Geoprima Solusi (GPSO) Beri Penjelasan Soal Akuisisi Aset Rp 700 Miliar Milik Tjokro Group
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) memaparkan langkah strategis perseroan untuk memperkuat eksistensi di pasar modal Indonesia. Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Induk pada 20 Januari 2026 bersama PT Morita Tjokro Gearindo (MTG), PT Tjokro Bersaudara Cikarangindo (TBC), serta PT Jaya Indah Casting (JIC).
Dalam keterangan tertulisnya, manajemen GPSO menjelaskan kesepakatan tersebut menjadi dasar rencana akuisisi terhadap sejumlah entitas usaha dan aset strategis dengan nilai transaksi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 700 miliar.
Dalam rencana tersebut, GPSO menargetkan pengambilalihan hingga 99,9% saham PT Pulogadung Tempajaya (PTJ), PT Tjokro Bersaudara Komponenindo (TBK), dan PT Jakarta Marten Logamindo (JML).
Manajemen GPSO menyampaikan keyakinannya bahwa aksi korporasi ini akan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan ke depan. Dampak yang diharapkan mencakup peningkatan laba serta peluang pembagian dividen yang lebih besar bagi para pemegang saham.
“Konsolidasi ini akan menjadikan Perseroan salah satu pemain utama yang memiliki rantai pasok solid untuk menciptakan efisiensi, stabilitas, serta menjaga pertumbuhan berkelanjutan,” tulis manajemen dalam keterangannya.
Adapun manfaat utama dari rencana akuisisi tersebut antara lain mencakup keunggulan operasional, di mana entitas yang akan diakuisisi, yakni PTJ, TBK, dan JML, dinilai memiliki pengalaman panjang di industri fabrikasi komponen. Ketiga entitas tersebut juga telah didukung oleh basis pelanggan tetap, teknologi, serta sistem operasional yang berjalan stabil.
Baca Juga
Tjokro Group Tuntaskan Akuisisi 45,45% Saham Geoprima (GPSO)
Selain itu, GPSO juga menargetkan pendapatan berulang melalui penguasaan hak pengelolaan aset berupa tanah dan bangunan pabrik yang berlokasi di kawasan industri Jababeka dan EJIP. Pengelolaan aset tersebut diproyeksikan menghasilkan pendapatan sewa dengan tingkat rental rate berkisar antara 5% hingga 10%.
Dari sisi integrasi bisnis, Tjokro Group yang saat ini dikenal sebagai salah satu pelaku terbesar industri pembuat komponen di Indonesia, akan mendorong transformasi GPSO menjadi perusahaan induk dengan potensi omzet triliunan rupiah. Struktur usaha ini akan mencakup integrasi hulu hingga hilir, mulai dari proses forging hingga heat treatment.
Terkait pendanaan, manajemen GPSO menyebut perseroan tengah mengevaluasi berbagai opsi pembiayaan yang paling optimal. Alternatif yang dikaji antara lain melalui skema share swap berupa inbreng saham dalam Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD), maupun penggunaan instrumen utang lainnya.
Perseroan menegaskan komitmennya untuk tetap mematuhi seluruh ketentuan yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia. Proses transaksi juga akan melalui penilaian kewajaran oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) independen.
Melalui langkah ini, GPSO berharap dapat meningkatkan eksposur di hadapan publik sekaligus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

