Ketika Dunia Tak Menawarkan Keabadian (Belajar dari Sang Buddha tentang Hidup, Perubahan, dan Pencarian Manusia)
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu *)
INVESTORTRUST.ID - Di zaman ketika manusia mampu mengirim wahana ke luar angkasa, menembus kecerdasan buatan, dan membangun peradaban digital yang nyaris tanpa batas, ada satu paradoks yang tetap bertahan: manusia modern semakin mampu menjelajahi dunia, tetapi tidak selalu semakin mengenal hidupnya sendiri.
Kecemasan, kesepian, kelelahan mental, dan rasa tidak pernah cukup justru menjadi fenomena yang menyertai abad kemajuan.
Lebih dari 2.500 tahun lalu, Sang Buddha menawarkan sebuah pembacaan sederhana namun mendalam mengenai realitas kehidupan. Ajaran itu dikenal dalam tradisi Buddhis sebagai Tilakkhaṇa atau tiga corak keberadaan: segala sesuatu berubah (anicca), tidak ada inti diri yang abadi (anatta), dan tidak ada yang mampu memberi kepuasan mutlak (dukkha).
Ajaran ini bukan teori metafisik yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia lahir dari pergulatan hidup dan pengamatan tajam terhadap pengalaman manusia. Dalam Dhammapada ayat 277, salah satu teks utama dalam Kanon Pāli, Sang Buddha berkata:
“Sabbe saṅkhārā aniccā.”
Segala sesuatu yang terkondisi adalah tidak kekal.
Kutipan lengkapnya berbunyi:
Sabbe saṅkhārā aniccā,
yadā paññāya passati,
atha nibbindati dukkhe,
esa maggo visuddhiyā.
Artinya: “Segala sesuatu yang terkondisi adalah tidak kekal. Ketika seseorang melihatnya dengan kebijaksanaan, ia menjadi jemu terhadap penderitaan; itulah jalan menuju pemurnian.”
Di tengah dunia modern, pesan ini terdengar semakin relevan. Manusia sering hidup dengan asumsi bahwa sesuatu dapat dipertahankan selamanya: kesehatan, kekayaan, relasi, kekuasaan, bahkan masa muda. Padahal, kehidupan bergerak dengan hukumnya sendiri.
Tubuh berubah.
Musim berganti.
Pasar berfluktuasi.
Perusahaan naik dan turun.
Bangsa dan kekuasaan silih berganti.
Dalam dunia bisnis dan investasi, hukum perubahan itu sangat nyata. Tidak ada “bull market” yang berlangsung abadi, sebagaimana tidak ada krisis yang bertahan selamanya.
Banyak penderitaan muncul bukan karena perubahan itu sendiri, melainkan karena manusia menolak kenyataan bahwa perubahan adalah bagian alami kehidupan.
Namun Sang Buddha tidak berhenti pada ketidakkekalan. Dalam Dhammapada ayat 278, ia berbicara tentang dukkha:
“Sabbe saṅkhārā dukkhā.”
Segala sesuatu yang terkondisi mengandung ketidakpuasan.
Kata dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya lebih luas: ketidakstabilan, keterbatasan, atau kenyataan bahwa dunia fana tidak mampu memberi kepuasan yang sepenuhnya permanen.
Inilah realitas yang sering dialami manusia modern.
Rumah yang dahulu menjadi impian perlahan terasa biasa. Jabatan yang dikejar bertahun-tahun tidak selalu menghadirkan damai. Keuntungan besar segera melahirkan target berikutnya. Teknologi baru hanya memuaskan sesaat sebelum digantikan yang lebih mutakhir.
Psikologi modern menyebut fenomena ini sebagai hedonic adaptation, kecenderungan manusia cepat terbiasa terhadap kenikmatan dan terus mencari yang baru.
Sang Buddha telah membaca pola itu berabad-abad sebelum ilmu perilaku modern lahir.
Tetapi, mungkin ajaran yang paling radikal adalah tentang anatta, ketiadaan inti diri yang kekal.
Dalam Dhammapada ayat 279 disebut:
“Sabbe dhammā anattā.”
Segala fenomena tidak memiliki inti diri yang kekal.
Ajaran ini diperjelas dalam Anattalakkhaṇa Sutta (Samyutta Nikāya 22.59), salah satu khotbah paling awal Sang Buddha.
Di sana muncul ungkapan:
“Etaṃ mama, eso’ham asmi, eso me attā.”
“Ini milikku, ini aku, inilah diriku.”
Namun Sang Buddha mengingatkan bahwa tubuh, perasaan, pikiran, dan kesadaran terus berubah dan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Karena itu, keterikatan berlebihan pada ego sering menjadi sumber konflik dan penderitaan.
Betapa banyak pertengkaran lahir karena manusia terlalu sibuk mempertahankan “aku”.
Dalam keluarga, ego membuat orang sulit meminta maaf. Dalam politik, ego melahirkan polarisasi. Dalam ekonomi, ego kadang menempatkan ambisi di atas etika. Padahal, kehidupan sering menjadi lebih damai ketika manusia tidak harus selalu menang.
Menariknya, tiga ajaran Buddhis ini menemukan gema dalam banyak tradisi dan ilmu modern.
Psikologi berbicara tentang mindfulness dan penerimaan. Filsafat Stoa mengajarkan kesiapan menghadapi perubahan. Bahkan dalam spiritualitas lain terdapat kesadaran serupa tentang kefanaan dan kerendahan hati.
Menjelang wafatnya, Sang Buddha meninggalkan pesan yang hingga kini terus dikutip umat Buddha di seluruh dunia. Dalam Mahāparinibbāna Sutta (Dīgha Nikāya 16), ia berkata:
“Vayadhammā saṅkhārā, appamādena sampādetha.”
“Segala yang terkondisi akan mengalami kemusnahan; berjuanglah dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran.”
Pesan itu bukan seruan putus asa. Sebaliknya, ia adalah undangan untuk hidup lebih sadar justru karena hidup tidak abadi. Mungkin manusia tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar melepaskan, atau menunggu runtuh untuk belajar rendah hati.
Sebab pada akhirnya, seperti disadari banyak kebijaksanaan dunia, kedamaian bukan lahir ketika kita berhasil membuat dunia berhenti berubah, melainkan ketika kita belajar berjalan bersamanya dengan hati yang lebih jernih.
Selamat merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak kepada semua saudara yang beragama Buddha.
*) CEO Investortrust.

