Ekspansi dan Pemulihan Produktivitas Dorong Prospek SSMS, Harga Saham Dibidik Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek kinerja PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) diproyeksi semakin menguat, seiring ekspansi strategis dan pemulihan produktivitas yang tengah berlangsung.
Setelah kunjungan lapangan terbaru, Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Farras Farhan dan Wilbert Arifin menilai, SSMS telah memperkuat basis operasional melalui konsolidasi PT Sawit Mandiri Lestari (SML).
Akuisisi senilai Rp 1,6 triliun tersebut mencakup sekitar 21.000 hektare lahan, termasuk 12.000 hektare lahan tanam. Alhasil total luas lahan SSMS meningkat menjadi sekitar 136.000 hektare, dengan 95.000 hektare di antaranya merupakan lahan tanam.
Menurut Farras dan Wilbert, SML memiliki produktivitas tandan buah segar (TBS) yang lebih tinggi, yakni 27,9 ton per hektare, dibandingkan rata-rata SSMS sebesar 21,9 ton per hektare.
Kinerja tersebut didukung profil tanaman yang lebih muda dengan rata-rata usia 8,5 tahun, lebih rendah dari rata-rata grup di kisaran 15,7 tahun. Selain itu, fasilitas pabrik SML berkapasitas 75 ton per jam dengan kadar asam lemak bebas (feed for acid/FFA) di bawah 3%, dinilai menopang efisiensi pengolahan.
Baca Juga
Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Resmi Akuisisi Sawit Mandiri Lestari Senilai Rp 1,6 Triliun
Tidak hanya memperluas lahan, SSMS juga mengembangkan model integrasi kelapa sawit dan sapi. Ke depan, perusahaan berencana memperluas ke fasilitas rumah potong hewan, serta peternakan sapi perah guna meningkatkan integrasi vertikal dan menciptakan nilai tambah jangka panjang.
Mirae Asset pun menyimpulkan, SSMS memasuki fase pendapatan yang lebih kuat secara struktural pada periode 2026–2028. Proyeksi menunjukkan hasil panen TBS meningkat dari 20,6 ton per hektare pada 2024 menjadi sekitar 24 ton per hektare pada 2026.
Di sisi lain, oil extraction rate (OER) diperkirakan naik ke level 26–27%, sehingga produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) berpotensi melampaui 686 ribu ton.
Dengan volume hilir yang stabil dan asumsi harga jual rata-rata (ASP) yang lebih tinggi, visibilitas pendapatan dinilai semakin solid. Hal ini diyakini akan mendorong ekspansi margin dan menciptakan leverage pendapatan berkelanjutan di luar siklus normalisasi industri.
Margin Meningkat, Neraca Kian Kuat
Dari sisi keuangan, proyeksi hingga 2028 mencerminkan pertumbuhan EBITDA dan laba bersih yang signifikan. Pertumbuhan ini didorong oleh kontribusi CPO yang lebih kuat, efisiensi ekstraksi, serta leverage operasional yang membaik.
Pada saat yang sama, rasio utang bersih perusahaan tercatat menurun tajam, sementara cakupan bunga meningkat secara substansial. Dengan kenaikan Return on Average Equity (ROAE) meski leverage lebih rendah, penciptaan nilai dipercaya semakin ditopang oleh pertumbuhan pendapatan dan struktur modal yang lebih disiplin, serta menghasilkan arus kas.
Mirae Asset mentransfer liputan saham SSMS dan mempertahankan rekomendasi Beli dengan target harga Rp 2.300 per saham. Hingga penutupan perdagangan pada Jumat (20/2/2026), saham SSMS masih berada pada level Rp 1.705.
Target tersebut pun merefleksikan estimasi price-to-earnings (P/E) 2026 sebesar 17,4 kali dan valuasi EV per hektare sebesar Rp 392,8 juta.
“Kami melihat SSMS bertransisi dari kisah pemulihan deleveraging menjadi fase profitabilitas yang lebih kuat secara struktural mulai 2026 dan seterusnya,” tulis Farras dan Wilbert dalam risetnya.
Meski demikian, analis mengingatkan sejumlah risiko utama, antara lain potensi pelemahan harga CPO berkepanjangan, faktor cuaca yang kurang kondusif, serta inflasi biaya input yang dapat menekan margin.

