IHSG Sesi I Anjlok 1,6%, Sebaliknya Saham Energi Ini justru Perkasa
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Senin (2/3/2026), ditutup melemah sebanyak 131 poin (1,60%) menjadi 8.103. Rentang pergerakan 8.039-8.235 dengan nilai transaksi Rp 16,11 triliun.
Penurunan indeks ini sejalan dengan pelemahan seluruh sektor saham setelah perang AS-Israel menyerang Iran. Pelemahan terdalam melanda saham sektor consumer primer sebanyak 5,12%, sektor keuangan 2,34%, sektor infrastruktur 2,92%, sektor property 2,63%, sektor teknologi 2,30%. Sebaliknya penguatan melanda saham sektor energi 1,60%.
Baca Juga
Saham penekan utama indeks datang dari penurunan big cap, seperti TPIA, PGUN, FILM, INCO, MORA, BREN, PANI, hingga ASII. Pelemahan indeks juga dipicu kejatuhan seluruh saham bank besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Adapun saham dengan kenaikan harga paling pesat, yaitu saham OILS menguat 29,59% menjadi Rp 254, IFSH melemah 22,91% menjadi Rp 2.200, APEX naik 21,15% menjadi Rp 252, saham SMMT naik 13,33% menjadi Rp 1.275, dan ENRG menguat 14,20% menjadi Rp 2.010.
Sepanjang pekan lalu, IHSG catatkan penurunan 36,28 poin (0,44%) menjadi 8.235. Pemodal asing mencatatkan lompatan pembelian bersih (net buy) sebanyak Rp 4,90 triliun. Net buy terbanyak disumbangkan saham BBRI mencapai Rp 1,14 triliun.
Baca Juga
Nilai Ekspor Januari 2026 US$ 22,16 Miliar, Naik 3,39% Secara Tahunan
Secara sectoral, penurunan dipicu atas pelemahan saham sektor energi, material dasasr, property, infrastruktur, transportasi, teknologi. Sebaliknya saham sektor industry, material dasar, dan consumer primer catatkan kenaikan.
Penurunan ini menjadikan kinerja IHSG BEI menajdi yang terburuk di Asia Pacifik sepanjang year to date (ytd) dengan pelemahan mencapai 4,76%. Adapun indeks dengan kenaikan tertinggi ytd dicatatkan indeks Kospi dengan penguatan 48,17% disusul indes SET dari Thailand dengan kenaikan 21,23%.

