IHSG Sesi I Anjlok 5,31%, Sebaliknya Saham SMGR hingga AADI Perkasa
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Senin (2/2/2026), ditutup anjlok sebanyak 442 poin (5,31%) menjadi 7.887. Rentang pergerakan 7.858-8.341 dengan nilai transaksi Rp 18,55 triliun.
Penurunan dipicu kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor material dasar 11,19%, sektor consumer primer 7,92%, sektor energi 7,87%, sektor property 6,39%, dan sektor infrastruktur 6,52%. Adapun saham keuangan dan kesehatan tercatat dengan penurunan paling rendah.
Baca Juga
XLSmart (EXCL) Gaspol 5G, Tantang Telkomsel-Indosat dan Bidik Kenaikan ARPU
Penurunan indeks juga dipicu atas kejatuhan saham-saham big cap dan konglomerasi, seperti saham DSSA, BREN, BRPT, PTRO, TPIA. Penurunan juga melanda saham RATU, RAJA, BUVA. Begitu juga dengan konglomerasi Haji Isam, seperti PGUN, JARR, dan FAST ikut anjlok.
Sebaliknya beberapa saham berikut cetak kenaikan dengan auto reject atas (ARA) melanda saham SOHO sebanyak 24,79% menjadi Rp 2.240. Kenaikan juga melanda saham EDGE sebanyak 12% menjadi Rp 5.175, SMGR naik 6,12% menjadi Rp 2.600, CMRY naik 6,86% menjadi Rp 5.450, dan AADI menguat 4,61% menjadi Rp 7.950.
Pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI ditutupa njlok mencapai 621 poin (6,94%) menjadi 8.329. Koreksi tersebut menjadi penurunan mingguan IHSG BEI terparah dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, perdagangan saham sempat terkena trading halt selama dua hari beruntun.
Baca Juga
BPS: Ekspor Indonesia Desember 2025 Naik 11,6% Tembus US$ 26,35 miliar
Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar (market cap) BEI menguap Rp 1.197 triliun menjadi Rp 15.046 triliun hanya dalam sepekan. Tak hanya itu, pemodal asing terpantau merealisasikan penjualan bersih (net sell) saham jumbo mencapai Rp 13,92 triliun pekan ini.
Adapun pada perdagangan akhir pekan, indeks berhasil rebound signifikan 97,41 poin (1,18%) menjadi 8.329. Meski demikian, net sell saham oleh pemodal asing masih gencar dengan total senilai Rp 1,5 triliun.

