Bursa Karbon Diluncurkan, 4 Emiten Ini Berpotensi Raup Cuan Berikut
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Joko Widodo akan meluncurkan bursa karbon hari ini, Selasa (26/9/2023), di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Kehadiran bursa karbon ini akan menjadi sentiment positif terhadap beberapa emiten.
Berdasarkan perkiraan RHB Sekuritas Indonesia dalam riset yang diterbitkan beberapa waktu lalu menyebutkan, keempat emiten tersebut adalah PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), PT SLJ Global Tbk (SULI), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), akan mendapatkan sentiment positif dari bursa tersebut.
Baca Juga
RHB Sekuritas menyebutkan Integra Indocabinet (WOOD) diuntungkan atas kepemilikan konsesi tiga hutan, yaitu dua hutan alam seluas 163.425 hektere dan konsesi hutang mangrove seluas 18.000 ha.
“Perseroan berencana untuk memasuki pasar karbon melalui tiga konsesi hutan tersebut. Perseroan disebut kemungkinan akan pertama mencatatkan proyek hutan manggrove di bursa efek,” terangnya.
Perseroan juga berencana mengakuisi konsesi hutan lebih dari 500.000 hektare dalam bebrapa tahun mendatang. Sedangkan konsesi hutan alam seluas 163.425 ha dapat menghasilkan sebanyak 800.000 hingga 1 juta ton CO2 per tahun. Sedangkan konsesi mangrove seluas 18.000 ha diperkirakan menghasilkan sebanyak 900.000 hingga 1 juta tonCO2 kredit karbon per tahun.
Baca Juga
“Dengan karbon kredit per ton akan dihitung berdasarkan Quantum Intelligence data, kami memperkirakan WOOD berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan berkisar US$ 8-10 dari proyek karbon hutam alam dan berkisar US$ 9-10 juta dari proyek mangrove,” terangnya.
Riset tersebut juga memberikan pandangan positif terhadap SLJ Global (SULI) selaku perusahaan manajemen kehutandan dan perusahaan manufaktur kayu. Perseroan memiliki lahan hutan alam seluas 625.000 ha yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan kredit karbon bernilai besar.
“Kami berharap SULI dapat meningkatkan pendapatannya dengan margin keuntungan yang lebih besar. Untuk pasokan produksinya, perusahaan tidak mengambil kayu dari hutan cadangan milik sendiri, melainkan memperolehnya dari pihak ketiga,” terangnya.
Baca Juga
Dengan menjual kredit karbon, dia mengatakan, SULI berpotensi mendapatkan kredit karbon sekitar 3 -4 juta ton CO2e per tahun. Jika dikalkulasi, perseroan berpotensi meraup tambahan pendapatan senilai US$ 30 juta.
Segmen Energi
Selain kedua perusahaan, RHB Sekuritas menyebutkan, Pertamina Geothermal (PGEO) akan menjadi satu dari beberapa perusahaan energi yang bakal ketiban untung dari perdagangan kredit karbon. Dengan kapasitas pembangkit geothermal sebanyak 672MW dan ditargetkan meningkat menjadi 1,3 GW tahun 2027, perseroan berpotensi meraup tambahan pendapatan jumbo.
PGEO juga telah mendapatkan izin untuk penerbitan kredit karbon di bursa. Tahun lalu, perseroan menerbitkan sebanyak 1,7 juta ton CO2e vintage CO2eq dengan mendapatkan tambahan pendapatan senilai US$ 747.000 dari proyek Ulubelu dan Karaha.
“Dengan potensi penambahan pembangkit listrik, perseroan memiliki peluang untuk menawarkan kredit karbon yang diharapkan berimbas terhadap peningaktan pendapatan perseroan,” terangnya.
Baca Juga
Bursa Karbon Diluncurkan Besok, Saham Kencana Energi (KEEN) Memasuki Babak Baru
Begitu juga dengan Kencana Energi (KEEN), perusahaan pembangkit listrik yang memiliki kapasitas 65 MW. Perseroan memiliki kapasitas pembangkit listrik tenaga air sebanyak 59 MW, 5 MW pembangkit listrik biomassa, dan 1,4 MW pembangkit listrik tenaga surya.
“Kami meyakini bahwa perseroan dapat melanjutkan proyek listrik terbarukan kembali ke depan. Perseroan juga telah menerbitkan serfikasi energi terbarukan di Indonesia. Dengan pembangkit listrik tenaga air 59 MW, perseroan berpotensi meraup tambahan pendapatan berkisar US$ 389.400-778.800 dari penjualan kredit karbon,” terangnya.

