Unsrat Perkuat Ketangguhan Pesisir Desa Aer Banua Lewat Program PKM BIMA 2026
Poin Penting
|
MINAHASA UTARA, investortrust.id – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) BIMA Tahun 2026 terus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan di kawasan pesisir. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Aer Banua, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Program pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada peningkatan ketangguhan masyarakat pesisir Desa Aer Banua terhadap ancaman banjir rob dan pasang, melalui penguatan edukasi masyarakat, pemanfaatan informasi spasial, serta penerapan tata guna lahan yang lebih adaptif.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi yang dipimpin oleh Dr. Ir. Verry Lahamendu, ST., MT. bersama anggota tim Ir. Sonny Tilaar, M.Si. dan Yosia Nico Wijaya, S.T., M.Eng. Dalam pelaksanaannya, tim bekerja sama dengan pemerintah desa, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), mahasiswa serta masyarakat Desa Aer Banua.
Baca Juga
Pakar Universitas Kyoto Beberkan Dinamika ESG dan Tantangan Pembiayaan Keberlanjutan Global
Menjawab Tantangan Wilayah Pesisir
Sebagai desa yang berada di kawasan pesisir, Desa Aer Banua memiliki potensi sekaligus kerentanan terhadap perubahan kondisi lingkungan. Ancaman banjir rob, pasang air laut, genangan, serta kebutuhan pengelolaan ruang pesisir secara adaptif menjadi beberapa persoalan yang perlu dihadapi secara bersama-sama.
Berdasarkan hasil identifikasi awal yang dilakukan tim, masyarakat masih membutuhkan penguatan pemahaman mengenai risiko banjir rob, sanitasi ketika terjadi genangan, serta strategi adaptasi ruang. Selain itu, tata guna lahan yang lebih berbasis pada kondisi dan data lokal menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung ketangguhan masyarakat.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, kegiatan PKM dilaksanakan melalui pendekatan pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam proses identifikasi masalah, penyusunan solusi, hingga penguatan kapasitas untuk keberlanjutan program.
Dari Sosialisasi hingga Penerapan Teknologi
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap melalui lima pendekatan utama, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program.
Kegiatan awal diawali dengan sosialisasi dan pemetaan pemahaman masyarakat mengenai risiko kawasan pesisir. Selanjutnya, masyarakat dan perangkat desa dilibatkan dalam proses survei lapangan, identifikasi titik rawan, serta pemetaan jalur aman dan akses yang dapat digunakan ketika terjadi kondisi darurat.
Hasil kegiatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sejumlah produk dan perangkat pendukung yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Produk utama yang dikembangkan meliputi peta kawasan rawan dan jalur aman, matriks skoring prioritas, standar operasional prosedur (SOP) dan flowchart, rambu jalur aman atau titik kumpul, serta logbook dan checklist pemantauan.
Peta rawan dan jalur aman menjadi salah satu instrumen penting karena disusun berdasarkan data lapangan dan verifikasi secara partisipatif. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut terlibat dalam proses penyusunan informasi mengenai kondisi lingkungannya sendiri.
Memperkuat Peran Masyarakat
Kegiatan pengabdian ini juga mendorong pembagian peran yang lebih jelas di tingkat masyarakat. Pemerintah desa, Satlinmas, BPD, dan masyarakat diharapkan dapat bekerja secara terkoordinasi dalam menghadapi potensi risiko di kawasan pesisir.
Melalui SOP dan flowchart yang disusun, masyarakat memperoleh panduan mengenai mekanisme peringatan, komunikasi, sanitasi darurat, serta pembagian peran dalam kondisi tertentu. Sementara itu, logbook dan checklist disiapkan untuk membantu pencatatan kejadian banjir rob, kondisi kerentanan, dan kesiapan masyarakat secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sekaligus menciptakan sistem sederhana yang dapat dijalankan secara mandiri oleh komunitas di Desa Aer Banua.
Capaian Program Terus Diperkuat
Hingga Agustus 2026, sejumlah tahapan kegiatan telah menunjukkan perkembangan yang positif. Kegiatan sosialisasi dan penyusunan baseline telah dilaksanakan, sementara pemetaan partisipatif, penyusunan matriks skoring prioritas, dan pengembangan sejumlah perangkat teknologi telah mencapai tahap pelaksanaan.
Beberapa produk utama seperti peta rawan-aman, matriks skoring, SOP dan flowchart, serta rambu jalur aman telah tersedia dan siap mendukung peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Sementara itu, proses pelatihan, evaluasi perubahan pengetahuan masyarakat, serta penyempurnaan logbook dan dokumentasi masih terus dilaksanakan.
Tim pelaksana juga mencatat bahwa keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program. Masyarakat semakin aktif dalam mengidentifikasi titik-titik rawan, menentukan jalur aman, dan memahami kebutuhan koordinasi antarwarga ketika menghadapi potensi banjir rob maupun pasang.
Menuju Desa Pesisir yang Tangguh
Ke depan, kegiatan PKM BIMA 2026 di Desa Aer Banua akan difokuskan pada penyelesaian sejumlah tahapan penting, termasuk validasi akhir peta dan perangkat pendukung, penguatan pelatihan, pelaksanaan evaluasi, serta penyusunan rencana aksi masyarakat.
Program ini juga diarahkan untuk membangun keberlanjutan dalam jangka panjang melalui penggunaan buku log rob, rapat berkala antarpenjaga atau kelompok terkait, pemutakhiran peta dan SOP, serta agenda pelatihan secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, perangkat masyarakat, dan warga, kegiatan PKM BIMA 2026 diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat pesisir yang lebih siap, adaptif, dan tangguh terhadap perubahan lingkungan.
Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Universitas Sam Ratulangi di Desa Aer Banua ini menjadi salah satu contoh bahwa pengembangan pengetahuan akademik dapat diterjemahkan menjadi solusi praktis yang langsung menjawab kebutuhan masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, Desa Aer Banua diharapkan mampu terus membangun kapasitas masyarakatnya menuju desa pesisir yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
Baca Juga
Humas Universitas Trisakti Asah Kemampuan Merangkai Narasi di Era AI
