IHSG Menguat Tipis, Sentimen The Fed hingga MSCI Masih Membayangi
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan awal pekan di zona hijau, meski sentimen pasar masih dibayangi sikap hati-hati investor. Pengumuman The Fed dan rebalancing MSCI jadi perhatian utama pasar.
Pada penutupan perdagangan Senin (24/1/2026), IHSG rebound 24,32 poin atau 0,27% ke level 8.975 dengan nilai transaksi mencapai Rp 32,39 triliun. Pemodal asing juga mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham di seluruh pasar senilai Rp 422,20 miliar.
Baca Juga
Reli Saham Emiten Emas Berlanjut, EMAS Memimpin Kenaikan Capai 153% Sejak IPO
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai bahwa pelaku pasar cenderung wait and see menjelang keputusan The Fed. “Mengingat kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga di pertemuan minggu ini, serta potensi rebalancing LQ45 tentunya,” ujarnya kepada investortrust.id di Jakarta, hari ini.
Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menambahkan bahwa tekanan terhadap IHSG dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. “Dari global, pasar merespons kenaikan imbal hasil US Treasury, ekspektasi suku bunga global bertahan tinggi lebih lama, serta rotasi investor menjelang rebalancing indeks MSCI dan dinamika free float, yang menekan aliran dana asing ke emerging markets,” katanya.
Selain itu, minimnya katalis domestik dalam jangka pendek, aksi ambil untung pascareli, serta kehati-hatian investor menghadapi pergerakan dana pasif turut menahan laju indeks. Tekanan juga tercermin dari aliran dana asing, dengan Foreign Net Buy year to date tersisa Rp 2,47 triliun.
Dalam sepekan terakhir, IHSG melemah 1,37% setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.174. Pelemahan indeks turut dipengaruhi depresiasi rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar AS dan berdampak negatif pada sektor keuangan sebagai penopang utama indeks. Di sisi lain, harga emas global justru menembus rekor baru di atas US$ 5.000 per ounce, yang mencerminkan rotasi investor global ke aset aman dan mengurangi eksposur pada saham.
Baca Juga
Berbalik Net Buy Rp 422,20 Miliar, Asing justru Borong Saham PTRO Saat Harga Anjlok
Secara teknikal, IHSG dinilai berada dalam fase pullback yang masih sehat setelah reli sebelumnya. Tekanan jual terutama terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus dana asing. Selama indeks tidak menembus level support penting, koreksi ini dipandang sebagai teknikal dan belum mengindikasikan pembalikan tren.
“Tekanan diperkirakan bersifat jangka pendek dan dapat berlangsung sampai pasar mendapatkan kejelasan soal arus dana asing, rebalancing indeks, dan stabilisasi yield global. Jika tidak ada guncangan eksternal baru, peluang stabilisasi hingga technical rebound terbuka dalam beberapa sesi ke depan,” kata Liza.

