Ekonom: Ekonomi Oke, Kepastian Hukum Masalah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga di kalangan ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi serta bisnis. Namun, keyakinan tersebut disertai catatan tentang kepastian hukum, daya beli masyarakat, kenaikan harga, dan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Ekonom senior sekaligus Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Prof Didik J Rachbini, mengungkapkan survei PP ISEI menunjukkan ekspektasi membaiknya perekonomian pada semester II-2026. Hasil tersebut berbeda dengan penilaian masyarakat dalam survei publik yang dikutipnya, yang memperlihatkan pandangan lebih negatif terhadap kondisi ekonomi nasional.
Baca Juga
Purbaya Proyeksikan Ekonomi Global Menguat pada 2027, Jamin Fundamental Indonesia Solid
Survei tahunan PP ISEI tersebut dilakukan secara daring dengan metode purposive sampling, yakni memilih responden berdasarkan kriteria tertentu. Survei ini melibatkan 4.012 responden berlatar belakang ekonomi dan bisnis, dengan hasil yang dipublikasikan dalam Sidang Pleno ISEI di Bogor, 26–28 Agustus 2026.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterima Investortrust.id, Kamis (27/08/2026), Didik menjelaskan indeks persepsi responden terhadap pertumbuhan ekonomi semester I-2026 berada pada angka 60. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen dipandang sebagai modal untuk mempertahankan momentum perekonomian nasional.
Optimisme itu meningkat untuk semester II-2026. Indeks persepsi terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut mencapai 62,3, lebih tinggi dibandingkan penilaian terhadap semester pertama. Kenaikan ini menunjukkan bahwa responden mengharapkan prospek pertumbuhan yang lebih baik dalam enam bulan berikutnya.
“Para ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi dan bisnis pada umumnya mempunyai persepsi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester I tahun 2026 ini,” ujar Didik dalam keterangan tersebut.
Keyakinan terhadap pertumbuhan juga ditopang penilaian positif atas kinerja perdagangan luar negeri. Indeks persepsi terhadap kinerja ekspor, yang dalam penjelasan Didik dinilai lebih tinggi dibandingkan impor, mencapai 60,3 pada semester I-2026. Untuk semester kedua, indeks tersebut meningkat menjadi 62,0.
Meski demikian, optimisme responden tidak merata pada seluruh aspek perekonomian. Didik menyebut responden masih menunjukkan keraguan terkait persoalan pengangguran dan inflasi. Kedua aspek tersebut menjadi catatan di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Berbeda dengan Persepsi Publik
Didik membandingkan hasil survei ISEI dengan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2026. Berdasarkan angka yang dikutip dalam keterangannya, sebanyak 49,4% responden SMRC menilai kondisi ekonomi nasional buruk atau sangat buruk. Sementara itu, hanya 15,7% yang menilai kondisi ekonomi baik atau sangat baik.
Menurut Didik, perbedaan latar belakang responden menjadi salah satu penjelasan atas kesenjangan hasil tersebut. Survei ISEI secara khusus menjaring kelompok dengan latar belakang ekonomi dan bisnis, sedangkan survei publik menjangkau masyarakat secara lebih luas dengan pemilihan responden secara acak.
Didik berpandangan bahwa pengetahuan ekonomi yang dimiliki responden ISEI membantu mereka membaca kondisi perekonomian secara lebih mendalam. Namun, kedua survei tersebut sama-sama mengukur persepsi. Perbedaan metode, karakteristik responden, dan cakupan pertanyaan perlu diperhatikan sebelum hasilnya dibandingkan secara langsung atau digunakan untuk menyimpulkan bahwa satu kelompok lebih tepat daripada kelompok lainnya.
Catatan Kepastian Hukum
Di tengah optimisme terhadap pertumbuhan, kepastian hukum menjadi salah satu sorotan utama. Indeks persepsi responden ISEI terhadap kepastian hukum tercatat sebesar 53,4. Didik menilai angka tersebut mencerminkan masih lemahnya keyakinan responden terhadap kemampuan pemerintah menjamin kepastian hukum dengan baik.
Menurut dia, catatan ini relatif sejalan dengan penilaian masyarakat terhadap penegakan hukum dalam survei SMRC yang dikutipnya. Sebanyak 26,4% responden menilai penegakan hukum berjalan baik atau sangat baik, sedangkan 37,6% menilai buruk atau sangat buruk. semeentara, terdapat 30,2% responden yang menilai kondisinya sedang.
Baca Juga
Pemerintah Pacu Transformasi Sektor Strategis, Bidik Pertumbuhan Ekonomi Menuju 8%
Kepastian hukum dengan demikian menjadi titik perhatian bersama, meskipun penilaian kedua kelompok responden terhadap kondisi ekonomi berbeda. Optimisme terhadap pertumbuhan belum sepenuhnya diikuti keyakinan terhadap kualitas kepastian hukum.
Secara keseluruhan, Didik menyimpulkan bahwa survei ISEI memperlihatkan ekspektasi positif terhadap perekonomian pada semester II-2026. Responden juga dinilai cukup percaya terhadap kemampuan pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia.
Namun, kepercayaan tersebut tetap dibayangi tantangan daya beli masyarakat, kenaikan harga pangan dan energi, serta defisit APBN. Pesan yang mengemuka dari survei ini adalah bahwa optimisme pertumbuhan masih kuat, tetapi persoalan yang memengaruhi kehidupan masyarakat dan kepastian berusaha tetap membutuhkan perhatian.
