MNC Sekuritas Rekomendasikan Jakarta International Hotel (JIHD) 'Wait and See'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — MNC Sekuritas mencermati saham PT Jakarta International Hotel & Development Tbk (JIHD) dengan pendekatan wait and see.
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyampaikan, secara teknikal pergerakan saham JIHD masih perlu dicermati lebih lanjut. “Secara teknikal, JIHD direkomendasikan wait and see,” katanya saat dihubungi investortrust.id, Minggu (25/1/2026).
Dari sisi kinerja keuangan, JIHD mencatatkan laba sebesar Rp 30,51 miliar pada semester I 2025. Realisasi tersebut turun 26,88% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 41,73 miliar. Penurunan laba ini turut menekan laba per saham menjadi Rp 13,10 dari sebelumnya Rp 17,92.
Pendapatan usaha JIHD tercatat sebesar Rp 786,46 miliar hingga akhir semester I 2025, meningkat 3,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 761,06 miliar. Beban pokok penjualan tercatat Rp 170,66 miliar, naik dari Rp 165,85 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sehingga laba kotor meningkat menjadi Rp 615,79 miliar dari sebelumnya Rp 595,21 miliar.
Baca Juga
Suspensi Dicabut, Pantau Gerak Saham KONI dan JIHD Usai Lompatan Harga Ratusan Persen
Dari sisi beban usaha, beban penjualan meningkat menjadi Rp 14,26 miliar dari Rp 13,84 miliar. Beban umum dan administrasi tercatat Rp 556,50 miliar, naik dibandingkan Rp 536,28 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pajak final tercatat Rp 41,14 miliar, menurun dari Rp 40,21 miliar.
Dengan demikian, total beban usaha JIHD mencapai Rp 611,92 miliar, meningkat dari Rp 590,34 miliar. Kondisi tersebut membuat laba usaha turun menjadi Rp 3,87 miliar, dari sebelumnya Rp 4,86 miliar.
Baca Juga
Sementara itu, pendapatan sewa dan pengelolaan kawasan tercatat sebesar Rp 124,77 miliar, naik dari Rp 120,51 miliar. Pendapatan bunga meningkat menjadi Rp 9,35 miliar dari Rp 6,74 miliar. Adapun bagian laba entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat Rp 2,23 miliar, turun dari Rp 12,66 miliar. Keuntungan selisih kurs tercatat Rp 86,27 juta, menurun dari Rp 2,15 miliar.

