Laba Sinergi Inti Andalan (INET) Melonjak Tajam 1.741% di 2025, Nilainya Segini
JAKARTA, investortrust.id – PT Sinergi Inti Andalan Tbk (INET) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan signifikan sepanjang 2025, ditopang peningkatan pendapatan dan ekspansi operasional. Hal ini ditunjukkan peningkatan laba tahun berjalan sebanyak 1.741%
Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin disebutkan pendapatan bersih perseroan melonjak menjadi Rp 91,82 miliar pada 2025, dibandingkan Rp 30,44 miliar pada 2024. “Ini sebuah bukti nyata bahwa pertumbuhan laba perseroan jauh melampaui dilusi kepemilikan yang terjadi,” jelas Direktur Utama Sinergi Inti Andalan Prima Muhammad Arif, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga
Sinergi Inti Andalan (INET) Kantongi Restu ‘Rights Issue’ dari OJK, Cek Jadwal Pelaksanaannya
Sejalan dengan itu, laba bruto meningkat tajam menjadi Rp 43,89 miliar dari Rp 10,87 miliar. Meski beban penjualan dan beban umum serta administrasi turut meningkat, kinerja operasional tetap menunjukkan penguatan.
Laba usaha INET melesat menjadi Rp 30,32 miliar, jauh lebih tinggi dari pencapaian Rp 1,31 miliar pada tahun sebelumnya. EBIT margin mencapai 33%. “Hal ini, suatu pencapaian yang mencerminkan skala bisnis yang semakin efisien dan kontrak-kontrak bernilai tinggi yang mulai memberikan kontribusi penuh,” menurut Arif.
Manajemen menyimpulkan, 2025 menandai tahun terbaik sepanjang sejarah operasional perseroan sejak pertama kali mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Dari sisi non-operasional, perseroan mencatat penghasilan keuangan sebesar Rp 1,67 miliar, dengan beban keuangan Rp 550,16 juta. Alhasil, laba sebelum pajak penghasilan melonjak menjadi Rp 31,44 miliar dari Rp 1,70 miliar pada 2024.
Baca Juga
Sinergi Inti (INET) Tetapkan Harga Akuisisi 53,57% Saham PADA Rp 106,39 Miliar
Setelah memperhitungkan beban pajak, laba tahun berjalan INET tercatat sebesar Rp 24,49 miliar, melesat signifikan dibandingkan Rp 1,33 miliar pada tahun sebelumnya atau melesat sebanyak 1,741%.
Kenaikan tersebut berimbas terhadap lompatan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dari Rp 1,32 miliar menjadi Rp 24,48 miliar. Laba per saham dasar juga melesat dari Rp 0,18 menjadi Rp 3,10 per saham.

