. Namun, jika ia mengabulkan gugatan dengan nominal triliunan rupiah yang jelas-jelas dibuat dari kristal bola, hati nuraninya akan memberontak. Ia tahu itu tidak adil, ia tahu angkanya karangan, tetapi ia takut pada bayang-bayang dirinya sendiri di media sosial.
Akhirnya, keputusan pun diambil. Korporasi tergugat dihukum membayar ganti rugi yang nilainya bisa untuk membeli satu pulau pribadi. Tentu saja, korporasi tidak punya uang sebanyak itu. Mereka bangkrut. Aset disita, operasional lumpuh, dan karyawan pulang membawa kardus bekas.
Dan di sinilah plot twist yang sesungguhnya terjadi. Saat perusahaan terlunta-lunta di ambang kebangkrutan, muncullah "kuda putih". Entah itu kompetitor yang tiba-tiba baik hati, atau investor asing yang kebetulan sedang liburan di dekat lokasi kebakaran. Mereka datang dengan tawaran hostile takeover atau pengambilalihan paksa atas aset yang harganya kini jatuh seharga kacang goreng.
Jadi, kebakaran hutan itu bukan sekadar bencana ekologis, kawan. Itu adalah strategi akuisisi bisnis yang brilian, licik, dan berbalut hukum. Api yang menyala bukan hanya membakar biomassa, tapi juga membakar pesaing bisnis agar bisa dibeli murah.
Maka, musim kemarau depan, jika Anda melihat asap lagi, jangan hanya memakai masker. Pakailah kacamata X-ray. Siapa tahu di balik kobaran api itu, Anda bisa melihat sosok berpakaian rapi yang sedang tersenyum sambil memegang dokumen merger dan akuisisi, sambil berbisik, "Terima kasih atas lahannya, bro."
