Arah IHSG di Tengah Defisit APBN dan Isu BI, Ini Sektor yang Masih Menarik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan tetap dibayangi volatilitas tinggi di tengah pelebaran defisit APBN dan kekhawatiran pasar terhadap isu independensi Bank Indonesia (BI), namun di balik tekanan tersebut masih terdapat sejumlah sektor yang dinilai memiliki prospek menarik untuk dicermati investor.
Mengacu perdagangan BEI sesi II, Jumat (23/1/2026), IHSG ditutup melemah 0,46% ke level 8.951,01 pada penutupan pekan ini. Padahal, pada awal pembukaan perdagangan, IHSG sempat melesat 39,31 poin atau 0,44% ke posisi 9.031.
Co Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal Hans Kwee memandang pergerakan IHSG tahun ini berada pada dua kemungkinan utama. Dalam skenario optimistis atau bull case, indeks diproyeksikan berpeluang melesat hingga menembus level 10.000. Sementara skenario terburuk atau bear case, IHSG berpotensi mengalami tekanan dan terkoreksi ke level 7.500
“Fluktuasi pasar saham akan sangat tinggi di 2026. Arah IHSG itu menuju 10.000, dengan bear case itu ke 7.500 dalam 12 bulan ke depan. Tapi arahnya naik dengan volatilitas yang sangat tinggi,” kata Hans Kwee dalam acara Edukasi Wartawan secara daring, Jumat (23/1/2026).
Dalam jangka pendek, Hans mengingatkan adanya sentimen jangka pendek dari rencana perubahan mekanisme penghitungan free float MSCI pada akhir Januari 2026 yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG.
Baca Juga
Saat IHSG Ditutup Turun 0,46%, Lima Saham Dipimpin LMPI justru ARA
Ia juga menjelaskan, tantangan utama IHSG tahun ini datang dari sentimen makro, khususnya persepsi investor asing terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 2,92% dinilai menjadi perhatian serius pelaku pasar global.
Dari sisi kebijakan moneter, kekhawatiran investor asing juga mengarah pada isu independensi Bank Indonesia (BI), menyusul pencalonan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Thomas Djiwandono. Menurut Hans, pasar perlu diyakinkan bahwa sosok tersebut merupakan figur profesional dan independen.
“Jadi, dia sudah mundur dari partai dan orang tuanya juga bekas di BI, dia harusnya menyadari, BI ini harus independen. Jadi, ini cuma spekulan dari (investor) asing yang kurang percaya, berpendapat bahwa defisit kita melebar, independensi BI terganggu, sehingga mereka outflow dari pasar kita,” bebernya.
Meski demikian, Hans menilai tekanan tersebut masih dapat diredam. Yield obligasi domestik yang berada di kisaran 6% dinilai relatif rendah, sementara dampak perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia diperkirakan terbatas. Selain itu, terdapat ruang perbaikan fundamental emiten pada 2026.
Dari sisi sektoral, Hans melihat sejumlah sektor masih menarik untuk dicermati. Pada sektor konsumer, saham-saham seperti PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), hingga PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dinilai cukup menarik. Sementara di sektor emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) disebut masih memiliki prospek yang baik.
Adapun sektor batu bara dinilai berpeluang bangkit dengan saham-saham seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Di sektor mining, perhatian diarahkan pada PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Dalam menghadapi volatilitas pasar, Hans menekankan pentingnya strategi investasi yang adaptif terhadap kondisi makro dan geopolitik global. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan likuiditas agar investor memiliki ruang untuk melakukan akumulasi saat pasar terkoreksi. Namun, bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang, fokus utama sebaiknya diarahkan pada kualitas emiten.
“Jadi lebih bagus fokus ke emiten per emiten, pelajari fundamentalnya, terutama prospek company ke depan,” tegasnya.

