Pasar Kripto Bergejolak, CFX Sebut Derivatif Bisa Jadi Instrumen Lindung Nilai Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Produk derivatif kripto punya peluang tinggi untuk bertumbuh di Indonesia. Di Indonesia, pasalnya, produk ini baru menyumbang sekitar 20% dari total volume perdagangan aset kripto dan 80% sisanya masih berasal dari transaksi spot. Kondisi ini berbeda dengan global yang sudah lebih besar porsi derivatif ketimbang spot.
Meski demikian, Direktur Utama PT Central Finansial X (CFX) Subani optimistis kontribusi derivatif akan meningkat seiring bertambahnya jumlah pedagang yang terhubung ke sistem bursa.
Derivatif perpetuals aset kripto adalah produk kontrak derivatif yang nilainya didasarkan pada aset kripto dan diperdagangkan tanpa tanggal kedaluwarsa, berbeda dari kontrak berjangka tradisional yang memiliki tanggal penyelesaian tertentu.
Kontrak perpetuals memungkinkan konsumen untuk mempertahankan atau menutup posisi mereka sesuai dengan keinginan tanpa harus memperpanjang kontrak atau menetapkan tanggal akhir.
Kontrak perpetuals memiliki sistem funding rate yang menjaga harga kontrak untuk tetap mendekati harga acuan atau spot. Derivatif perpetual aset kripto menciptakan peluang perdagangan bagi konsumen untuk jangka pendek maupun panjang.
Derivatif sendiri berperan penting dalam melindungi risiko dan mengambil keuntungan dari fluktuasi harga aset. Hal itu bisa terjadi karena derivatif sebagai sebuah kontrak pembelian memungkinkan adanya harga yang telah ditentukan pada kontrak yang sudah dibuat.
Saat ini, volume perdagangan derivatif baru dihasilkan oleh lima pedagang dari total 25 pedagang aset keuangan digital (PAKD) yang menjadi pedagang kripto berizin. Sebanyak 20 pedagang lainnya masih dalam proses pengembangan sistem agar dapat terhubung dengan mekanisme perdagangan derivatif di bursa.
“Kami harapkan pedagang yang masih berproses bisa segera ikut dalam pasar derivatif sehingga membantu meningkatkan transaksi. Secara global, komposisi perdagangan derivatif justru lebih tinggi dibanding spot,” ujar Subani dalam acara buka bersama media, di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga
Meski belum dapat mematok target persentase kontribusi derivatif tahun ini, CFX optimistis pasar akan bergairah. Apalagi, pergerakan pasar kripto sangat dipengaruhi dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik seperti konflik di Iran serta kondisi ekonomi internasional.
Ia mengakui bahwa pasar kripto sempat mengalami koreksi harga cukup dalam akibat gejolak global. Namun, volume transaksi dinilai relatif lebih stabil dibanding volatilitas harga. Ketika konflik geopolitik memicu tekanan di pasar, harga kripto sempat terkoreksi tajam. Namun, pemulihan berlangsung cepat dan kondisi pasar kini dinilai lebih stabil dibanding periode koreksi sebelumnya.
Selain faktor eksternal, siklus empat tahunan kripto juga diakui turut memengaruhi dinamika harga. Meski demikian, ia menilai pergerakan kripto sulit diprediksi secara presisi dalam jangka pendek.
“Kalau kita lihat, koreksi harga memang terjadi. Tetapi volume perdagangan tidak sedalam koreksi harganya apalagi sekarang sudah banyak institusi yang sudah masuk dan biasanya mereka jangka panjang,” katanya.
Baca Juga
Dongkrak Daya Saing Bursa Kripto, CFX Pangkas Biaya Transaksi Dua Kali di Maret dan Oktober
Fungsi Lindung Nilai
Subani menegaskan kehadiran produk derivatif, khususnya kontrak perpetual, bertujuan memberikan instrumen lindung nilai (hedging) bagi investor. Dalam instrumen ini, pelaku pasar berpotensi memperoleh keuntungan baik saat harga naik maupun turun, selama sesuai dengan prediksi posisi yang diambil.
“Kalaupun pasar spot terdampak penurunan volume atau harga, derivatif bisa menjadi instrumen lindung nilai. Itulah salah satu tujuan utama produk ini diluncurkan,” katanya.
Produk derivatif kripto sendiri baru diluncurkan pada akhir 2024. Karena tergolong baru, penetrasinya di pasar domestik masih terbatas. Selain itu, salah satu tantangan utama peningkatan transaksi derivatif adalah kesiapan teknis pedagang. Produk derivatif merupakan produk bursa dengan order book terpusat, sehingga pedagang wajib terhubung langsung ke sistem perdagangan bursa.
Proses integrasi tersebut membutuhkan waktu pengembangan dari masing-masing pedagang, termasuk kesiapan sumber daya dan infrastruktur teknologi. “Setiap pedagang memiliki kompleksitas yang berbeda, terutama dalam pengembangan sistem agar bisa terkoneksi ke bursa. Ini yang membuat prosesnya bertahap,” ujar Subani.
Meski demikian, secara bisnis seluruh pedagang dinilai memiliki insentif kuat untuk segera menghadirkan produk derivatif kepada nasabahnya agar tetap kompetitif di pasar. “Secara natural semua pedagang pasti ingin memiliki produk yang lengkap. Jadi tanpa imbauan pun, mereka tentu tidak ingin tertinggal,” tegas Subani.

