Lo Kheng Hong Tambah Kepemilikan, Gajah Tunggal (GJTL) Punya Daya Tahan Bisnis yang Kuat?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) mendapat sinyal kepercayaan jangka panjang setelah investor kawakan Lo Kheng Hong menambah kepemilikan sahamnya. Aksi itu dilakukan Lo Kheng Hong di tengah tekanan kinerja keuangan Gajah Tunggal sepanjang 2025. Berarti GJTL punya daya tahan bisnis yang kuat?
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Lo Kheng Hong kini memegang 204,22 juta saham GJTL setara dengan 5,86%. Keterbukaan informasi perseroan kepada BEI menunjukkan, Lo Kheng Hong menambah kepemilikan saham GJTL dalam beberapa tahap pada 2025, termasuk pada Februari dan Mei.
Penambahan kepemilikan saham dilakukan Lo Kheng Hong saat kinerja laba Gajah Tunggal mengalami penurunan seiring melemahnya penjualan dan meningkatnya beban produksi akibat tekanan biaya bahan baku serta fluktuasi nilai tukar.
Baca Juga
Emiten Andalan Lo Kheng Hong (GJTL) Raih Lompatan Laba 41,36% hingga Kuartal III-2024
Hingga 30 September 2025, GJTL membukukan laba bersih Rp 789,7 miliar, turun sekitar 20% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, penjualan bersih tercatat Rp 13,12 triliun, turun 2,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Penurunan kinerja ini mencerminkan kondisi industri ban yang masih menghadapi tantangan, baik dari sisi biaya maupun permintaan pasar.
Meski demikian, langkah Lo Kheng Hong dinilai memperlihatkan bahwa Gajah Tunggal masih memiliki prospek bisnis yang kuat, dari kapasitas produksi, jaringan ekspor, hingga kekuatan merek ban, seperti GT Radial dan Giti, baik di pasar domestik maupun internasional.
Selain itu, GJTL kembali membayar dividen tunai pada 2025 setelah sempat berhenti beberapa waktu sebelumnya. Dividen diumumkan sekitar Rp 50 per saham untuk tahun buku 2024, dengan jadwal pembayaran pada 30 Juli 2025.
Langkah ini merupakan aksi korporasi penting, karena menunjukkan komitmen perusahaan untuk berbagi laba kepada pemegang saham meskipun kinerja 2025 relatif menantang.
Baca Juga
Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/1/2026), saham GJTL ditutup turun 0,90% ke level Rp 1.120 dengan market cap Rp 3,9 triliun.
Dalam sebulan, saham GJTL menguat 7,7% dan selama tahun berjalan (year to date/ytd) naik 7,2%. Penguatan saham GJTL lebih baik ketimbang indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dalam sebulan dan selama tahun berjalan masing-masing hanya naik 3,5% dan 3,5%.
Yang pasti, rasio keuangan GJTL masih terbilang lumayan. Emiten yang dinakhodai Sugeng Rahardjo itu memiliki return on asset (ROA) 3,54% dan return on equity (ROE) 7,81%. Mengacu pada kinerja keuangan kuartal III-2025, price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) GJTL masing-masing mencapai 4,96 kali dan 0,39 kali.

