Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi Harus Diimbangi Perlindungan Daya Beli Masyarakat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna meminta Pemerintah memperhatikan dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat. Pemerintah perlu menjaga kemampuan masyarakat dalam mengakses BBM dan mobilitas dengan biaya yang terjangkau.
"Jangan sampai perubahan harga BBM menimbulkan efek berantai terhadap pengeluaran rumah tangga," kata Ateng dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Ateng menjelaskan, penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi dari dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ateng mencatat, konsumsi BBM nasional mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari, sementara kapasitas produksi minyak dalam negeri berada di kisaran 600–700 ribu barel per hari. Kesenjangan ini menyebabkan ketergantungan terhadap impor masih cukup tinggi, sehingga harga BBM domestik sensitif terhadap gejolak global.
Mengutip data Badan Pusat Statistik, Ateng menyebut komponen transportasi memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi, dengan andil yang dapat mencapai lebih dari 20% pada periode tertentu, terutama ketika terjadi penyesuaian harga energi. Kenaikan biaya transportasi juga berimplikasi langsung pada distribusi logistik dan harga bahan pokok.
Baca Juga
Antisipasi Dampak Perang, Ketua DPR Desak Pemerintah Mitigasi Harga BBM dan Keselamatan Pasukan TNI
Menurutnya, gejolak harga energi global tetap perlu diantisipasi secara serius karena berpotensi mendorong kenaikan biaya transportasi dan distribusi. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berdampak pada harga kebutuhan pokok dan mempersempit ruang belanja masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Politikus PKS itu juga mengingatkan bahwa kebutuhan BBM nasional masih cukup besar, sementara kapasitas produksi dalam negeri belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan. Kondisi ini membuat harga BBM domestik masih sensitif terhadap perubahan eksternal, sehingga perlindungan terhadap daya beli masyarakat menjadi semakin penting.
Menurutnya, momentum penyesuaian harga BBM harus dibarengi dengan percepatan pembangunan sistem transportasi publik yang aman, nyaman, terjangkau, dan menjangkau kawasan permukiman maupun pusat aktivitas ekonomi.
"Transportasi publik yang baik akan menjadi solusi nyata. Ketika masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang murah dan nyaman, ketergantungan terhadap BBM bisa berkurang, sehingga masyarakat lebih tahan menghadapi fluktuasi harga BBM," jelasnya.
Saat ini, kontribusi angkutan umum terhadap mobilitas di kota-kota besar Indonesia masih relatif terbatas. Data menunjukkan bahwa di beberapa kota, pangsa penggunaan transportasi publik masih di bawah 30%, jauh dibandingkan kota-kota maju yang dapat mencapai lebih dari 60%.
Selain itu, Ateng mendorong penguatan pola konsumsi yang lebih efisien dalam penggunaan BBM di tengah masyarakat. Edukasi penggunaan secara bijak serta penyediaan alternatif yang terjangkau menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga.
"Yang perlu dibangun bukan hanya kebijakan harga, tetapi juga kecerdasan dalam menggunakan BBM, agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan dan tidak terlalu rentan terhadap gejolak harga," tambahnya.
Ia juga mendorong pemerintah memperkuat kebijakan energi secara bertahap melalui peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, diversifikasi sumber energi, pengembangan bioenergi seperti biodiesel B35, serta percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang saat ini kontribusinya masih di kisaran 13–14% dari bauran energi nasional.
"Kita tidak boleh terus berada dalam pola kebijakan jangka pendek setiap kali harga minyak dunia bergejolak. Arah kebijakan harus mampu menjaga keseimbangan antara keekonomian dan perlindungan masyarakat," ujarnya.

