IHSG Diproyeksi Fluktuatif di Awal Pekan, Saham Energi Bisa Jadi Pilihan
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada awal pekan ini, Senin (9/3/2026), diproyeksikan masih bergerak fluktuatif di tengah tekanan sentimen global dan domestik yang memicu meningkatnya volatilitas pasar.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana memprediksi bahwa dalam jangka pendek IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kisaran support kuat di area 7.450–7.500.
“Jika tekanan global mulai mereda, indeks berpeluang kembali bergerak menuju area 7.900 hingga 8.000 dalam jangka menengah,” kata Hendra kepada investortrust.id, Minggu (8/3/2026).
Baca Juga
Harga Minyak Tembus US$ 100, Produsen Timur Tengah Pangkas Produksi Imbas Perang Iran
Menurut dia, kondisi pasar yang sangat volatil saat ini menuntut investor tetap rasional dalam mengambil keputusan investasi. Keputusan yang bersifat emosional justru berpotensi meningkatkan risiko di tengah ketidakpastian pasar.
Dalam situasi tersebut, investor disarankan lebih selektif dengan fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, serta memiliki katalis positif dari kenaikan harga komoditas global.
Selain itu, strategi bertahap seperti buy on weakness atau akumulasi secara bertingkat dinilai lebih aman dibandingkan melakukan pembelian sekaligus pada satu level harga.
Hendra menjelaskan, tekanan yang membuat IHSG turun ke kisaran 7.500 pada awal Maret 2026 tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi tersebut merupakan kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan sehingga membuat sentimen pasar menjadi sangat sensitif.
Baca Juga
Prabowo Gelar 5 Rapat di Akhir Pekan, Bahas Pendidikan, Geopolitik, hingga Lebaran
Dari sisi eksternal, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu ketidakpastian di pasar keuangan global.
Ketegangan geopolitik tersebut juga mendorong lonjakan harga energi dunia, terutama minyak mentah jenis Brent Crude Oil yang sempat menembus US$93 per barel.
Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, kenaikan harga energi global menjadi sentimen negatif karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta beban subsidi energi dalam APBN.
“Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terlihat dari masih terjadinya arus dana keluar atau foreign net sell,” ujar Hendra.
Risiko Fiskal dan Sektoral
Di sisi lain, pasar juga mulai mencermati kondisi fiskal domestik. Hingga Februari 2026, APBN tercatat mengalami defisit sekitar Rp135 triliun.
Menurut Hendra, jika harga minyak dunia bertahan di level tinggi, pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan antara menambah subsidi energi yang dapat memperlebar defisit anggaran atau menaikkan harga BBM yang berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah sejumlah lembaga pemeringkat global memberikan penilaian yang lebih berhati-hati terhadap risiko ekonomi Indonesia. Ketika persepsi risiko meningkat, investor global biasanya menurunkan eksposur pada aset negara berkembang sehingga memicu volatilitas pasar saham.
Dari sisi sektoral, sektor yang paling rentan dalam situasi geopolitik saat ini adalah sektor yang sensitif terhadap pelemahan daya beli serta kenaikan biaya energi.
Baca Juga
Tujuh Perusahaan Antre IPO di BEI, Didominasi Sektor Keuangan
Sektor consumer goods, transportasi, dan manufaktur dinilai paling terdampak karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan konsumsi masyarakat.
Selain itu, sektor perbankan berpotensi mengalami tekanan karena investor mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dapat memengaruhi kualitas kredit.
“Namun di sisi lain, terdapat sektor yang justru diuntungkan dari situasi geopolitik dan lonjakan harga komoditas energi, yaitu sektor minyak dan gas serta sektor pelayaran energi,” jelasnya.
Rekomendasi Saham
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham dinilai masih menarik untuk dicermati, terutama dari sektor energi yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global.
Beberapa saham tersebut antara lain:
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan potensi target 1.900
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target 2.000
- PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target 900
- PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) dengan target 240
- PT Sochi Lines Tbk (SOCI) dengan target 650
Hendra menambahkan, durasi volatilitas pasar akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik dan stabilitas harga energi global.
Baca Juga
Menteri Ara Bidik 'Groundbreaking' Rusun Subsidi 45 Ha di Depok Juni 2026
Jika konflik di Timur Tengah mereda, harga minyak berpotensi kembali stabil sehingga sentimen pasar global dapat membaik dalam beberapa bulan mendatang. Namun jika eskalasi konflik meningkat dan memicu gangguan pasokan energi global, volatilitas pasar diperkirakan akan bertahan lebih lama.
Dalam kondisi tersebut, peran pemerintah, regulator, serta Self Regulatory Organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar.
“Pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal tetap kredibel dan memberikan kepastian terkait strategi pengelolaan subsidi energi agar tidak menimbulkan spekulasi berlebihan di pasar,” kata Hendra.

