Ilham Habibie: Re-Industrialisasi dan Penguatan Insinyur Jadi Kunci Utama Menuju Indonesia Emas
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie menegaskan bahwa visi Indonesia Emas tidak akan tercapai tanpa adanya struktur industri yang kokoh. Menurutnya, prasyarat utama untuk membangun industri yang kuat adalah dengan mencetak dan memperkuat barisan insinyur domestik.
Hal itu diungkapkan Ilham dalam acara Strategic Human Capital Dialogue: Pemetaan SDM Teknik dan Profesi untuk Reindustrialisasi Indonesia di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Senin (24/6/2026).
"Penting kita ingat, tidak ada negara kuat tanpa ada industri yang kuat. Kalau kita mau menjadi Indonesia Emas, ya industri kita harus jadi emas," ujar Ilham.
Ilham menyoroti fenomena deindustrialisasi dini yang dialami Indonesia. Pada tahun 2001, kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hampir menyentuh angka 30%. Namun saat ini, angka tersebut menyusut signifikan hingga hanya menyisakan sekitar 19%.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara tetangga seperti Vietnam, yang kontribusi industrinya berada di atas 25% dengan pertumbuhan ekonomi melebihi 8%. Minimnya peran industri berimbas langsung pada sempitnya lapangan kerja formal di Tanah Air, di mana hampir 60% tenaga kerja Indonesia terjebak di sektor informal.
Baca Juga
Menteri UMKM: Pemadaman Listrik Rugikan Pedagang dan Pelaku Usaha Kecil
Ia juga meluruskan persepsi politis mengenai 65 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Ilham menyebut sekitar 64 juta di antaranya merupakan usaha mikro jalanan atau warung yang tidak berbasis kualifikasi pekerjaan industrial.
"Mereka menjadi micro-entrepreneur karena terpaksa untuk bisa makan. Solusi sebenarnya adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi mereka di sektor industri, bukan memperkuat posisi mereka terus-menerus sebagai pelaku mikro," tegasnya.
Baca Juga
Bos OJK Jelaskan Peran Penting Perempuan Menuju Indonesia Emas 2045
Hambatan besar lainnya dalam mewujudkan re-industrialisasi adalah minimnya sumber daya manusia (SDM) di bidang sains dan teknologi. Saat ini, lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang berasal dari bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) baru mencapai 15%. Angka ini tertinggal jauh dari Cina dan negara industri maju lainnya yang mencatatkan angka di atas 40%.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Ilham memaparkan bahwa Indonesia membutuhkan investasi besar-besaran pada modal manusia (human capital). Setidaknya, dibutuhkan tambahan minimum 900.000 hingga idealnya 3,3 juta tenaga insinyur baru.
Guna memastikan kualitas profesi, PII terus mendorong implementasi penuh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Berdasarkan UU tersebut, bekerja sebagai insinyur di industri tanpa memiliki gelar profesional dan sertifikasi adalah tindakan ilegal.
Ilham menambahkan, standardisasi profesi ini bukan sekadar urusan daya saing global, melainkan juga menyangkut keamanan masyarakat. Ia mencontohkan kasus runtuhnya bangunan fasilitas publik akibat dibangun tanpa standar keinsinyuran yang benar.
Ke depan, PII mendesak optimalisasi Dewan Insinyur Indonesia yang mengikat lima unsur strategis. Yaitu perguruan tinggi, industri, pemerintah, PII, dan masyarakat, agar seluruh sektor industri patuh pada aturan yang berlaku.
"Nah, ini adalah pesan terakhir dari saya, insinyur menjadi salah satu fondasi Indonesia Emas dan itu yang diperlukan. Jadi ada lima aksi untuk kita harus lakukan, kita percepat konversi, tingkatkan kualitas, perkuat ekosistem, kita tentu melakukan investasi human capital masa depan, dan kita juga hormati dan hargai profesi," pungkas Ilham.
