Indeks Wall Street Kompak Menghijau, Ada Peran Warren Buffett
JAKARTA, investortrust.id - Indeks saham bursa saham kompak menghijau Senin waktu AS atau Selasa dini hari (15/8) waktu Indonesia. Kenaikan ini mengakhir pekan-pekan penuh kepanikan yang melanda investor yang kemudian terus melepas kepemlilikan.
Indeks S&P 500 terpantau naik naik 0,15%, sedangkan indeks Nasdaq-100naik 0,28%. Sementara itu indeks Dow Jones Industrial Average terkerek 20 poinatau setara 0,06%.
Kenaikan indeks-indeks utama Wall Street ini ditopang kenaikan saham dari berbagai sektor, meski pada kasus tertentu ada saham ternama turun harga. Saham perusahaan konstruksi D.R. Horton maupun Lennar masing-masing terpantau naik sekitar 2%.
Kenaikan saham-saham ini juga berkaitan dengan kebijakan investasi Berkshire Hathaway, kerajaan bisnis milik Warren Buffett. Seiring dengan itu, saham NVRnaik sekitar 1%.
Sebaliknya saham Discover Financialturun sekitar 5% menyusul kabar pengunduran diri CEO perusahaan ini.
Ketika saham-saham semikonduktor dan teknologi pulih, indeks S&P 500 dan Nasdaq Compositemasing-masing terkerek 0,58% dan 1,05% selama sesi perdagangan reguler. Sedangkan indeks Dow Jones naik 26,23 poin, atau 0,07%.
Pemulihan harga saham AS pada Senin mengakhiri penjualan besar-besaran pekan sebelumnya yang sempat merusak reli musim panas.
Seiring dengan itu, enam dari 11 sektor utama S&P berakhir positif, dipimpin saham sektor teknologi informasi. Saham perusaan Nvidianaikecerdasan buatan (AI) naik 7,1% saat Morgan Stanley mengulangi chipmaker tersebut sebagai pilihan teratas. Sedangkan saham VanEck Semiconductor ETF naik sekitar 3%.
Meskipun kemungkinan masih ada kenaikan pasar hingga akhir tahun, beberapa manager investasi di Wall Street, termasuk Alicia Levine dari BNY Mellon Wealth Management, bersiap untuk konsolidasi lebih lanjut karena yield tetap tinggi.
"Ini sehat. Ini bukan tanda pasar yang goyah. Ini sedikit konsolidasi, dan ini adalah tempat di mana Anda benar-benar dapat mulai mempertimbangkan untuk menambahkan," ujar Alicia Levine seperti dilansir CNBC.
"Kami tidak suka mencoba mengatur waktu pasar, itu tidak pernah berhasil," tutur Alicia Levine. Ia juga menambahkan, pergerakan saham bulan Agustus dan September secara siklus pasar saham cenderung melemah.
Dari sisi ekonomi makro, Wall Street menantikan pengumuman data data perdagangan ritel selama Juli. Data ini menjadi gambaran bagi pelaku pasar tentang kondisi konsumen. Pasar juga menanti data harga impor dan ekspor bersama dengan indeks pasar perumahan bulan Agustus.

