Ketika Orang Lain Melihat Kemunduran, Indonesia Melihat Mekanisme Pertahanan
Oleh: Teguh Anantawikrama *)
INVESTORTRUST -- Bagi sebagian pengamat, posisi ekonomi dan geopolitik Indonesia tampak kontradiktif. Mereka melihat sebuah negara yang menolak untuk sepenuhnya berpihak pada blok kekuatan besar mana pun. Sebuah negara yang mempertahankan hubungan pengadaan alutsista dengan banyak negara, alih-alih bergantung pada satu pemasok tunggal. Sebuah negara yang sering kali lebih mengutamakan stabilitas daripada perubahan kebijakan yang drastis. Sebuah negara yang bergerak hati-hati ketika pihak lain menuntut liberalisasi yang cepat.
Bagi sebagian analis, kondisi ini terlihat seperti sebuah doom loop atau lingkaran kemunduran. Bagi Indonesia, ini disebut ketahanan nasional.
Apa yang oleh banyak pihak luar dianggap sebagai ketidakefisienan, sesungguhnya merupakan mekanisme pertahanan yang sengaja dibangun berdasarkan pengalaman sejarah.
Indonesia memahami lebih baik daripada banyak negara lain bahwa ketergantungan akan menciptakan kerentanan.
Selama puluhan tahun, Indonesia menjalankan amanat konstitusi melalui prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Ini bukanlah netralitas yang lahir dari keragu-raguan. Ini adalah strategi non-blok yang dirancang untuk menjaga kedaulatan nasional.
Inilah yang menjelaskan mengapa Indonesia membangun kerja sama pertahanan dengan banyak negara. Alih-alih bergantung pada satu sumber, Indonesia mendiversifikasi ekosistem pertahanannya. Peralatan militer, pelatihan, hingga kerja sama strategis berasal dari berbagai mitra sehingga risiko ketergantungan dapat diminimalkan dan otonomi strategis tetap terjaga.
Logika yang sama juga berlaku di sektor energi. Ketika harga energi global mengalami volatilitas ekstrem dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sering memilih untuk menyerap sebagian guncangan tersebut melalui mekanisme subsidi dan intervensi negara. Akibatnya, harga BBM domestik relatif lebih stabil dalam periode yang panjang dibandingkan banyak negara lain yang harus melakukan penyesuaian berulang kali.
Para kritikus menyebutnya sebagai distorsi pasar. Bagi Indonesia, itu adalah mekanisme peredam guncangan (shock absorber).
Negara dengan lebih dari 280 juta penduduk tidak dapat membiarkan gangguan mendadak merambat ke sektor transportasi, logistik, distribusi pangan, hingga daya beli masyarakat.
Filosofi ekonomi Indonesia memang selalu berbeda. Stabilitas tidak dipandang sebagai musuh pertumbuhan.Sebaliknya, stabilitas merupakan prasyarat bagi pertumbuhan.
Mereka yang pernah membaca buku Confessions of an Economic Hit Man karya John Perkins memahami kekhawatiran yang selama ini dimiliki banyak negara berkembang.
Buku tersebut menggambarkan bagaimana ketergantungan finansial pada akhirnya dapat berubah menjadi ketergantungan politik.
Terlepas dari apakah seseorang setuju dengan seluruh argumen dalam buku tersebut atau tidak, pelajaran utamanya tetap relevan: negara yang kehilangan kedaulatan ekonomi pada akhirnya berisiko kehilangan kedaulatan kebijakan.
Indonesia tampaknya bertekad untuk tidak terjebak dalam situasi tersebut. Negeri ini secara konsisten mengurangi kerentanan melalui diversifikasi mitra dagang, penguatan industrialisasi domestik, hilirisasi sumber daya alam, penguatan ketahanan pangan, serta kebijakan luar negeri yang seimbang.
Tentu saja, ketahanan memiliki harga yang harus dibayar. Negara yang menolak memilih kubu akan selalu mengecewakan pihak-pihak yang menginginkan keberpihakan.
Negara yang mengejar otonomi strategis akan selalu membuat frustrasi mereka yang lebih menyukai ketergantungan.
Negara yang bersikeras mengendalikan sumber dayanya sendiri akan selalu menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang selama ini diuntungkan oleh pola lama.
Kampanye pemberantasan korupsi yang semakin agresif di Indonesia menggambarkan realitas tersebut.
Berdasarkan berbagai kasus besar yang ditangani Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), nilai kerugian negara yang berhasil diungkap dan dipulihkan mencapai puluhan triliun rupiah dalam beberapa tahun terakhir. Investigasi kini semakin menyasar skema yang kompleks, mulai dari manipulasi pengadaan, praktik transfer pricing, aliran dana ilegal, manipulasi faktur, penghindaran pajak, hingga penyalahgunaan aset negara.
Tidak semua pihak menyambut baik reformasi tersebut. Mereka yang selama ini menikmati celah regulasi, transaksi yang tidak transparan, serta lemahnya penegakan hukum tentu akan melihat tata kelola yang lebih kuat sebagai ancaman.
Namun Indonesia terus melangkah. Indikator ekonomi yang lebih luas mendukung optimisme tersebut. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Indonesia juga merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi sekitar 35–40 persen terhadap total PDB ASEAN. Indonesia adalah anggota G20. Indonesia juga semakin aktif dalam berbagai kerangka kerja sama BRICS dan inisiatif Global South yang lebih luas.
Berbagai lembaga internasional memproyeksikan Indonesia akan tetap menjadi salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia dalam beberapa dekade mendatang. Sejumlah proyeksi jangka panjang bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari lima hingga tujuh ekonomi terbesar dunia pada tahun 2050.
Di saat yang sama, Indonesia masih menikmati keuntungan demografi. Angkatan kerja muda yang besar, kelas menengah yang terus berkembang, sumber daya alam yang melimpah, posisi geografis maritim yang strategis, serta ekonomi digital yang tumbuh pesat memberikan keunggulan yang tidak lagi dimiliki banyak negara maju.
Karena itu, kebangkitan Indonesia tidak seharusnya diukur hanya dari angka pertumbuhan ekonomi kuartalan.
Kekuatan sejatinya berada pada sesuatu yang jauh lebih mendasar. Ketahanan. Kemampuan menyerap guncangan.Kemampuan mempertahankan kemandirian.Kemampuan menolak tekanan eksternal.Kemampuan menjaga kedaulatan sambil tetap menjalin hubungan dengan semua pihak.
Apa yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai doom loop mungkin sesungguhnya adalah sistem kekebalan nasional yang dirancang dengan sangat hati-hati.
Sebuah sistem kekebalan yang dibangun dari memori sejarah, realisme geopolitik, serta tekad untuk tidak pernah bergantung pada satu kekuatan mana pun.
Indonesia mungkin tidak selalu bergerak paling cepat. Indonesia mungkin tidak selalu memenuhi harapan pihak luar. Namun Indonesia terus melangkah maju dengan caranya sendiri.Dan mungkin itulah yang membuat sebagian pihak merasa tidak nyaman. Karena Indonesia yang tangguh sulit dipengaruhi. Indonesia yang berdaulat sulit ditekan.
Dan Indonesia yang percaya diri—berdiri kokoh di tengah Global South sambil tetap berinteraksi dengan Timur dan Barat—memiliki potensi untuk menjadi salah satu kekuatan penentu abad ke-21.
*) Teguh Anantawikrama, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.
