Benarkah FIFA Merampok Kemenangan Mesir?
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu
“Dalam sepak bola modern, gol bisa dihitung oleh teknologi. Tetapi kepercayaan publik tidak pernah bisa dihitung oleh VAR.”
JAKARTA, Investortrust.id — Peluit panjang di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, seharusnya menandai berakhirnya sebuah pertandingan sepak bola. Namun, bagi jutaan penonton di seluruh dunia, laga Argentina melawan Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 justru menjadi awal dari perdebatan panjang: benarkah Mesir dirampok?
Media sosial segera dipenuhi potongan video. Tayangan ulang diperlambat. Para mantan pemain, analis, hingga penggemar saling berdebat. Tagar tentang “Mesir dirampok” dan “FIFA ingin Messi bertahan” menyebar ke berbagai platform. Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang menang. Yang dipersoalkan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: apakah pertandingan berlangsung secara adil?
Secara statistik, Argentina sebenarnya tampil dominan. Tim Tango melepaskan 17 tembakan, tujuh di antaranya tepat sasaran. Mesir hanya mencatat empat tembakan, dengan dua mengarah ke gawang. Argentina juga unggul dalam penguasaan bola, 58 persen berbanding 42 persen, serta mencatat 599 operan dengan akurasi 91 persen. Mesir membukukan 337 operan dengan akurasi 83 persen. Argentina juga memperoleh enam tendangan sudut, sementara Mesir tidak mencatat satu pun sepak pojok. Dari sisi disiplin, Argentina melakukan 13 pelanggaran tanpa kartu kuning, sedangkan Mesir melakukan 10 pelanggaran dan menerima empat kartu kuning.
Baca Juga
Wow! Hadiah Juara Piala Dunia 2026 Tembus Rp815 Miliar, Begini Rinciannya
Namun, sepak bola tidak dimenangkan oleh statistik. Sepak bola dimenangkan oleh gol. Dan selama hampir 80 menit, tim yang unggul justru Mesir. Youssef Ibrahim membawa Mesir memimpin pada menit ke-15. Mostafa Ziko kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-67. Pada titik itu, publik mulai percaya bahwa salah satu kejutan terbesar Piala Dunia 2026 sedang terjadi.
Kontroversi bermula ketika Mesir, yang sudah unggul dua gol, kembali menjebol gawang Argentina. Stadion bergemuruh. Para pemain Mesir merayakan gol yang diyakini memperlebar keunggulan mereka. Namun beberapa saat kemudian, VAR memanggil wasit. Setelah pemeriksaan cukup lama, gol itu dianulir karena dinilai terjadi pelanggaran terhadap bek Argentina pada awal fase serangan. Secara teknis, Laws of the Game memang memberi kewenangan kepada VAR untuk meninjau seluruh attacking phase of play sebelum sebuah gol tercipta. Jika ditemukan pelanggaran dalam rangkaian serangan tersebut, gol dapat dibatalkan, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai laporan media internasional, termasuk Reuters.
Persoalannya bukan semata-mata soal aturan. Banyak mantan pemain dan analis mempertanyakan konsistensi penerapan aturan tersebut. Menurut mereka, kontak fisik yang dijadikan alasan pembatalan gol sangat ringan dan merupakan duel yang lazim terjadi dalam sepak bola. Di sisi lain, pada pertandingan lain sepanjang Piala Dunia, insiden serupa sering kali tidak dianggap sebagai pelanggaran.
Kontroversi kedua bahkan lebih mengundang kemarahan. Menjelang akhir pertandingan, salah seorang pemain Mesir dijatuhkan di dalam kotak penalti Argentina. Para pemain Mesir langsung meminta penalti. Tayangan ulang televisi menunjukkan adanya kontak fisik yang cukup jelas sehingga banyak pihak berharap VAR setidaknya meminta wasit meninjau monitor di pinggir lapangan. Tetapi itu tidak terjadi. Wasit mempersilakan pertandingan terus berjalan.
Beberapa detik kemudian, Argentina melancarkan serangan balik cepat. Bola berpindah dari daerah pertahanan menuju lini depan hanya dalam hitungan detik. Serangan itu berakhir dengan gol kemenangan Argentina. Cristian Romero lebih dulu memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79. Lionel Messi menyamakan kedudukan pada menit ke-83. Enzo Fernández lalu memastikan kemenangan dramatis Argentina pada masa tambahan waktu, menit ke-90+3. Skor akhir berubah menjadi Argentina 3, Mesir 2.
Di atas kertas, kemenangan itu akan dikenang sebagai salah satu comeback terbesar Argentina di era Messi. Namun, bagi banyak pendukung Mesir, cerita pertandingan tidak berhenti pada papan skor. Yang mereka ingat justru dua keputusan yang mengubah arah laga: gol yang dianulir dan penalti yang tidak pernah diberikan.
Bagi kubu Mesir, rasa frustrasi mencapai puncaknya. Pelatih Hossam Hassan secara terbuka menyatakan timnya diperlakukan tidak adil. Ia mempertanyakan mengapa VAR bekerja sangat teliti ketika menganulir gol Mesir, tetapi tidak digunakan dengan standar yang sama ketika timnya meminta penalti. Reuters melaporkan, Hassan bahkan mengatakan dirinya tidak ingin lagi menyaksikan sisa Piala Dunia karena merasa hasil pertandingan tersebut telah mencederai rasa keadilan.
Lalu muncul tuduhan yang jauh lebih besar. Sebagian penggemar beranggapan FIFA berkepentingan mempertahankan Argentina karena keberadaan Lionel Messi masih menjadi magnet terbesar turnamen. Mereka berargumen bahwa Messi adalah ikon sepak bola dunia, pemain yang mampu mendongkrak rating televisi, penjualan tiket, sponsor, hingga perhatian publik global.
Secara ekonomi, argumen itu memang mudah dipahami. Messi adalah salah satu atlet dengan nilai komersial terbesar dalam sejarah olahraga. Kehadirannya selalu meningkatkan nilai siaran televisi, trafik digital, penjualan merchandise, hingga pendapatan sponsor. Sulit dibantah bahwa FIFA, penyiar televisi, sponsor, dan penyelenggara memperoleh manfaat ekonomi apabila Messi terus melaju hingga babak-babak akhir turnamen.
Namun, apakah fakta ekonomi tersebut otomatis membuktikan adanya konspirasi? Jawabannya: tidak. Hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan FIFA mengintervensi wasit agar Argentina menang. Tidak ada dokumen, rekaman komunikasi, ataupun hasil investigasi independen yang mendukung tuduhan tersebut. Yang tersedia sejauh ini adalah rangkaian keputusan kontroversial yang memicu kecurigaan publik, bukan bukti adanya pengaturan pertandingan, sebagaimana juga menjadi catatan dalam pemberitaan media internasional seperti The Times of India.
Meski demikian, persepsi publik juga tidak boleh diabaikan. Dalam olahraga modern, integritas tidak hanya harus dijalankan, tetapi juga harus terlihat dijalankan. Ketika satu keputusan dianalisis secara mendalam melalui VAR sementara keputusan lain yang sama pentingnya tidak memperoleh perlakuan serupa, publik akan mempertanyakan konsistensi. Ketika jutaan orang melihat standar yang berbeda diterapkan dalam pertandingan yang sama, kepercayaan terhadap sistem perlahan terkikis.
Itulah persoalan sesungguhnya. Bukan semata-mata apakah gol Mesir sah atau tidak. Bukan pula semata-mata apakah insiden terhadap pemain Mesir benar-benar layak diganjar penalti. Persoalan terbesar adalah konsistensi.
VAR diperkenalkan FIFA untuk mengurangi kesalahan manusia. Namun teknologi hanya akan memperkuat kepercayaan apabila digunakan secara konsisten. Sebaliknya, bila penerapannya dianggap selektif, teknologi justru memperbesar kontroversi. Dalam kasus Argentina melawan Mesir, teknologi tidak cukup meredam amarah. Justru, ia membuka ruang lebih besar bagi kecurigaan.
Sepak bola hidup karena kepercayaan. Penonton rela menghabiskan waktu berjam-jam karena percaya hasil pertandingan ditentukan oleh kemampuan pemain, bukan oleh preferensi wasit atau kepentingan komersial. Karena itu, setelah pertandingan Argentina melawan Mesir, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Argentina pantas lolos.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah FIFA telah melakukan segala sesuatu untuk memastikan publik percaya bahwa kemenangan itu benar-benar lahir dari lapangan hijau. Sebab dalam olahraga, seperti juga dalam pasar keuangan dan demokrasi, kepercayaan adalah aset yang paling berharga. Sekali kepercayaan itu retak, kemenangan sebesar apa pun akan selalu dibayangi tanda tanya.
“Apa boleh buat. Sejarah hanya akan mencatat Argentina menang 3-2 atas Mesir meski sejarah juga mengajarkan bahwa bukan hanya skor yang menentukan kebesaran sebuah turnamen.”*
Baca Juga
Anomali? Negara Eropa Mendominasi Piala Dunia di Luar Benuanya
