Ilham Habibie Belajar Jadi Politisi Teknokrat dari Sang Ayah
JAKARTA, investortrust.id - Ilham Akbar Habibie, putra sulung Presiden ke-3 BJ Habibie, memutuskan untuk maju ke pemilihan kepala daerah (pilkada) Jawa Barat. Meski dikenal sebagai peneliti dan pengusaha, Ilham mengaku mempelajari sikap politisi yang profesional dari Sang Ayah.
“Sebagai catatan, bapak (BJ Habibie) adalah politisi teknokrat. Jadi bukan politisi yang menjabat melalui partai politik, tapi sebetulnya dipilih karena mempunyai kemampuan. Saya kira, sikap profesionalisme itulah ditularkan ke anak-anaknya,” ujar Ilham dalam acara One on One yang ditayangkan tvOne, Jumat (21/6/2024).
Ilham mengatakan, BJ Habibie pernah memintanya untuk berkiprah untuk negara melalui pendidikan, spesialisasi, dan profesional. Sejak 1996, Ilham mengaku menjalankan amanah itu sebagai profesional, insinyur, pengajar, pengusaha, dan aktivis di Indonesia.
Ilham mengatakan keputusannya untuk pulang ke Indonesia setelah lama menetap di luar negeri karena memiliki tujuan. “Kita ini dididik sebagai orang dengan idealisme dan tujuan. Tujuannya apa? Kita mau membangun dan memajukan negara dan bangsa,” ujar dia.
Baca Juga
Ilham mengatakan keinginannya menjadi pemimpin di Jawa Barat, sebagai bentuk kontribusinya kepada negara dan bangsa untuk menyukseskan visi Indonesia Emas 2045.
“Dan kita lihat dalam beberapa belas tahun yang lampau ini industri kita tidak maju-maju. Saya mau aktif mendorong industri kita semakin maju,” kata dia.
Ilham mengatakan BJ Habibie tak pernah mengajarkannya untuk terjun secara langsung di dunia politik. Dia mengatakan orang tuanya selalu mengajarkan untuk mengambil keputusan secara mandiri.
“Bapak tidak pernah melarang, tapi selalu menekankan kita membangun negara bangsa tidak harus dari politik. Tidak harus lewat pemerintahan. Tapi tidak bilang jangan,” kata dia.
Baca Juga
Ilham Habibie Pilih Maju Pilkada Jabar karena Kedekatan Historis
Pandangan Politik Dinasti
Ilham mengatakan, sebagai putra Presiden RI ke-3, politik dinasti itu sebetulnya tradisi dari sistem kerajaan. Dia menggambarkan sifat pemerintahan itu turun temurun yang berhubungan darah.
“Kalau di politik bisa seperti itu, tapi bisa juga dinasti secara meritokrasi. Kebetulan misalnya, kalau diri saya. Saya ini Habibie, Bapak saya Habibie, orang bisa saja bilang dinasti, tapi kan tidak dikasih. Usaha sendiri, tapi meritokrasi,” kata dia.
Ilham mengatakan di lain pihak, sebagai pewaris orangtua, ada anak yang memang tepat untuk mengisi posisi tersebut. “Yang penting adalah harus meritokrasi. Apa itu darahnya sendiri atau tidak. Meritokrasi itu penting untuk mendapatkan yang terbaik bagi negara kita, untuk perusahaan, untuk universitas, di mana-mana harus meritokrasi bagi saya,” kata dia.

