Diuntungkan Lonjakan Tarif Tanker, Saham Buana Lintas (BULL) Ditargetkan Menuju Level Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) tengah berada pada posisi menguntungkan untuk memanfaatkan kenaikan tarif tanker global yang didorong dislokasi perdagangan energi dan ketegangan geopolitik. Kondisi ini menjadikan saham BULL layak direkomendasikan beli dengan.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 550 berbasis metode DCF lima tahun. Target harga tersebut mempertimbangkan proyeksi peningkatan pendapatan menjadi US$ 320 juta pada 2026 dan laba bersih diestimasi melonjak menjadi US$ 100 juta atau naik hampir lima kali lipat dibandingkan 2024.
Baca Juga
Target Harga Saham dan Laba Vale (INCO) Dipangkas, Ini Faktor Penekan
Target harga tersebut juga menunjukkan valuasi saham BULL masih menarik dengan estimasi price to earnings (PE) 2026 sebesar 5,2 kali, jauh di bawah rata-rata peers sekitar 19,0x. Hal ini mencerminkan potensi undervaluation, mengingat pasar dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi pertumbuhan laba dengan CAGR tiga tahun sekitar 71,3% serta peningkatan visibilitas pendapatan dari segmen gas.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Rehyan Mucblis dan Andhika Audrey mengatakan, BULL didukung atas sejalan dengan latar belakang makro yang mendukung, yaitu tingkat pertumbuhan permintaan tanker yang lebih tinggi sekitar 3–5% secara tahunan pada 2026 dan melampaui pertumbuhan armada yang hanya sekitar 1–2%.
“Kondisi ini mendorong lonjakan tarif tanker, termasuk Aframax yang telah naik sekitar 214% secara year-to-date (ytd),” tulis riset tersebut.
Adapun pemicu lompatan harga tarif kapal BULL datang dari eskalasi risiko geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang mencakup sekitar 38% perdagangan minyak laut global hingga memicu perpanjang rute pengiriman dan meningkatkan tarif sewa kapal.
Baca Juga
Dinamika ini diperkirakan menjaga tarif tanker tetap tinggi pada periode 2026–2027, sehingga menguntungkan perusahaan pelayaran dengan armada berstandar tinggi seperti BULL.
Tidak hanya mengandalkan siklus bisnis tanker, dia mengatakan, BULL tengah menjalani transformasi strategis menjadi platform pengiriman energi terintegrasi. Perseroan memperluas bisnis ke kapal LNG dan infrastruktur lepas pantai seperti FSRU serta FPSO/FSO, dengan tujuan menciptakan arus kas yang lebih stabil melalui kontrak jangka panjang.
Manajemen menargetkan segmen berbasis gas dapat berkontribusi lebih dari 50% terhadap total pendapatan mulai 2026, didukung potensi kemitraan strategis untuk mengoptimalkan kebutuhan belanja modal dan eksekusi proyek, khususnya di sektor offshore yang padat modal.
