SD Negeri Sepi Murid, Mendikdasmen Beberkan Tiga Penyebab Utamanya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkap tiga penyebab utama banyak sekolah dasar (SD) negeri kekurangan murid. Pemerintah pun mulai menyiapkan solusi komprehensif, termasuk opsi penggabungan (merger) sekolah yang memiliki jumlah siswa sangat sedikit.
Abdul Mu’ti mengatakan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mendata sekolah-sekolah yang memiliki kurang dari 60 hingga di bawah 100 murid. Kondisi tersebut terutama ditemukan pada jenjang SD dan SMP setelah pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
“Memang datanya cukup banyak. Yang dalam pengamatan kami, penyebabnya ada tiga,” kata Abdul Mu’ti di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga
Dirgayuza: Sekolah Rakyat Wujud Nyata Negara Memutus Rantai Kemiskinan
Menurut dia, penyebab pertama adalah semakin terbatasnya jumlah anak usia sekolah, khususnya pada jenjang SD. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor yang menyebabkan populasi anak usia sekolah terus menurun. “Yang pertama, memang ada keterbatasan jumlah anak usia sekolah, khususnya anak-anak SD. Penyebabnya tentu sangat kompleks, tetapi intinya keterbatasan jumlah anak usia sekolah,” ujarnya.
Penyebab kedua berasal dari banyaknya sekolah yang dibangun pemerintah pada masa program SD Inpres. Akibatnya, dalam satu desa terdapat lebih dari satu SD, sehingga jumlah sekolah dinilai terlalu banyak dibandingkan jumlah calon siswa. Penyebab ketiga adalah perubahan preferensi masyarakat. Menurut Abdul Mu’ti, banyak keluarga muda kini memilih menyekolahkan anak di sekolah swasta, karena dinilai memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik. “Sebagian orang tua menganggap belajar di swasta itu mutunya lebih baik. Walaupun harus membayar, mereka tidak ada masalah dengan bayaran,” katanya.
Baca Juga
Komisi X Minta Anggaran Pendidikan dan Makan Bergizi Gratis Dipisah Mulai 2027
Guna mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen telah memulai pembahasan dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) guna menyiapkan solusi yang komprehensif. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggabungan sekolah dengan jumlah murid yang sangat sedikit.
Namun, Abdul Mu’ti menegaskan, kebijakan tersebut tidak hanya menyangkut penggabungan sekolah, tetapi juga penataan tenaga pendidik. Karena itu, mekanisme mutasi guru perlu disiapkan secara matang agar tidak menimbulkan persoalan baru. “Kami sudah ada pembicaraan awal dengan Pak Mendagri untuk mencari solusi yang komprehensif. Paling tidak, nanti pada tahun ajaran baru tahun depan sudah ada keputusan mengenai bagaimana sekolah-sekolah yang muridnya sangat sedikit,” pungkasnya.
