Usai Cetak Rekor 9.133, Pemodal Diminta Waspadai Konsolidasi IHSG Ini dan Fokus Saham Ini
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) menembus level 9.133 pada penutupan perdagangan kemarin, meski dilanda tekanan global serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar AS.
Founder Stocknow dan Republik Investor Hendra Wardana mengatakan bahwa penguatan IHSG kemarin mencerminkan fase kepercayaan kuat investor terhadap prospek ekonomi nasional, meski sentimen global dibayangi ketidakpastian mulai dari perang dagang, arah kebijakan suku bunga The Fed, hingga ketegangan geopolitik.
Baca Juga
Target Kinerja Keuangan dan Harga Saham ANTM Direvisi Naik, Ini Sejumlah Faktor Pendorong
“Likuiditas domestik dan keyakinan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia menjadi faktor utama pendorong penguatan IHSG,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Senin (19/1/2026).
Menurut Hendra, investor lokal cenderung mengalihkan fokus pada fundamental emiten dan prospek domestik dibanding sentimen global jangka pendek. Stabilitas fiskal, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi yang dijaga pemerintah dan Bank Indonesia menjadi fondasi penguatan indeks.
IHSG didorong oleh saham berkapitalisasi besar, terutama pada sektor konsumer primer dan konsumer siklikal. Sejumlah saham yang tampil dominan antara lain ASII, AKRA, BRPT, JPFA, DSSA, MDKA, dan BBNI. “Kenaikan sektor konsumer menunjukkan pasar masih optimistis terhadap daya beli masyarakat, meskipun rupiah melemah,” jelas Hendra.
Baca Juga
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa ketahanan IHSG terhadap tekanan global tetap perlu dicermati. Risiko meningkat, apabila eskalasi perang dagang berlanjut, inflasi global kembali naik, atau pemangkasan suku bunga The Fed tertunda.
Potensi Konsolidasi
Ke depan, IHSG diperkirakan memasuki fase konsolidasi setelah reli yang cukup panjang. Secara teknikal, indeks berada dalam kondisi jenuh beli moderat, sehingga koreksi jangka pendek dinilai wajar untuk menjaga tren naik tetap sehat.
Baca Juga
Dow Futures Anjlok, Wall Street Cemas Eskalasi Tarif AS–Eropa
Hendra menilai strategi yang relevan bagi investor adalah tetap disiplin, buy on weakness, dan trading terukur dengan manajemen risiko ketat.
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai bahwa penguatan IHSG turut ditopang arus dana asing ke saham perbankan besar, emiten big cap, dan saham konglomerasi. “Untuk perdagangan hari ini berpotensi fluktuatif, karena IHSG berada di zona tinggi dan rawan profit taking,” kata Reydi.
Menurutnya, saham dengan fundamental kuat, terutama sektor perbankan dan energi, masih berpeluang kembali diakumulasi investor asing.

