Berkah Ramadan: Sektor Konsumsi dan Perbankan Syariah Jadi Jagoan di Tengah Volatilitas Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Prospek saham syariah dinilai masih cukup potensial menjelang Ramadan, sekalipun performa indeks seperti Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menunjukkan pergerakan yang beragam di awal tahun ini.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai tekanan saham syariah saat ini lebih disebabkan oleh faktor global dan perputaran uang investor, bukan karena fundamental perusahaan yang sebenarnya masih kokoh dan tahan banting.
“Dalam konteks Ramadan, peningkatan konsumsi domestik berpotensi menjadi penopang kinerja emiten berbasis consumer goods, pangan, dan ritel,” kata Hendra kepada investortrust.id Rabu, (18/2/2026)
Perbedaan kinerja antar indeks syariah, seperti menguatnya IDX Sharia Growth dan IDX MES BUMN17 dibandingkan JII dan ISSI, lebih disebabkan oleh komposisi saham di dalamnya. IDX Sharia Growth diisi saham dengan profil pertumbuhan laba lebih agresif sehingga lebih responsif ketika pasar memburu growth story.
Sementara IDX MES BUMN17 berisi saham BUMN syariah dengan fundamental kuat dan stabilitas pendapatan, sehingga menjadi pilihan investor saat mencari keamanan relatif. Jadi perbedaan performa ini mencerminkan karakter masing-masing indeks.
“Momentum musiman Ramadan dan Idulfitri secara historis sering menjadi katalis positif, terutama bagi sektor konsumsi, pangan, peternakan, ritel, hingga perbankan syariah. Peningkatan belanja menjelang Lebaran mendorong penjualan emiten makanan dan minuman serta kebutuhan pokok,” tuturnya.
Selain itu, menurut Hendra, distribusi THR dan peningkatan mobilitas masyarakat menciptakan efek multiplier terhadap ekonomi domestik. Dalam kondisi indeks syariah yang masih tertekan, momentum ini bisa memicu technical rebound sekaligus peluang akumulasi karena valuasi sebagian saham sudah relatif menarik.
“Di tengah kondisi pasar saat ini, sektor yang paling menarik dalam kelompok saham syariah adalah consumer staples, agribisnis-pangan, energi berbasis batu bara dengan arus kas kuat, serta perbankan syariah,” jelas Hendra.
Ia juga menyoroti tema ketahanan konsumsi domestik menjadi kunci karena ekonomi Indonesia masih ditopang belanja rumah tangga. Saham dengan neraca sehat dan cash flow kuat cenderung lebih diminati di tengah ketidakpastian global.
Adapun beberapa saham syariah layak dicermati di antaranya, saham ADRO direkomendasikan trading buy dengan target Rp 2.500 karena fundamental dan cash flow masih solid serta valuasi relatif murah. Saham INDF layak buy dengan target Rp 7.000 memanfaatkan momentum konsumsi Ramadan dan karakter defensifnya.
Sementara saham JPFA menarik secara spekulatif dengan target Rp 2.830 seiring potensi kenaikan permintaan unggas. Sementara di sektor perbankan syariah, BRIS juga spekulatif buy dengan target Rp 2.600 didukung pertumbuhan pembiayaan dan peningkatan literasi keuangan syariah.
“Secara keseluruhan, Ramadan bukan hanya momentum spiritual tetapi juga momentum ekonomi. Dalam kondisi indeks syariah yang masih bergerak variatif, peluang justru terbuka bagi investor yang mampu mengombinasikan momentum musiman, valuasi menarik, dan fundamental solid dalam strategi investasinya,” tandas dia
