IHSG Anjlok paling Dalam di Asia, Ternyata Triple Threat Ini Jadi Pemicu
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi tiga tekanan utama atau triple threat yang memicu kejatuhan terdalam di Asia hari ini. Ketiga tekanan itu adalah geopolitical contagion, risiko penurunan klasifikasi MSCI, serta risiko sovereign credit.
Mengacu data perdagangan BEI sesi II, Jumat (6/3/2026) pukul 15.01 WIB, IHSG terpantau melemah 143 poin atau 1,86% ke posisi 7.566,80. Bahkan, indeks sempat menyentuh level terendah intraday di 7.500.
Baca Juga
Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan, tekanan pertama berasal dari geopolitical contagion. Ketegangan geopolitik global mendorong investor mengambil sikap risk-off, sehingga arus dana asing mulai keluar dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Selain itu, pasar menghadapi risiko penurunan klasifikasi MSCI Inc. Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (MSCI EM) disebut terus turun dan mendekati level terendahnya. “Jika tren ini berlanjut dan Indonesia berisiko turun ke Frontier Market, potensi arus keluar dana pasif dari indeks global bisa meningkat,” kata Elandry saat dihubungi investortrust.id, Jumat (6/3/2026).
Tekanan berikutnya berasal dari risiko sovereign credit. Sejumlah lembaga pemeringkat global seperti Fitch Ratings, Moody’s, dan S&P Global Ratings memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.
Secara khusus, Fitch Ratings masih melihat fundamental Indonesia relatif solid, seperti stabilitas makro, rasio utang pemerintah yang moderat, serta prospek pertumbuhan ekonomi sekitar 5%.
Baca Juga
Exploitasi Energi (CNKO) Cetak Lompatan Laba 173,60% di 2025, tapi Sahamnya masih di PPK
Namun, lembaga pemeringkat tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan, seperti rasio penerimaan negara yang masih rendah, biaya layanan utang yang cukup tinggi, serta ketidakpastian arah kebijakan fiskal di tengah target pertumbuhan yang lebih agresif dan ekspansi program sosial.
Secara teknikal, Elandry menilai IHSG mulai mendekati area support penting di kisaran 7.200–7.500 yang berpotensi menjadi area rebound, apabila tekanan jual mulai mereda.
Dari sisi geopolitik, dampaknya dinilai sangat bergantung pada eskalasi konflik global. Jika hanya terjadi gangguan terbatas pada infrastruktur energi, harga minyak diperkirakan naik ke sekitar US$80 per barel dengan dampak moderat terhadap inflasi dan pertumbuhan.
“Namun jika terjadi gencatan senjata, harga minyak berpotensi turun kembali ke sekitar US$65 per barel dan pasar berpotensi kembali bullish seiring meredanya risiko geopolitik global,” ujar Elandry.
Baca Juga
Laba Bersih Cinema XXI (CNMA) Turun 3,31% Jadi Rp 704,75 Miliar pada 2025
Saham Pilihan
Dalam kondisi tersebut, sektor yang menarik dicermati adalah energi, logam, dan perbankan besar. Emiten energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA) dinilai berpotensi diuntungkan jika harga minyak meningkat.
Sementara dari sektor logam, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) kerap menjadi alternatif ketika investor mencari aset safe haven.
Di sisi lain, bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) biasanya menjadi kandidat utama untuk rebound ketika sentimen pasar mulai membaik.

