Menguji Resiliensi Perbankan di Tengah Volatilitas Global
PENGANTAR - Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka bukan sekadar penanda perjalanan waktu, melainkan rekam jejak ketangguhan sebuah bangsa yang terus bertumbuh di tengah lanskap global yang dibayangi perlambatan ekonomi, fragmentasi perdagangan, rivalitas geopolitik, transisi energi, hingga disrupsi teknologi.
Untuk merekam pencapaian tersebut, Investortrust mempersembahkan edisi khusus berisi 17 artikel, sebagai ikhtiar mendokumentasikan capaian Indonesia pada momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami juga telah menerbitkan dalam format edisi Majalah cetak yang dibagikan kepada para tokoh penting yang menghadiri Pidato Kenegaraan di Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD pada 14 Agustus dan Upacara Peringatan HUT Kemerdekan di Istana pada 17 Agustus 2026.
Semoga edisi khusus 81 Tahun Merdeka ini yang disajikan berseri ini sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa perjalanan menuju masa depan adalah proses yang menuntut konsistensi, kolaborasi, dan keberanian mengambil keputusan strategis.
Oleh: Hari Gunarto
INVESTORTRUST – Sektor perbankan Indonesia memasuki 2026 dengan kondisi yang relatif solid di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, serta perubahan perilaku nasabah yang semakin digital. Di saat banyak negara menghadapi perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko keuangan, industri perbankan nasional masih mampu menjaga pertumbuhan kredit, kualitas aset, likuiditas, dan permodalan pada level yang cukup kuat.
Perbankan tetap menjadi tulang punggung sistem keuangan Indonesia. Fungsi intermediasi berjalan positif, kredit terus tumbuh, dana pihak ketiga meningkat, sementara transformasi digital berlangsung semakin agresif. Namun di balik kinerja yang terlihat kuat tersebut, sektor perbankan juga menghadapi tantangan baru, mulai dari tekanan suku bunga, risiko perlambatan ekonomi global, meningkatnya persaingan digital, hingga perubahan lanskap pembiayaan yang semakin dipengaruhi teknologi.
Sementara itu, transformasi digital telah menjadi salah satu pilar utama perubahan industri perbankan Indonesia dalam satu dekade terakhir. Digitalisasi tidak lagi sekadar menghadirkan layanan perbankan berbasis aplikasi, tetapi telah mengubah model bisnis bank menjadi penyedia ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Berbagai inovasi seperti mobile banking, internet banking, QRIS, BI-FAST, open banking, kecerdasan artifisial (AI), analitik data, hingga layanan berbasis Application Programming Interface (API) telah mempercepat inklusi dan literasi keuangan nasional. Hasilnya terlihat nyata melalui pertumbuhan pesat jumlah nasabah digital, lonjakan volume dan nilai transaksi elektronik, peningkatan efisiensi operasional, perluasan akses pembiayaan bagi UMKM, serta semakin kuatnya daya saing industri perbankan nasional.
Ke depan, transformasi digital perbankan diproyeksikan akan memasuki fase yang lebih strategis, yakni membangun intelligent banking ecosystem yang mengintegrasikan layanan keuangan, perdagangan digital, pembayaran, investasi, pembiayaan, hingga layanan publik dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Pemanfaatan AI, machine learning, cloud computing, biometrik, dan teknologi blockchain akan semakin meningkatkan personalisasi layanan, efisiensi operasional, serta kualitas manajemen risiko. Pada saat yang sama, tantangan keamanan siber, perlindungan data pribadi, tata kelola AI, dan penguatan talenta digital akan menjadi agenda prioritas yang harus diantisipasi bersama.
Dengan dukungan regulasi yang adaptif dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), transformasi digital diyakini akan menjadi katalis penting bagi peningkatan daya saing industri perbankan sekaligus memperkuat peran sektor keuangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Banyak bank besar mengalokasikan anggaran yang semakin besar untuk pengembangan AI, analitik data, cloud computing, serta layanan keuangan berbasis digital. Bahkan BI mulai menyiapkan pengembangan sistem pembayaran generasi baru sebagai bagian dari Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030.
Profil Risiko Terjaga
Jika mengacu pada perkembangan terkini, sektor perbankan nasional memang resilien menghadapi turbulensi dan volatilitas global. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan, Dian Ediana Rae menegaskan bahwa kinerja intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga. Pada Mei 2026, kredit tumbuh sebesar 11,51% secara tahunan (yoy) menjadi sebesar Rp 8.918 triliun. Kredit investasi tumbuh tertinggi sebesar 21,95%, diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 8,09%, dan kredit konsumsi sebesar 5,89%.
Adapun berdasarkan kategori debitur, kata Dian Rae, kredit dengan pertumbuhan tertinggi adalah kredit korporasi sebesar 18,39% yoy, sedangkan kredit UMKM tumbuh tipis 0,60%. Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi sebesar 15,98%. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh dua digit, 13,49% menjadi Rp 10.294 triliun.
Likuiditas industri perbankan pada Mei 2026 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 108,20% dan 24,74%. Artinya masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%. Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 186,54%.
Yang lebih penting, tutur Dian, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,17% dan NPL net terjaga di 0,84%, Loan at Risk (LaR) 8,72%. “Tingkat profitabilitas bank (ROA) tercatat sebesar 2,45% dengan ketahanan permodalan perbankan sangat kuat dengan CAR 23,74%,” kata dia.
Dari sisi digitalisasi, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut bahwa transaksi ekonomi dan keuangan digital pada kuartal II-2026 tetap tumbuh didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal untuk menopang kegiatan ekonomi. Volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88% (yoy), didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital. Volume transaksi melalui internet dan aplikasi mobile masing-masing tumbuh sebesar 16,88% (yoy) dan 31,39% (yoy) termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 100,12% (yoy).
Kinerja QRIS yang positif tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant. Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1.529 juta transaksi atau tumbuh 38,09% (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp 3.777 triliun pada kuartal II-2026. Sementara itu, volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 2,63 juta transaksi atau tumbuh 13,03% (yoy), dengan nominal transaksi mencapai Rp 53.492 triliun. Dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 14,03% (yoy) menjadi Rp1.315 triliun pada triwulan II 2026.
“Digitalisasi mengubah struktur persaingan industri perbankan. Bank tidak lagi hanya bersaing dalam penghimpunan dana dan penyaluran kredit, tetapi juga bersaing dalam kualitas aplikasi, pengalaman pengguna, kecepatan layanan, keamanan siber, dan integrasi ekosistem digital,“ ujar Perry usai rapat Dewan Gubernur BI pada 22 Juli, sebelum dia mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.
Hadapi Tiga Tekanan
Para bankir mengakui bahwa tantangan industri perbankan kian kompleks di era volatilitas tinggi saat ini. Untuk jangka pendek-menengah ini, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Hery Gunardi menyebut bahwa tantangan itu terkait dengan kondisi pengetatan likuiditas, kenaikan suku bunga, dan melambatnya permintaan kredit. Menyikapi kondisi ini, bank wajib menjaga ketahanan likuiditas, memperkuat kualitas aset, serta lebih selektif dalam menyalurkan kredit.
“Penyaluran kredit harus lebih selektif, prioritaskan di sektor-sektor produktif. Pengelolaan kualitas aset mesti diperkuat melalui proses underwriting yang lebih ketat, sistem early warning yang lebih granular, serta kesiapan penagihan apabila kualitas kredit mulai memburuk,“ tuturnya.
Berpendapat senada, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Riduan mengungkapkan, dinamika suku bunga akan menjadi perhatian utama pada semester II-2026 karena memengaruhi masalah pendanaan, penyaluran kredit, serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah harus disikapi lewat prinsip pengelolaan risiko yang pruden. Hal ketiga yang dicermati adalah perkembangan geopolitik serta ekonomi global yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga komoditas dan pasar keuangan.
Meski dibayangi berbagai ketidakpastian tersebut, Riduan memastikan pihaknya tetap berkomitmen menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Strategi yang akan ditempuh antara lain optimalisasi pertumbuhan berbasis ekosistem, akselerasi transaksi dan transformasi digital berkelanjutan, serta peningkatan kualitas layanan.
Sementara itu, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pihaknya terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan. "Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama.
Menurut Putrama, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.
Chief Economist BRI, Anton Hendranata menyatakan, kondisi industri perbankan berada dalam kategori resilien. Intermediasi berjalan baik, likuiditas relatif terjaga, dan pertumbuhan kredit tetap berada pada level tinggi. “Namun demikian, kami mengingatkan mulai muncul tekanan terhadap profitabilitas, kecukupan modal, serta likuiditas yang perlu diantisipasi agar stabilitas sistem keuangan tetap terpelihara,” ujar Anton.
Atas dasar itu, Anton menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko seiring meningkatnya LDR, kenaikan risiko kredit, dan tren penurunan CAR agar ekspansi tetap berlangsung secara sehat dan berkelanjutan. “Bank juga perlu memanfaatkan indikator Early Warning System (EWS) likuiditas sebagai alat deteksi dini untuk mengantisipasi tekanan pendanaan tiga hingga enam bulan ke depan sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat sebelum tekanan likuiditas semakin besar,” tuturnya.
Perbankan juga mesti mengantisipasi hasil survey Kadin Institute terbaru (15/7/2026) bahwa banyak perusahaan memilih menjaga likuiditas dan menahan investasi dalam enam bulan ke depan. Tekanan terhadap permintaan, pelemahan nilai tukar rupiah, birokrasi, ketidakpastian kebijakan, serta meningkatnya biaya operasional itu menjadi alasan utama.
Menurut Chief Kadin Institute Mulya Amri, persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis dan sektor industri pada kuartal II-2026 terus melemah. Sebanyak 50,6% UKM menyatakan kondisi bisnis mereka memburuk. Setidaknya 43,5% responden menyatakan tidak berencana melakukan investasi dalam enam bulan ke depan.
Prospek sektor perbankan memang tidak bebas risiko. Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, volatilitas nilai tukar, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga global berpotensi memengaruhi kualitas kredit dan permintaan pembiayaan domestik. Kualitas manajemen risiko mesti lebih rigid. Kondisi ini membuat OJK dan BI terus mengingatkan perbankan agar tidak terlalu agresif mengejar ekspansi tanpa memperhatikan kualitas aset.
Risiko lain yang mulai menjadi perhatian adalah pertumbuhan cepat pembiayaan digital dan paylater. Meski memberikan peluang ekspansi pasar yang besar, risiko gagal bayar kini mengintai.
Dalam jangka menengah, prospek industri perbankan Indonesia masih cukup positif. Pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif stabil, meningkatnya investasi, program hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, serta transformasi digital nasional diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit.
Dengan kondisi permodalan yang kuat, likuiditas yang longgar, kualitas aset yang masih terjaga, dan percepatan digitalisasi yang terus berlangsung, sektor perbankan Indonesia saat ini berada dalam posisi yang resilien untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi ke depan. Namun, kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inovasi, dan mitigasi risiko akan menjadi faktor penentu apakah industri perbankan mampu mempertahankan kinerja positif tersebut dalam beberapa tahun mendatang. ***

