IHSG Diproyeksi Fluktuatif, Level 8.000 Jadi Support Krusial dengan Saham Pilihan ENRG hingga ANTM
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diproyeksikan bergerak fluktuatif pada perdagangan, Selasa (3/3/2026), setelah terkoreksi tajam kemarin di tengah tekanan eksternal. Sebaliknya saham ENRG, INDY, ELSA, dan ANTM direkomendaiskan beli.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai bahwa secara teknikal level 8.000 menjadi support krusial bagi IHSG. Selama indeks mampu bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan jangka pendek masih terbuka.
“Secara teknikal, level 8.000 menjadi support psikologis yang sangat penting. Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang rebound teknikal menuju 8.100 masih terbuka. Namun apabila terjadi breakdown di bawah 8.000, indeks berpotensi melanjutkan koreksi ke area 7.941 sebagai support berikutnya,” kata Hendra kepada investortrust.id, Senin (2/3/2026).
Baca Juga
Enam Tentara AS Tewas, Trump Perkirakan Perang Iran Bisa Berlangsung Lebih Lama
Pada perdagangan Senin (2/3/2026), IHSG ditutup anjlok sebanyak 2,65% ke level 8.016,83, sejalan dengan tekanan global yang dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Aksi militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak dan emas, sehingga mendorong investor global masuk ke mode risk off.
Dengan net sell asing sebesar Rp 490 miliar, tekanan jangka pendek dinilai masih perlu diwaspadai, meski penurunan tajam tersebut juga membuka peluang technical rebound.
Dalam kondisi ini, investor cenderung melepas aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen safe haven. Tekanan semakin terasa karena hampir seluruh sektor mengalami aksi jual, kecuali sektor energi yang relatif tertahan berkat lonjakan harga minyak mentah.
Hendra menyarankan strategi investasi dilakukan lebih selektif dan defensif. Investor jangka pendek dapat memanfaatkan volatilitas melalui pendekatan trading buy pada saham-saham yang mendapatkan sentimen langsung dari kenaikan harga komoditas, khususnya energi dan emas.
Baca Juga
Wall Street Bergejolak Imbas Konflik Iran, tapi Bangkit Berkat Saham Teknologi
Sementara itu, investor jangka menengah hingga panjang diimbau tidak panik dan menunggu konfirmasi stabilisasi di area support kuat sebelum melakukan akumulasi bertahap.
Ia menambahkan, manajemen risiko menjadi kunci, termasuk disiplin menentukan batas cut loss jika skenario pelemahan berlanjut. Kondisi makro domestik dinilai masih solid dengan surplus perdagangan Januari 2026 sebesar 960 juta dolar AS dan inflasi tahunan 4,76%, sehingga koreksi saat ini lebih dominan dipengaruhi faktor eksternal.
Saham Pilihan
Di tengah kondisi tersebut, Hendara menyebutkan, sektor yang layak dicermati adalah energi dan pertambangan emas. Lonjakan harga minyak WTI ke kisaran US$72 per barel dan Brent ke US$78 per barel memberikan sentimen positif bagi emiten energi seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) di level Rp 2.350, PT Indika Energy Tbk (INDY) di Rp 4.400, serta PT Elnusa Tbk (ELSA) di Rp 1.100.
Di sisi lain, kenaikan harga emas di atas 5.400 turut menopang prospek emiten logam mulia seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target Rp 4.720. Kenaikan komoditas ini berpotensi meningkatkan margin dan ekspektasi laba perusahaan, sehingga menjadi penopang relatif di tengah pelemahan sektor lain seperti basic industry dan manufaktur.
Baca Juga
Bursa Eropa Memerah Imbas Perang Iran, Stoxx 600 Anjlok Hampir 2%
Selain konflik Iran dan Israel, investor juga perlu mencermati rilis data domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Bank Indonesia, terutama di tengah pelemahan rupiah ke kisaran 16.855 per dolar AS. Perkembangan kebijakan The Fed serta agenda ekonomi China dalam pertemuan “Two Sessions” juga menjadi sentimen penting bagi arus modal global.
Dengan kombinasi faktor geopolitik dan makro tersebut, volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek. Namun selama fondasi ekonomi domestik tetap terjaga dan harga komoditas bertahan kuat, peluang pemulihan IHSG tetap terbuka setelah tekanan mereda.

