IHSG Sesi I Melesat 0,27%, Tiga Saham Dipimpin ESTI Naik di Atas 34%
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Senin (19/1/2025), ditutup menguat 24,29 poin (0,27%) menjadi 9.099. Rentang pergerakan 9.026-9.109 dengan nilai transaksi Rp 16,40 triliun.
Kenaikan tersebut terdorong penguatan sejumlah sektor saham, seperti saham sektor konsumer primer 1,12%, sektor infrastruktur 0,48% sektor property 0,32%, sektor keuangan 0,08%, dan sektor energi 0,20%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor material dasar, kesehatan, industry, dan teknologi.
Baca Juga
Naiknya Harga Emas Beri Peluang Positif bagi Industri Pergadaian
Di tengah penguatan tersebut, beberapa saham ini mencatatkan kenaikan hingga auto reject atas (ARA), seperti ESTI naik 34,74% menjadi Rp 256, ZATA menguat 34,57% menjadi Rp 109, dan BELL naik 34,55% menjadi Rp 148, saham ROCK sebanyak 25% menjadi Rp 2.700.
ARA juga melanda saham OASA naik 24,62% menjadi Rp 486, ELIT menguat 24,58% menjadi Rp 294, dan RLCO menguat 19,83% menjadi Rp 7.250. Meski tak ARA, sejumlah saham ini catatkan lompatan harga, seperti saham INOV naik 31,15% menjadi Rp 240, ASPR menguat 29,13% menjadi Rp 164, HOPE naik 24,35% menjadi Rp 286, dan BNBA naik sebanyak 22,61% menjadi Rp 1.220.
Pekan lalu, IHSG berhasil catatkan penguatan sebanyak 1,55% dari 8.936 ke rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) 9.075. Kapitalisasi pasar (market cap) juga sentuhATH senilai Rp 16.512 triliun.
Baca Juga
Pengendali Prajogo kembali Tambah Saham Barito Renewables (BREN)
Berdasarkan data BEI, IHSG bergerak menguat selama empat hari transaksi sepanjang pekan lalu. Begitu juga dengan rata-rata nilai transaksi harian naik 3,87% menjadi Rp 32,68 triliun dari Rp 31,46 triliun pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar juga naik 1,29% menjadi Rp 16.512 triliun.
Sementara itu, pemodal asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) mencapai Rp 7,30 triliun sepanjang tahun 2026 berjalan atau dalam tiga pekan terakhir. Net buy jumbo tersebut berbanding terbalik dengan nilai tukar Rupiah yang mengalami penurunan.

