Penjualan Diprediksi Tumbuh 30%, Mobil Hybrid Transisi Menuju Era BEV
Opini oleh Yannes Martinus Pasaribu,
peneliti mobil listrik Institut Teknologi Bandung
INVESTORTRUST - Hybrid electric vehicle (HEV)adalah kategori electrified vehicle terpopuler dan menunjukkan pertumbuhan yang kuatdi kawasan Asean. Konsumen di negara berkembang seperti Indonesia dan Thailandlebih memilih opsi kendaraan transisi mobil hybrid menuju era battery electric vehicle (BEV), karena kombinasi efisiensi bahan bakar, performa bagus, dan cost of ownership masih jauh lebih termurah.
Di Thailand, pertumbuhan penjualan mobil hybrid di atas rata-rata ASEAN. Year to date (hingga September 2023), penjualan hybrid-nya mencapai39.340 unittanpa insentif khusus. Namun, Negeri Gajah Putih ini memberikan perpanjangan insentif BEV dan plug-in hybrid electric vehicle(PHEV) hingga 2025. Pemerintahnya tercatat memiliki kolaborasi yang ideal dengan semua industri, pebisnis, dan masyarakat, yang mempromosikan green vehicle and green environment (ekosistem EV).
Di Indonesia, pada fase awal penjualan mobil hybrid Januari-September 2022, tercatat relatif rendah-moderat. Namun, sejak Oktober 2022–Agustus 2023 minat terhadap sport utility vehicle (SUV)/multi-purpose vehicle (MPV) hibrida secara rerata meningkat signifikan.
Pasar HEV Indonesia bahkan diprediksi memiliki potensi pertumbuhan 25-30% per tahun ke depan, seiring makin gencarnya edukasi produk dan tambahan dukungan kebijakan (IEA, 2022). Di sisi lain, survei menunjukkan 87% konsumen di Indonesia tertarik membeli BEV hanya jika biaya kepemilikan sudah jauh menurun. Di sinilah, mobil hibrida bisa menjadi jawaban untuk mobil yang lebih ramah lingkungan, karena biaya kepemilikan lebih rendah dibanding BEV. (Nusachotim M, et al, 2021).
Baca Juga
Bersiap Transisi ke Electric Part, Astra Otoparts Minta Hal Ini ke Pemerintah
Perbedaan Utama Mobil ICE vs EV
Didorong pula tuntutan dari negara-negara maju untuk mempercepat transisi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan yang lebih ramah lingkungan, maka berbagai jenis electrified vehicleterus berkembang, seperti HEV, plug-in hybrid electric vehicle(PHEV),dan BEV. Mobil-mobil ini memiliki sejumlah perbedaan utama yang menjadi faktor penentu pengembangan lebih lanjut.
Bila mobil internal combustion engine (ICU) sumber tenaga100% mesin pembakaran dalam bahan bakar fosil/biofuel, pada HEV kombinasi mesin bensin dan motor listrik. Untuk PHEVsumber tenaga kombinasi mesin bensin dan baterai, dan dapat di-charge dari sumber listrik eksternal.Sedangkan BEV 100% motor listrik yang digerakkan baterai.
Dari sisi emisi, ICE menghasilkan emisi CO2 dan gas buang dari mesin pembakaran.HEV masih menghasilkan emisi, tetapi lebih rendah dari ICE.Pada PHEV saat EV mode (baterai) tidak menghasilkan emisi.Sedangkan untuk BEV 0 emisi.
Jarak tempuh kendaraan ICE sekali pengisian bahan bakar tergantung kapasitas dan efisiensi mesin. Untuk HEV, dengan jarak tempuh 20-30 km dengan kecepatan rendah bisa menggunakan motor listrik.
Untuk PHEV bisa menempuh 40-80 km dengan motor listrik, sebelum mesti beralih ke mesin bensin. Sedangkan BEV bisa menempuh sekitar 200-500 kmdalam sekali pengisian daya hingga penuh, tergantung kapasitas baterai.
Biaya operasional kendaraan ICE mahal dan trennya naik, karena sepenuhnya menggunakan bahan bakar fosil. Sedangkan HEV masih menggunakan bahan bakar fosil, namun sudah bisa menghemat BBM sekitar 40-50%.
Untuk PHEV lebih murah lantaran menggunakan listrik dan sedikit BBM. Sedangkan BEV termurah karena hanya menggunakan listrik.
Sedangkan dari sisi biaya kepemilikan (cost of ownership), kendaraan ICE termurah, karena menggunakan 1 penggerak dan tanpa baterai. Baterai mobil listrik merupakanparts termahal EV.
HEV sedikit lebih mahal, karena memakai 2 drivetrain dan baterai kecil. Berikutnya, PHEV lebih mahal lagi karena memakai 2 drivetrain dan baterai lebih besar. Sedangkan BEV termahal karena menggunakan baterai paling besar.
Pentingnya Transisi ke Mobil Listrik
Lalu, pertanyaannya, mengapa diperlukan transisi untuk mengisi gap peralihan dari kendaraan ICE menuju BEV? Ini lantaran sejumlah faktor, seperti teknologi baterai BEV masih terus berkembang dan harganya mahal untuk pasar massal. Oleh karena itu, diperlukan kendaraan transisi yang terjangkau seperti HEV dan PHEV untuk jembatan menuju BEV, dan mengisi gap sebelum BEV ekonomis.
Infrastruktur pendukung BEV seperti jaringan stasiun pengisian daya listrik juga masih sangat terbatas di Tanah Air. Diperlukan kendaraan transisi yang masih dapat bergantung pada mesin ICE seperti HEV dan PHEV, saat infrastruktur di Tanah Air belum matang.
Di Indonesia, industri komponen kendaraan listrik seperti baterai dan mesin motor listrik juga masih dalam tahap awal pengembangan. Diperlukan kendaraan transisi seperti HEV untuk mendorong industri secara bertahap, hingga siap untuk masa BEV nanti.
Selain itu, akumulasi emisi karbon sudah sangat tinggi saat ini,yang harus segera ditekan. Kendaraan transisi HEV dan PHEV sangat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, selama dalam masa transisi sebelum sepenuhnya BEV.
Dari sisi regulasi dan kebijakan serta kesiapan masyarakat tentang kendaraan listrik juga butuh waktu. Masih diperlukan kendaraan transisi untuk mengisi gap selama negara dan masyarakat beradaptasi dengan elektrifikasi transportasi ini.
Mobil hybridjuga dapat memberikan pengalaman berkendara yang ramah pengguna dan ramah lingkungan dalam learning curve proses transisi ke BEV penuh tahun 2050-2060, tanpa khawatir kehabisan daya listrik di tengah jalan. HEV dan PHEV secara otomatis memperoleh baterainya via mesin ICE, sehingga dapat menggunakan ICE saat berkendara di banyak daerah yang belum terlayani Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Dengan dapat mengisi energi dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun SPKLU, maka HEV dan PHEV dapat menjadi solusi di pasar Indonesia sebagai transisi menuju era mobil listrik sepenuhnya. Dengan fleksibilitas tersebut, HEV danPHEV dapat lebih cepat diadopsi masyarakat, sehingga berkontribusi penting dalam menurunkan emisi di tengah proses menuju ekosistem BEV penuh.
Situasi Infrastruktur SPKLU
Sementara itu, situasi infrastruktur SPKLU di Indonesia masih terbatas. Proyeksi roadmap pembangunan SPKLU pemerintah sekitar 3.860 unit (hingga 2025), Kementerian ESDM 32.000 unit (hingga 2030), dan PLN akan mendukung Kementerian ESDM sebanyak 24.720 unit (hingga 2030).
Didasarkan pada asumsi pertumbuhan business as usual, tanpa dorongan kuat kebijakan pemerintah dan realisasi kongkretnya, SPKLU akan terus meningkat sebesar 20% per tahun. Hal ini seiring perkembangan teknologi dan tingkat penerimaan masyarakat terhadap BEV.
Pembangunan infrastruktur SPKLU di Indonesia tercatat masih menghadapi beberapa tantangan. Ini antara lain biaya pembangunan yang tinggi, pemahaman masyarakat yang masih rendah, dan peraturan yang belum memadai.
Peran Mobil Hybrid Solusi Transisi
Mobil hybridini menggabungkan ICE, motor listrik, dan baterai, sehingga dapat berperan sebagai solusi transisi menuju kendaraan listrik murni (BEV). Dari sisi teknologi mirip dengan BEV, sehingga membantu masyarakat dan industri mulai beradaptasi dengan teknologi elektrifikasi kendaraan, misalnya dalam penyiapan komponen seperti motor listrik, baterai, dan sistem manajemen daya.
Harga mobil hybrid juga jauh lebih murah dibandingkan BEV untuk kelas mobil yang hampir sama. Hal ini membuat mobil hybrid lebih terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Artinya, dapat menjembatani kesenjangan harga, sebelum BEV benar-benar ekonomis dan terjangkau oleh masyarakat Indonesia.
Infrastruktur pendukung seperti bengkel dan layanan perawatan untuk mobil hybrid dan BEV juga banyak kesamaannya. Pelaku industri bisa mulai mengembangkan infrastruktur tersebut meski pasar BEV belum besar.
Kebijakan dan regulasi pendukung elektrifikasi kendaraan yang awalnya diterapkan untuk mobil hybrid juga dapat menjadi landasan untuk regulasi BEV di masa mendatang, terutama mempertimbangkan potensinya dalam membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar. Selain itu, mengurangi emisi gas buang dibandingkan mobil ICE konvensional, sehingga membantu tujuan berkelanjutan (sustainability) jangka pendek.
Penjualan Mobil ICE, Hybrid, dan BEV
Secara global, penjualan kendaraan BEV tumbuh pesat dari 3,2 juta pada 2020 menjadi 17,2 juta pada 2029. Laju pertumbuhannya melambat setelah tahun 2029 hingga 2050. Pola pertumbuhan ini menunjukkan adopsi awal yang cepat terhadap BEV, kemudian mulai stabil karena kendala infrastruktur dan kemampuan industri mengikuti permintaan.
Untuk penjualan kendaraan hybrid tumbuh perlahan dari 3,2 juta di 2020 menjadi 5,9 juta di 2029. Setelah itu pertumbuhannya naik tajam hingga mencapai puncak 30,2 juta pada 2049, sebelum turun lagi menjadi 23 juta pada 2050. Pola ini menunjukkan hybrid sebagai jembatan transisi sebelum dominasi BEV.
Penjualan kendaraan ICE anjlok dari 96,8 juta pada 2020 menjadi 41,6 juta pada 2039. Setelah 2039, pertumbuhannya terus negatif dan menjadi 15,6 juta pada 2050. Ini menunjukkan ICE masih dipakai dalam jangka panjang tetapi terus tergerus oleh kendaraan elektrifikasi.
Penjualan mobil hybriddiproyeksikan mencapai pertumbuhan puncak sebelum dominasi BEV. Ini sesuai dengan peran hybrid sebagai jembatan transisi menuju elektrifikasi transportasi. Sementara, mobil ICE diprediksi masih ada dalam jangka panjang. (Sumber: Yannes Martinus Pasaribu)
Efisiensi dan Lingkungan
Dalam transisi menuju ekosistem BEV penuh, Indonesia perlu mengimplementasi kebijakan prolingkungan dengan sejumlah langkah. Pertama, pengenaan pajak karbon untuk kendaraan bermotor yang menghasilkan emisi gas buang berbahaya seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon, oksida nitrogen (NOx), sulfur (SOx), dan partikulat debu termasuk timbal (PB).Pajak karbon bertujuan mengurangi dampak emisi karbon dan mendorong pertumbuhan kendaraan ramah lingkungan.
Saat ini, pemerintah baru menerapkan pajak karbon melalui pajak emisi CO2 hanya untuk kendaraan baru. Kebijakan ini perlu diperluas.
Pemerintah perlu mengatur tarif pajak karbon berdasarkan harga pasar karbon per kg CO2, yang juga berpotensi menjadi pemasukan kas negara melalui perhitungan perdagangan carbon credit dunia (0,21 USD-150 USD per ton of carbon dioxide equivalent atau tCO₂e).
Pajak karbon bisa diterapkan melalui pajak bahan bakar, pajak emisi CO2, atau pajak energi.Penerapan carbon tax ini perlu dipersiapkan untuk seluruh kendaraan bermotor berdasarkan pengeluaran emisi, agar target udara bersih tercapai.
Pajak karbon ini juga sangat mampu mendorong penjualan mobil hybrid. Untuk itu, perlu segera disusun strategi implementasinya di Indonesia.
Pemberian berbagai dukungan tersebut akan memberikan level playing field yang lebih kondusif bagi investasi industri mobil hybrid di Indonesia, sehingga menumbuhkan iklim bisnis yang baik bagi semua pelaku industri. Apalagi, HEV juga berperan menghemat BBM.
Daur Ulang Baterai HEV di AS
Di negara lain seperti Amerika Serikat, sejumlah industri telah mengambil langkah penting dalam transisi menuju ekosistem BEV penuh. Sebagaimana dilansir EVinFocus baru-baru ini, Toyota berkomitmen me-recycle baterai HEV untuk BEV di negara maju itu.
Toyota meneken perjanjian dengan perusahaan di Nevada untuk mendaur ulang baterai sel HEV yang populasinya sudah cukup besar di Amerika Serikat, guna dijadikan supply baterai BEV di tahun 2025. Melalui kerja sama ini, Toyota berupaya memastikan ketersediaan suplai baterai untuk BEV, daripada terlalu bergantung pada teknologi baterai yang ada saat ini.
Proyek daur ulang Toyota dan Redwood adalah model ekonomi sirkular yang terlokalisasi dan efisien. Kerja sama ini berupaya meminimalkan emisi dan memperpendek waktu antara masa pakai EV dan penggunaan kembali bahan baterai.
Dari kasus ini dapat dipelajari bahwa keberadaan HEV secara langsung mendorong potensi BEV di masa depan, terutama dari ketersediaan baterai dan ekosistemnya. Untuk itu, penting kerja sama yang kuat antara pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan manufaktur agar target dapat tercapai dengan transisi yang baik, guna menciptakan rantai nilai yang sustainable. ***

