Misbakhun Bela Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri, Sebut Ada 'Misi Rahasia'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, membeberkan alasan strategis di balik intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di awal masa pemerintahannya. Menurut Misbakhun, langkah tersebut merupakan upaya serius kepala negara dalam melakukan pergeseran posisi geopolitik (shifting geopolitik) yang saat ini tengah mengalami perubahan luar biasa di tingkat global.
Misbakhun menjelaskan saat ini dunia sedang menghadapi situasi bipolar yang unik. Di satu sisi, Amerika Serikat masih mendominasi sektor politik dan keamanan global. Namun di sisi lain, dominasi ekonomi telah bergeser seiring dengan membanjirnya produk-produk manufaktur dari Asia.
"Amerika dominan di dalam politik dan keamanan, tapi dia tidak dominan lagi di dalam ekonomi. Karena apa? Produk-produk yang membanjiri dunia itu sudah bukan *Made in America*. Mereknya dari AS, Jepang, Korea, Jerman, atau Inggris, tapi semuanya Made in China," ujar Misbakhun Misbakhun saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku 'Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo' yang digelar di Kampus Universitas Paramadina, Kuningan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga
Jawab Kritik Dino Patti Djalal, Seskab Teddy Beberkan Capaian Diplomasi Prabowo
Politikus Partai Golkar itu menilai peta kekuatan ekonomi dunia saat ini secara praktis dikendalikan oleh poros Washington dan Beijing. Bahkan, ia berseloroh pertemuan puncak ekonomi global seolah cukup diwakili oleh pertemuan dua pemimpin negara tersebut.
"Kalau kita membicarakan KTT, sebenarnya tidak perlu lagi G7. Cukup KTT Donald Trump ketemu Xi Jinping, keduanya saja. Akhirnya Trump mengajak teman-temannya, Xi Jinping juga ketemu dengan sekutunya," jelasnya.
Kendati demikian, Misbakhun menegaskan Prabowo tidak memilih untuk berdiri atau memihak pada salah satu dari dua kekuatan besar tersebut. Langkah diplomasi luar negeri yang diambil Indonesia murni bersandar pada mandat konstitusi, yakni politik bebas aktif yang inklusif.
"Pak Prabowo tidak berdiri di dua pihak. Karena apa? Ini adalah amanat konstitusi kita. Beliau datang ke BRICS, datang ke Trump, dan datang juga ke Xi Jinping. Tujuannya untuk apa? Menegaskan bahwa kita adalah bagian dari dunia yang inklusif, bukan dunia yang mengeksklusifkan dua kepentingan saja. Di sinilah diperlukan kapasitas nyata dari seorang Presiden," tegasnya.
Lebih jauh, Misbakhun mengungkapkan kapasitas kepemimpinan Prabowo juga tercermin dari keberanian pemerintah dalam membongkar sengkarut pengelolaan komoditas tambang domestik. Di bawah pemerintahan yang baru, Indonesia mulai fokus mengamankan kepemilikan mineral strategis yang selama ini kerap luput dari pengawasan.
Salah satu yang kini menjadi perhatian serius pemerintah adalah pengelolaan Logam Tanah Jarang atau Rare Earth Elements (REE), komoditas bernilai tinggi yang krusial bagi industri teknologi masa depan.
"Bayangkan, baru di pemerintahan inilah soal yang namanya mineral strategis dibicarakan. REE dibicarakan. Selama ini kita dibohongi bahwa ada unidentified mineral resources di Indonesia, yang kemudian diekspor begitu saja atas nama batu koral atau batu kali, dan hanya dihargai sekitar Rp300 ribu per ton," ungkap Misbakhun.
Ia menutup paparannya dengan menegaskan bahwa tata kelola kekayaan alam tersebut tidak boleh lagi dipandang sebelah mata secara ekonomi. Di bawah arah ideologi ekonomi saat ini, komoditas tambang tersebut harus dioptimalkan sebagai instrumen tawar-menawar (bargaining power) Indonesia di panggung dunia.
"Padahal, itu adalah mineral strategis yang sangat bernilai tinggi, yang bisa dipakai untuk menjadi penguat kekuatan geopolitik bangsa kita ke depan," pungkasnya.

