Betel Mulele dan YPPGI: Jalan Besar dari Injil Menuju Masa Depan Papua Pegunungan
Oleh: Dr Yosua Noak Douw MA - Kader Muda Gereja di Tanah Papua
INVESTORTRUST – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-63 Gereja Kemah Injil Kingmi di Tanah Papua Jemaat Betel Mulele Wamena, Sabtu (25/7) bukan sekadar perayaan seremonial. Peristiwa ini merupakan momentum rohani untuk melihat kembali perjalanan panjang pelayanan Injil, pendidikan, dan pengabdian yang telah membentuk kehidupan masyarakat di Lembah Baliem dan berbagai wilayah Papua Pegunungan.
Enam puluh tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Di dalamnya terdapat doa, air mata, pengorbanan, kesetiaan, dan perjuangan banyak orang yang mungkin namanya tidak semuanya tercatat dalam dokumen sejarah. Namun, buah pelayanan mereka dapat kita lihat sampai hari ini.
Gereja Betel Mulele telah menjadi tempat di mana Injil diberitakan, manusia dibina, anak-anak dididik serta para pelayan dipersiapkan untuk pergi melayani masyarakat yang lebih luas. Karena itu, memperingati HUT Gereja Betel Mulele berarti mengenang sebuah perjalanan besar: perjalanan dari kegelapan menuju terang, dari keterisolasian menuju keterbukaan, serta dari keterbatasan menuju harapan.
Gereja Mula-Mula dan Jejak Pelayanan di Lembah Baliem
Gereja Betel Mulele dikenal sebagai salah satu gereja mula-mula di Lembah Baliem. Kedudukannya tidak hanya penting secara kelembagaan, tetapi juga memiliki makna historis dan rohani yang sangat mendalam. Gereja ini bertumbuh pada masa ketika pelayanan Injil dan pendidikan berjalan bersama-sama.
Para pelayan gereja pada masa itu memahami bahwa memberitakan Injil tidak cukup hanya melalui khotbah. Injil juga harus diwujudkan dalam pelayanan nyata: mengajar masyarakat membaca dan menulis, merawat orang sakit, mendampingi keluarga, serta membentuk manusia yang mampu melayani sesamanya.
Dari Gereja Betel Mulele, semangat pelayanan itu menyebar ke berbagai wilayah. Sejumlah guru, perawat, tenaga kesehatan, dan aparatur pemerintah diutus untuk mengabdikan diri di berbagai daerah yang sekarang menjadi bagian dari Papua Pegunungan.
Banyak di antara para pelayan dan tenaga pengabdi tersebut berasal dari Suku Mee, Papua Tengah. Mereka datang meninggalkan keluarga dan daerah asal untuk mengajar, merawat, membimbing, serta melayani masyarakat di kawasan pegunungan.
Pengabdian tersebut menunjukkan bahwa sejarah Papua tidak dibangun oleh satu suku, satu kelompok atau satu daerah saja. Papua dibangun melalui perjumpaan, persaudaraan, dan kesediaan untuk saling melayani.
Orang-orang yang datang sebagai guru, perawat, pelayan gereja, dan aparatur pemerintah bukan hanya membawa pengetahuan dan keterampilan. Mereka juga membawa harapan. Mereka membuka jalan agar anak-anak di pedalaman dapat mengenal pendidikan, mendapatkan pelayanan kesehatan, dan memiliki kesempatan membangun masa depan yang lebih baik.
YPPGI: Jalan Suci Pendidikan
Dalam perjalanan masyarakat Papua Pegunungan, Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja-Gereja Injili di Tanah Papua (YPPGI) memiliki tempat yang sangat penting. Bagi banyak masyarakat di wilayah pegunungan, sekolah-sekolah YPPGI merupakan pintu pertama untuk mengenal pendidikan formal. Ia jalan suci. Sekolah-sekolah di bawah yayasan itu hadir ketika fasilitas pemerintah masih sangat terbatas, akses transportasi sulit, dan tenaga pendidik sangat sedikit.
YPPGI tidak sekadar mendirikan bangunan sekolah namun merintis jalan suci bagi generasi muda. Jalan suci itu membawa anak-anak dari kampung menuju ruang kelas. Dari ruang kelas, mereka belajar membaca, menulis, menghitung, mengenal dunia, dan memahami bahwa mereka memiliki masa depan.
Dari sekolah-sekolah YPPGI kemudian lahir guru, pendeta, perawat, tenaga kesehatan, birokrat, politisi, akademisi serta berbagai tokoh masyarakat. Mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan di tanah Papua. Karena itu, YPPGI tidak sekadar dipandang sebagai yayasan pendidikan milik gereja. YPPGI adalah bagian dari sejarah peradaban Papua.
Sekolah-sekolah YPPGI telah menjadi jembatan antara pelayanan Injil dan pembangunan manusia. Di dalamnya, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter, disiplin, tanggung jawab, iman, dan semangat melayani.
Inilah alasan mengapa pembangunan dan penguatan sekolah YPPGI harus menjadi perhatian bersama. Ketika pemerintah membantu membangun ruang kelas, kantor sekolah, rumah guru, dan fasilitas pendidikan lainnya, yang dibangun sesungguhnya bukan hanya tembok dan atap. Yang sedang dibangun adalah masa depan manusia Papua.
Perhatian Pemerintah
Dalam perayaan HUT ke-63 Gereja Kingmi Jemaat Betel Mulele, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo menyampaikan perhatian dan komitmen pemerintah terhadap pembangunan gereja serta fasilitas pendidikan YPPGI. Komitmen tersebut patut disambut dengan rasa syukur dan apresiasi.
Pemerintah menyatakan dukungan terhadap pembangunan ruang kelas, ruang kantor sekolah, rumah guru, rumah pastori, dan berbagai fasilitas pelayanan gereja. Gubernur juga mengarahkan perangkat daerah terkait agar menyiapkan proses perencanaan, penganggaran, administrasi, dan pengukuran lahan.
Perhatian tersebut memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar pemberian bantuan. Dukungan kepada Gereja Betel Mulele dan pendidikan YPPGI, misalnya, merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah. Pemerintah sedang mengakui bahwa sebelum banyak lembaga negara hadir secara kuat di wilayah pegunungan, gereja dan sekolah-sekolah yayasan telah lebih dahulu melayani masyarakat.
Mereka hadir di tengah keterbatasan. Mereka berjalan kaki melintasi gunung dan lembah. Mereka tinggal bersama masyarakat. Mereka mengajar dengan fasilitas sederhana. Mereka merawat orang sakit dengan peralatan terbatas. Namun, mereka tetap bekerja karena memiliki iman dan panggilan pelayanan.
Karena itu, ketika pemerintah memberikan perhatian kepada gereja dan pendidikan, perhatian tersebut bukanlah tindakan memberi belas kasihan. Perhatian itu adalah pengakuan terhadap jasa sejarah dan investasi untuk masa depan.
Sebagai kader muda gereja, penulis menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada Gubernur Papua Pegunungan atas perhatian yang diberikan kepada Gereja Betel Mulele dan pendidikan YPPGI. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia Papua harus dimulai dari akar sejarah, iman, pendidikan, dan kebudayaan masyarakat itu sendiri.
Pembangunan Sekadar Gedung
Kita perlu memahami bahwa pembangunan gereja dan sekolah tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Gedung yang megah tidak akan memiliki arti apabila tidak diisi dengan pelayanan yang hidup. Ruang kelas yang baru tidak akan menghasilkan perubahan apabila tidak tersedia guru yang berkualitas, kurikulum yang baik, pengelolaan yang transparan, serta perhatian terhadap kebutuhan anak-anak.
Karena itu, pembangunan fasilitas harus diikuti dengan pembenahan manajemen pendidikan, peningkatan kualitas guru, penyediaan buku, penguatan kedisiplinan, dan perlindungan terhadap hak-hak peserta didik. Demikian juga dengan gereja. Pembangunan rumah ibadah dan rumah pastori harus diikuti dengan penguatan pelayanan rohani, pembinaan keluarga, pelayanan anak dan pemuda, serta keberpihakan kepada masyarakat yang lemah.
Gereja tidak boleh hanya ramai pada hari Minggu. Gereja harus hadir sepanjang minggu dalam pergumulan masyarakat. Gereja harus menjadi tempat orang menemukan pengharapan. Sekolah harus menjadi tempat anak-anak menemukan masa depan. Pemerintah harus menjadi pelayan yang memastikan bahwa harapan dan masa depan itu tidak dirampas oleh kemiskinan, konflik, keterbelakangan, maupun kepentingan politik yang sempit.
Saat ini pelayanan Gereja Kingmi Jemaat Betel Mulele dipimpin oleh Pendeta Matias Kudiay. Kepemimpinan ini membawa tanggung jawab besar untuk menjaga dan meneruskan warisan pelayanan para pendahulu. Menjadi gembala di gereja yang memiliki sejarah panjang bukan hanya soal memimpin ibadah dan menyampaikan khotbah. Seorang gembala juga bertugas menjaga identitas gereja, merawat kesatuan jemaat, membina generasi muda, dan memastikan bahwa gereja tetap relevan dalam menjawab perubahan zaman.
Gereja Betel Mulele memiliki modal sejarah yang sangat kuat. Namun, sejarah tidak boleh hanya dibanggakan. Sejarah harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab baru. Apabila dahulu gereja mengutus guru, perawat, dan pelayan ke berbagai wilayah, maka saat ini gereja harus kembali mempersiapkan generasi baru untuk menjadi pendidik, tenaga kesehatan, pengusaha, birokrat, ahli teknologi, peneliti, pemimpin politik, dan pelayan masyarakat yang berintegritas.
Warisan para pendahulu tidak boleh berhenti sebagai cerita. Warisan itu harus hidup dalam tindakan generasi sekarang. Generasi muda jangan hanya menjadi penonton. Perhatian pemerintah terhadap gereja dan pendidikan harus menjadi motivasi bagi generasi muda, bukan alasan untuk hanya menunggu bantuan.
Generasi muda gereja harus mengambil tanggung jawab. Kita tidak boleh hanya berbicara tentang sejarah besar para pendahulu, sementara kita sendiri tidak memiliki semangat belajar dan melayani. Kita harus bertanya kepada diri sendiri: setelah menerima warisan iman dan pendidikan ini, apa yang akan kita lakukan?
Apakah kita akan menjadi generasi yang hanya meminta, atau menjadi generasi yang mampu menciptakan? Apakah kita akan menjadi generasi yang hanya mengkritik, atau menjadi generasi yang turut memperbaiki? Apakah kita akan menggunakan pendidikan untuk melayani masyarakat, atau hanya untuk mengejar jabatan dan kepentingan pribadi? Ini sederat pertanyaan reflektif yang relevan direnungkan.
Pendidikan YPPGI telah membuka jalan besar. Namun, generasi muda harus berjalan di atas jalan itu dengan disiplin, kerja keras, integritas, dan takut akan Tuhan. Jangan sampai sekolah telah dibangun, tetapi anak-anak tidak serius belajar. Jangan sampai gereja berdiri megah, tetapi kehidupan umat kehilangan kasih. Jangan sampai banyak orang memiliki gelar pendidikan, tetapi tidak memiliki hati untuk melayani rakyat.
Berjalan Bersama
Masa depan Papua Pegunungan tidak dapat dibangun hanya oleh pemerintah. Gereja juga tidak dapat bekerja sendirian. Demikian pula lembaga pendidikan tidak dapat maju tanpa dukungan keluarga dan masyarakat. Semua pihak harus berjalan bersama. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam kebijakan, anggaran, infrastruktur, dan pelayanan publik.
Gereja memiliki tanggung jawab dalam pembentukan iman, moral, dan karakter. Sekolah memiliki tanggung jawab dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan. Keluarga memiliki tanggung jawab dalam membentuk kebiasaan, disiplin, dan kasih sejak dari rumah. Apabila empat kekuatan ini berjalan bersama, Papua Pegunungan akan memiliki fondasi pembangunan yang kuat.
Namun, sinergi itu harus dibangun dengan keterbukaan dan tanggung jawab. Bantuan pemerintah harus dikelola secara transparan. Pembangunan harus direncanakan dengan baik. Masyarakat harus dilibatkan. Gereja harus memberi teladan dalam kejujuran dan akuntabilitas. Jangan sampai perhatian yang besar dari pemerintah justru menjadi sumber perselisihan internal. Jangan sampai pembangunan sekolah dan gereja dirusak oleh kepentingan kelompok, perebutan proyek, atau konflik kepemimpinan.
Bantuan untuk gereja dan pendidikan harus dipandang sebagai milik pelayanan dan milik masa depan generasi, bukan milik pribadi atau kelompok tertentu. HUT ke-63 Gereja Kingmi Jemaat Betel Mulele merupakan momentum untuk bersyukur, mengenang, dan memperbarui komitmen.
Kita bersyukur karena Injil telah bertumbuh dan mengubah kehidupan masyarakat. Kita mengenang para pendeta, guru, perawat, misionaris, aparatur pemerintah, dan orang tua yang telah berkorban. Kita juga memperbarui komitmen untuk melanjutkan perjuangan mereka melalui pelayanan dan pendidikan.
Betel Mulele telah menjadi salah satu titik awal perjalanan itu. YPPGI telah membuka jalan besar pendidikan. Para guru dan perawat telah berjalan di atas jalan itu dengan pengabdian. Pemerintah kini memberikan perhatian agar jalan tersebut diperkuat dan diperluas. Tugas generasi sekarang adalah memastikan bahwa jalan besar itu tidak tertutup oleh kelalaian, konflik, korupsi, dan kepentingan sesaat.
Jalan itu harus terus dibuka agar anak-anak Papua dapat berjalan menuju masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya, pembangunan Gereja Betel Mulele dan pendidikan YPPGI bukan hanya tentang satu jemaat, satu sekolah, atau satu yayasan. Ini adalah tentang masa depan Papua Pegunungan.
Ini adalah tentang bagaimana iman melahirkan pelayanan, bagaimana pelayanan membuka pendidikan, bagaimana pendidikan membentuk manusia, dan bagaimana manusia yang berkarakter membangun daerahnya. Selamat HUT ke-63 Gereja Kemah Injil Kingmi di Tanah Papua Jemaat Betel Mulele Wamena.
Kiranya Gereja Betel Mulele terus menjadi rumah iman, pusat pelayanan, dan sumber pengutusan. Kiranya pendidikan YPPGI terus menjadi jalan besar yang membawa anak-anak Papua dari keterbatasan menuju pengetahuan, dari ketertinggalan menuju kemajuan, serta dari penerima pelayanan menjadi pelayan bagi sesama.
Kiranya pula perhatian pemerintah tidak berhenti sebagai janji dalam sebuah perayaan, tetapi diwujudkan melalui perencanaan yang matang, penganggaran yang bertanggung jawab, pelaksanaan yang transparan, dan hasil pembangunan yang benar-benar dirasakan oleh jemaat, sekolah, dan generasi masa depan. Sebab membangun gereja dan pendidikan berarti membangun manusia. Dan membangun manusia berarti membangun masa depan Papua Pegunungan. ***
