Bangun LNG Plant, Jababeka (KIJA) Raih Kredit Rp 149,08 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) meraih fasilitas kredit senilai Rp 149,08 miliar dari Bank China Custrustion Bank Indonesia (CCBI). Dana tersebut digunakan untuk membiayai konstruksi sipil dan mechanical electrical untuk proyek mini likquid natural gas (LNG) Plant.
Fasilitas pinjaman tersebut didapatkan perseroan melalui cucu usahanya PT Likuid Nusantara Gas (LNG). Sebagaimana diketahui, Jababeka melalui anak usahanya PT Jababeka Infrastruktur merupakan pemegang 60% saham LNG.
Baca Juga
Jababeka (KIJA) Rangkum Marketing Sales Rp 2,21 Triliun, Lampaui 11% Target 2023
Manajemen perseroan menyebutkan pinjaman tersebut berjangka waktu 96 bulan sejak penandatanganan perjanjian kredit pada 28 Februari 2024. Sedangkan bunga pinjaman mencapai 10% per tahun.
“Pinjaman dari CCBI untuk membiayai pengembangan bisnis LNG tersebut akan berdampak positif bagi pertumbuhan pendapatan profitalisasi Jababeka secara konsolidasi setelah beroperasi,” tulis manajemen di Jakarta, hari ini.
Tahun lalu, KIJA merangkup penjualan pemasaran real estate (marketing sales) sebesar Rp 2,21 triliun di tahun 2023. Perolehan ini melebihi 11% dari target yang dipatok Perseroan Rp 20 triliun di 2023 dan 29% di atas pencapaian tahun 2022 sebesar Rp1,72 triliun.
Manajemen KIJA merinci, kontribusi marketing sales dari Kawasan Cikarang mencapai Rp 913,7 miliar dari lahan seluas 28 hektare, terutama berasal dari penjualan tanah matang 26,2 hektare senilai Rp 558,3 miliar.
Baca Juga
Secara total penjualan tanah matang dan bangunan pabrik mencapai Rp 612,2 miliar, di mana investor domestik menyumbangkan 52% dari nilai tersebut, sedangkan sisanya 48% berasal dari investor asing (terutama dari China).
Kemudian Kawasan Kendal menyumbang marketing sales sebesar Rp 1,24 triliun yang berasal dari penjualan lahan 84,7 hektare di tahun 2023, meningkat sekitar 68% dibandingkan tahun 2022 sebesar Rp 737,2 miliar.
“Di Kendal, investor asing (dari Hong Kong, China, Taiwan, Jerman, Malaysia, India, dan Korea Selatan) mendominasi dengan kontribusi nilai sebesar 81% di tahun 2023, sedangkan investor domestik menyumbangkan sisanya sebesar 19%,” jarnya.

