Kemenkomdigi Wanti-Wanti AI Asing Bisa Gerus Identitas 700 Etnis Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) mewanti-wanti ketergantungan pada artificial intelligence (AI) asing berisiko menggerus identitas budaya Indonesia. Karena itu, pengembangan sovereign AI dinilai semakin penting.
Dirjen Ekosistem Digital Kemenkomdigi, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, kedaulatan AI harus dibangun dengan data dan talenta lokal. Pengembangan teknologi juga harus selaras dengan budaya nasional.
“Konsensus kedaulatan adalah kemampuan mengembangkan dan menggunakan teknologi menggunakan infrastruktur, data, dan talenta sendiri yang selaras dengan hukum, budaya, dan nilai-nilai untuk keamanan nasional,” kata Edwin dalam diskusi Kebangkitan Kedaulatan Teknologi Indonesia di Menara Telkom, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga
Telkom (TLKM) Dorong Kedaulatan Teknologi, Ingatkan Risiko Ketergantungan pada Model AI Asing
Menurutnya, pengembangan AI nasional mencakup lima lapisan penting. Mulai dari energi, komputasi, konektivitas, LLM, hingga aplikasi.
Edwin menilai dominasi AI global bisa mengancam local wisdom Indonesia. Apalagi Indonesia memiliki lebih dari 700 etnis dengan bahasa dan budaya berbeda.
“Risiko besar jika kita bergantung pada AI asing adalah kehilangan identitas dan kebijaksanaan lokal dari 700 etnis kita. Kita akan didikte oleh AI luar,” ujar teknokrat itu.
Kemenkomdigi juga menyoroti risiko hoaks dan penipuan digital. Pemerintah karena itu mendorong pengembangan ekosistem AI nasional yang lebih mandiri dan aman.
Menurut Edwin, Indonesia memilih pendekatan pragmatis namun tetap etis. Pengembangan AI nasional juga didorong melalui kolaborasi regulator, industri, kampus, dan peneliti.

