TLKM Jadi Tolok Ukur Restrukturisasi BUMN, Saham Melonjak 30% dan Prospek Rerating Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang dipengaruhi agenda restrukturisasi dan reformasi struktural. Salah satunya saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang disorot dengan peluang rerating sejalan dengan berlangsungnya restrukturisasi.
Dalam Danantara Economic Outlook 2026, pergerakan harga saham BUMN dipandang sebagai refleksi upaya penyehatan neraca dan perbaikan tata kelola yang mulai diterjemahkan ke dalam jalur re-rating yang lebih kredibel.
Baca Juga
Laporan tersebut menilai TLKM telah muncul sebagai “stress test” pasar, menandakan kinerja Telkom kini menjadi tolok ukur keberhasilan restrukturisasi dan sejauh mana pasar bersedia menilai perusahaan lebih tinggi.
Sepanjang 2025, TLKM melakukan perampingan struktur usaha dengan mengurangi jejak anak usaha dan kembali fokus pada kompetensi inti. Arah baru ini ditujukan untuk menekan beban overhead, meningkatkan efisiensi, serta memaksimalkan pemanfaatan aset dan pendapatan pihak ketiga.
Transformasi menuju model yang lebih asset-light diapresiasi pasar. Saham TLKM melonjak lebih dari 30% dan mencatat arus dana asing yang jarang terjadi di tengah tekanan jual pasar yang lebih luas. TLKM juga tercatat mengungguli BUMN lain yang tergabung dalam indeks IDXBUMN20.
Baca Juga
Investor Asing Lanjutkan Aksi Borong Saham, ARCI hingga BREN
Selain Telkom, sejumlah saham BUMN lain mencatat kenaikan signifikan pada 2025. KRAS naik 243%, TINS 221%, dan GMFI 210%. Kinerja positif turut tercermin pada PTPP yang naik 123%, IPCC 98%, ANTM 97%, GIAA 96%, dan WSBP 75%. Sebaliknya, SMGR terkoreksi 18% dan JSMR turun 22%.
Ke depan, prospek fundamental TLKM dipandang tetap solid. Emiten ini diproyeksikan menjaga laba di kisaran Rp 21–25 triliun dalam beberapa tahun ke depan, seiring struktur usaha yang lebih ramping dan efisien.
Setelah 2025 menjadi tahun pemulihan, 2026 diharapkan membawa perbaikan likuiditas, pertumbuhan kredit, dan laba, dengan disiplin cost-to-income yang lebih kuat, memperkuat narasi bahwa TLKM berada pada jalur re-rating yang semakin kredibel.

