Mendikdasmen Buka Peluang Kantin Sekolah Jadi Penyedia Makan Bergizi Gratis
Poin Penting
|
KUDUS, Investortrust.id – Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan terus berjalan demi membangun kualitas generasi muda Indonesia. Kendati demikian, dalam pelaksanaannya ke depan, pemerintah bakal melakukan sejumlah penyesuaian skema penyaluran. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah membuka peluang keterlibatan kantin atau dapur sekolah sebagai penyedia makanan bergizi bagi para siswa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil karena program tersebut mendapatkan dukungan yang sangat luas dari masyarakat, khususnya para pelajar. Berdasarkan data yang ada, jumlah murid yang menerima manfaat MBG mencapai sekitar 43,4 juta anak dari total 53,5 juta murid di seluruh Indonesia, atau setara dengan 80,94%. Mayoritas dari mereka sangat mengharapkan agar program pemenuhan gizi ini tetap dipertahankan.
Untuk mendukung kelancaran distribusi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kini telah mengintegrasikan data penerima MBG secara langsung dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Melalui integrasi sistem tersebut, pemerintah kini mengantongi basis data yang lengkap dan valid mengenai identitas siswa penerima manfaat, mulai dari nama, alamat, hingga sekolah masing-masing secara terperinci.
Meskipun program ini dipastikan berlanjut, Abdul Mu'ti mengungkapkan akan ada perubahan skema penyaluran agar bantuan menjadi lebih tepat sasaran. Lembaga pendidikan atau sekolah yang dinilai sudah mandiri dan tidak terlalu membutuhkan bantuan MBG kemungkinan besar tidak akan lagi menjadi penerima program. Sebaliknya, pemerintah akan memprioritaskan sekolah-sekolah yang kondisi siswanya jauh lebih membutuhkan intervensi gizi.
Di samping ketepatan sasaran, mekanisme penyediaan makanan juga akan dibuat lebih fleksibel. Pemerintah tidak lagi mewajibkan seluruh pasokan makanan berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebagai alternatif, pelaksanaan MBG kini membuka peluang bagi dapur atau kantin sekolah untuk memproduksi makanan sendiri, dengan catatan tetap berada di bawah koordinasi serta supervisi ketat dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Baca Juga
Kejagung Jerat Bos Vendor 21.081 Motor Listrik sebagai Tersangka Baru Korupsi MBG
Menanggapi adanya sejumlah kasus keracunan makanan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, Mendikdasmen menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan menjadi alasan untuk menghentikan program MBG secara keseluruhan. Pemerintah memilih langkah penanganan yang lebih terukur dengan mengevaluasi secara ketat setiap dapur penyedia yang bermasalah.
"Kalau ada keracunan, yang dihentikan adalah dapur yang tidak benar untuk dievaluasi, sedangkan SPPG yang baik tetap dilanjutkan. Bahkan, dapur yang tidak memenuhi standar bisa dicabut izin operasionalnya," ujar Abdul Mu'ti saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Sabtu (13/6/2026), seperti dikutip Antara.
Pada akhir keterangannya, Abdul Mu'ti kembali menekankan bahwa program MBG merupakan pilar krusial dalam investasi jangka panjang pemerintah untuk mencetak generasi emas. Peningkatan kualitas bangsa tidak boleh hanya bertumpu pada aspek akademik, melainkan harus berjalan beriringan dengan pemenuhan gizi dan kesehatan fisik yang prima.
"Generasi ini harus dibangun baik akademiknya maupun fisiknya. Fisik dibangun melalui MBG, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan siap bersaing di masa depan," pungkasnya.
