Mobil Hybrid, Transisi Penentu Transformasi ke BEV yang Butuh Insentif
JAKARTA, investortrust.id – Pengembangan mobil listrik hybrid (hybrid electric vehicle/HEV) merupakan kebijakan paling tepat di Indonesia sebagai transisi atau jembatan menuju era mobil listrik murni berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Penguatan ekosistem mobil hybrid (hibrida) dibutuhkan sampai pasar BEV benar-benar terbentuk dan matang, infrastruktur penunjang BEV sudah siap, dan harga BEV makin terjangkau.
Kultur dan lifestyle di negara berkembang seperti Indonesia dan Thailand lebih menyukai mobil hybrid, karena kombinasi baterai dan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien hingga 40-50%, performa bagus, cost of ownership relatif lebih murah, serta resale value yang lebih terjamin. Di Indonesia, penjualan mobil ramah lingkungan ini ke depan diprediksi tumbuh 25-30% per tahun.
Potensi pasar domestik dan ekspor mobil hybrid sangat besar. Di dalam negeri, penetrasi pasar mobil hybrid baru 6% sehingga terbuka peluang yang lebar. Di level global, tahun ini nilai pasar mobil global mencapai US$ 156 miliar, dan berpotensi meningkat 10 kali lipat menjadi US$ 1.301 miliar pada tahun 2032, atau pertumbuhannya mencapai 30% per tahun.
Pengembangan mobil hybrid maupun BEV akan mengubah lanskap industri komponen nasional. Meski demikian, industri komponen sudah mengantisipasi dan mendukung penuh pengembangan mobil hybrid. Dukungan juga diberikan oleh perusahaan pembiayaan.
Agar industri mobil hybrid berkembang, pemerintah perlu memberikan dukungan kebijakan dan pemberian insentif, seperti yang berlaku pada BEV. Insentif yang diperlukan antara lain simplifikasi pajak, pengurangan atau peniadaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Sedemikian pentingnya peran strategis industri mobil hybrid yang akan menjadi penentu kesuksesan transformasi ke era mobil listrik murni (BEV).
Demikian benang merah seminar bertajuk “Potensi Besar dan Kebutuhan Insentif Mobil Hybrid” yang digelar investortrust.id, di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Rabu (29/11/2023).
Seminar yang dibuka Deputi V Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon itu menghadirkan panelis Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy, Direktur PT Astra Otoparts Tbk Kusharijono, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, peneliti otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu, dan pengamat otomotif Bebin Djuana.
Foto: Investortrust/Defrizal Mohammad.
Potensi Ekspor Besar
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon menyatakan, pasar global mobil hibrida diyakini berpotensi terus tumbuh, setidaknya hingga 10 tahun ke depan, seiring makin tingginya kesadaran masyarakat global dalam mendukung pengurangan emisi karbon. Potensi pertumbuhan pasar modal hibrida global terutama terjadi di Amerika Utara, Eropa, dan Asia-Pasifik.
“Tahun ini nilai pasar kendaraan hybrid global mencapai US$ 156 miliar, berpotensi meningkat 10 kali lipat menjadi US$ 1.301 miliar pada tahun 2032. Artinya pertumbuhannya sekitar 30% per tahun, ini potensi besar yang harus kita optimalkan untuk mendorong ekspor,’’ papar Ali Murtopo Simbolon.
Melihat potensi tersebut, pemerintah berharap mobil hibrida bisa jadi produk unggulan ekspor Indonesia di masa datang dengan manyasar potensi pasar global di Amerika Utara, Eropa maupun Asia Pasifik.
Saat ini, kata Ali, kontribusi ekspor mobil hibrida Indonesia baru 5% dari total ekspor mobil nasional yang mencapai 425.647 unit selama periode Januari-Oktober 2023, tumbuh 1,78% year on year (yoy). Ali memperkirakan, hingga akhir tahun kontribusi ekpor mobil hibrida bisa mencapai 6%, dan terus meningkat di masa datang. Penjualan mobil hibrida di domestik hampir 40 ribu unit pada Januari-Oktober 2023.
Meski demikian, kata Ali, mobil listrik hibrida masih menghadapi tantangan secara regulasi, karena masih disamakan dengan mobil konvensional.Padahal, secara fungsi, mobil listrik hibrida dapat mengurangi emisi karena menghemat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 50%. “Berbeda dengan kendaraan listrik murni berbasis baterai (BEV) yang sudah diberikan banyak insentif, mobil hibrida perlakuannya masih sama dengan kendaraan konvensional,’’ tutur Ali.
Untuk pengembangan pasar mobil hibrida, Ali berharap pelaku industri dan para stakeholders memberikan masukan ke pemerintah terkait kebijakan yang perlu dilakukan, termasuk masukan dan rekomendasi dari seminar yang digelar investortrust.id ini.
Solusi Terbaik
Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandy menyebut, mobil hybrid menjadi solusi terbaik di masa transisi sebelum sepenuhnya beralih ke mobil listrik.
Saat ini Toyota memimpin penjualan mobil hybrid di Indonesia. Tercatat, Toyota memiliki market share sebesar 56,1% pada segmen mobil elektrifikasi.
Mobil Innova Hybrid menjadi produk yang paling disukai oleh masyarakat Indonesia. Alasannya karena mobil tersebut hemat bahan bakar dan bisa menampung banyak penumpang. “Kenapa Innova Hybrid itu yang paling laku? Karena orang Indonesia itu sukanya yang hemat bahan bakar, serta mobil yang tiga baris tujuh penumpang,” kata Anton.
Anton menyampaikan, penjualan mobil elektrifikasi selalu meningkat setiap tahun. Meski sempat terjadi krisis global karena pandemi Covid-19, penjualan mobil elektrifikasi tidak terpengaruh, justru meningkat pesat.
“Kalau kita lihat grafik, penjualan mobil listrik nasional tahun 2019 sekitar 800 unit, kemudian 2020 sekitar 1.000-an, 2021 sebanyak 3.000-an, di 2022 meningkat pesat ke angka 19.500. Dan tahun ini lebih tinggi lagi ke angka 53.400,” paparnya.
Toyota menguasai pangsa pasar mobil hybrid nasional lebih dari 30% dengan penjualan hingga Oktober 2023 mencapai 30 ribuan, dan akan bertambah di November-Desember.
Anton Jimmi menuturkan, Toyota ingin masuk ke segmen yang lebih terjangkau untuk mobil hibrida di Indonesia. “Saat ini Innova Hybrid harga rata-rata Rp 500 jutaan, Yaris Cross Rp 400 jutaan. Tahap selanjutnya kita akan masuk ke segmen di bawah harga itu yang lebih terjangkau,” ucap Anton.
Untuk mewujudkan mobil hybrid dengan harga terjangkau, kata Anton, pemerintah perlu memberikan insentif dan dukungan. Yang utama adalah insentif perpajakan untuk mendorong penurunan harga mobil hybrid. Sejauh ini, PKB dan BBNKB mobil hybrid diterapkan sama seperti mobil bermesin BBM, yakni 12,5% dan 1,75%, sehingga totalnya mencapai 14,25%. Sedangkan tarif PPnBM mencapai 6%.
Anton mengusulkan, seperti yang sempat diwacanakan sebelumnya, tarif PKB dan BBNKB mobil hybrid dipangkas menjadi masing-masing 7,5% dan 1,31%, sehingga totalnya mencapai 8,81%.
Sedangkan PPnBM mobil hybrid sempat pula diusulkan untuk diturunkan menjadi 0% atau minimal sama seperti LCGC sebesar 3%.
Beberapa waktu lalu, Kementerian Perindustrian sempat mengeluarkan rilis yang menyatakan, jika skenario pemberian insentif perpajakan benar-benar diterapkan harga mobil hybrid bisa berkurang 8-11%.
Dukungan lainnya adalah melokalisasi komponen-komponen mobil hybrid, termasuk baterainya, sehingga industri otomotif bisa masuk ke segmen yang lebih rendah.
Anton Jimmi berpendapat, saat ini memang dibutuhkan eksositem dan support dari pemerintah, termasuk menjadikan mobil hybrid sebagai prioritas dalam program penunjang penurunan emisi karbon. Toyota memiliki concern dan komitmen yang sama dengan pemerintah untuk mencapai netral karbon tahun 2050/2060.
TAM sendiri bukan hanya mempromosikan hibrida, tapi juga BEV. Buktinya, Toyota adalah salah satu pionir yang mempersiapkan stasiun pegisian baterai (charging station) terbanyak di Indonesia. Antara lain di 65 dealer Toyota dan beberapa area publik, termasuk rest area jalan tol yang dikelola Astra. “Ke depannya kita akan kembangkan charging station ke seluruh dealer kita, lebih dari 300 cabang,” kata Anton.
Mengubah Lanskap Industri Komponen
Direktur PT Astra Otopartarts Tbk (AUTO) Kusharijono menegaskan bahwa transformasi ke mobil listrik mengubah lanskap industri komponen otomotif. Namun, pengembangan mobil hybrid merupakan strategi yang tepat sebelum memasuki mobil listrik murni. “Hal tersebut juga merupakan bagian dari upaya mendorong industri komponen beradaptasi secara teknologi dan produk, sebelum masuk mobil listrik murni,” kata dia.
PT Astra Otoparts Tbk, sebagai bagian integral dari grup manufaktur dan distributor otomotif PT Astra International Tbk di Indonesia, telah menjelma sebagai pelaku utama dalam penyediaan suku cadang otomotif. Dengan cakupan yang melibatkan sepeda motor, mobil roda empat, hingga kendaraan komersial seperti truk dan bus. Perusahaan kini memegang peran kunci dalam rantai pasok industri otomotif.
Perusahaan dengan kode bursa AUTO ini dalam dua tahun terakhir memang telah memasuki ranah ekosistem mobil listrik melalui pengembangan lini bisnis terbarunya Astra Otopower. Dengan Astra Otopower, Astra Otoparts mengembangkan jaringan pengisian bateraiKendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), yang secara resmi diluncurkan pada tahun 2022 lalu. Astra Otopower berikutnya hadir di sejumlah lokasiuntuk mendukung pemerintah dalam menyiapkan infrastruktur pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
Kusharijono berharap pemerintah menerbitkan insentif pembelian mobil hybrid untuk meningkatkan skala ekonomi. Apalagi ini merupakan industri transisi. Mobil hibrida juga layak mendapat insentif seperti BEV, meski tidak harus sama persis. Kebijakan itu turut mendongkrak industri komponen mobil hybrid ke depan.
“Kalau penjualan mobil hybrid mendapatkan insentif sama seperti mobil listrik murni, kami memperkirakan industri komponen akan berkembang dan akhirnya industri dapat meningkatkan ekspor mobil hybrid,” ujarnya.
Dia mengatakan, Astra Otoparts telah menyuplai sejumlah komponen produk mobil hybrid, seperti Toyota Yaris Cross dan Toyota Innova hybrid. Perseroan juga telah menyuplai sejumlah komponen mobil listrik pabrikan di luar grup Astra. Selain itu, Astra Otoparts turut berkontribusi dalam penyediaan stasiun pengisian baterai (charging station) di berbagai tempat.
Sementara itu, Astra Otoparts jelas menyiapkan diri untuk masuk ke industrialisasi mobil listrik, mulai dari HEV hingga nanti ke battery electric vehicle (BEV). Saat ini, divisi R&D AUTO tengah mengembangkan komponen HEV. Pengembangan ini mencakup komponen yang akan diproduksi sendiri maupun yang kerja sama dengan mitra dari negara lain. "Kami menggandeng partner Jepang maupun Eropa untuk mengembangkan sama-sama, tapi masih belum di produksi massal di Indonesia," tandas Kusharijono.
Berapa nilai investasi untuk pengembangan lebih lanjut komponen HEV maupun BEV masih dikalkulasi, karena sangat besar, sehingga harus didiskusikan juga dengan industri otomotif. Kusharijono menyebut, investasi terbesar terutama untuk berupa motor, inverter, dan baterai.
Dukungan Pembiayaan
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno menyatakan, pembiayaan mobil hybrid di Indonesia memiliki peluang dan tantangan tersendiri.
Peluangnya adalah biaya perawatan kendaraan yang lebih murah ketimbang mobil konvensional dan eco fiendly.
Namun ada sejumlah tantangan. Pertama, harga jual yang masih cukup mahal, sehingga belum bisa dijangkau masyarakat Indonesia secara luas.
Kedua, harga jual kendaraan bekas (resale value) yang belum jelas. “Karena kami melakukan pembiayaan, kami harus menjaga apa yang menjadi barang jaminan kita. Kalau barang bekasnya gak ada harganya, ujung-ujungnya kita cuma bisa jual kiloan. Ngeri kali barang itu,” kata Suwandi, seraya menambahkan bahwa kondisi ini bisa memicu pembiayaan macet di kemudian hari.
Ketiga, karena pasarnya masih baru, industri asuransi banyak yang belum berani meng-cover kendaraan hybrid. Masih sulit menentukan tarif preminya, karena belum ada benchmark. “Karena alasan itu, saat ini APPI sedang berdiskusi dengan asosiasi asuransi umum,” kata Suwandi.
Meski demikian, perusahaan pembiayaan yang tergabung dalam APPI sangat siap mendukung pembiayaan mobil hybrid. Apalagi, ini merupakan bagian dari program pemerintah mengurangi emisi karbon.
Terlebih lagi, HEV menjadi fase penting dan menentukan untuk memasuki ekosistem kendaraan listrik, sebagai jembatan atau transisi. Selain itu, mobil hybrid lebih sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia yang cenderung membeli mobil sebagai investasi agar bisa dijual kembali. Nah, hybrid masih memiliki resale value.
Atas dasar berbagai realita tersebut, sependapat dengan panelis lainnya, Suwandi Wiratno pun mengusulkan perlunya insentif untuk perkembangan HEV. Insentif itu antara lain berupa penurunan PPnBM dan beberapa jenis pajak lain, untuk menurunkan harga jual agar volume penjualan meningkat.
Dia setuju jika insentif dikaitkan juga, misalnya, dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Idealnya, komponen mobil listrik hybrid 100% lokal. “Buat apa juga kalau impor,” ucap dia.
Saran lainnya, mobil hybrid perlu mendapat dispensasi sejumlah kebijakan, seperti peraturan ganjil-genap.
Government Driven
Peneliti mobil listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu berpendapat, Indonesia memiliki potensi menjadi produsen terbesar mobil listrik hybrid (HEV) di ASEAN. Hal ini juga ditunjang pesatnya minat konsumen di ASEAN, seperti Indonesia dan Thailand, terhadap mobil hybrid yang kini makin populer.
Selain itu, HEV menjadi transisi yang tepat sebelum menuju battery electric vehicle (BEV) sepenuhnya, setelah ekosistem di Tanah Air sudah siap.
Namun demikian, peluang dan potensi besar itu bisa diwujudkan atau tidak, tergantung kesungguhan presiden dan kabinetnya mendatang untuk membangun industri mobil hybrid yang kokoh di Tanah Air. Selain membantu mempercepat penurunan emisi gas rumah kaca, HEV membantu pengurangan impor minyak mentah yang besar, lantaran bisa menghemat BBM 40-50% dibanding mobil konvensional.
Jadi, perlu sosok kabinet yang visi-misinya serius mengembangkan ekosistem EV di sisi industri, lingkungan, maupun nilai ekonominya yang berkelanjutan untuk masa depan Indonesia. Keseriusan ini yang akan menentukan apakah Indonesia bisa menjadi produsen mobil hybrid terbesar di ASEAN," kata Yannes.
Yannes mengungkapan, HEV adalah kategori mobil listrik terpopuler dan menunjukkan pertumbuhan yang kuat di ASEAN seperti di Thailand dan Indonesia. Hal ini menandakan bahwa konsumen di negara-negara berkembang lebih memilih opsi hybrid, ketimbang BEV.
Yannes menilai, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham soal kendaraan listrik, termasuk jenis hybrid. Hal itu mengacu pada hasil riset yang ia lakukan sejak tahun 2012 bersama mahasiswa S3, juga konsorsium kendaraan listrik Indonesia di lima kampus. Karena itu, Yannes mendesak pemerintah lebih gencar melakukan sosialisasi dan edukasi.
Yannes memprediksi pasar HEV di Indonesia bertumbuh 25%- 30% seiring kian gencarnya edukasi produk dan tambahan dukungan kebijakan. Yannes menyebut pada 2030, setidaknya pupulasi mobil listrik, termasuk HEV, sudah mencapai 20%. "Pemerintah Indonesia perlu segera memberikan insentif untuk meningkatkan pembelian mobil hybrid di dalam negeri," tandasnya.
Yannes mengingatkan, program pengembangan kendaraan listrik, baik BEV maupun HEV di Tanah Air bakal ambyar alias kandas jika pemerintahan baru tidak berpihak pada kendaraan ramah lingkungan.
“Jadi, kunci transisi energi dan pengembangan kendaraan listrik ada di kebijakan pemerintah, alias government driven, bukan market driven. Setelah kebijakannya kuat dan jelas, baru didorong market driven,” tegas Yannes.
Menurut Yannes, di negara mana pun, pemerintah lah yang berperan sangat besar dan menentukan dalam menyukseskan program kendaraan listrik. “Di Tiongkok pun sama, peran pemerintahnya sangat besar dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik,” tegas dia.
Itu sebabnya, kata Yannes, para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan berkompetisi dalam Pemilu 2024 dituntut untuk memiliki program yang jelas dan konsisten mengenai pengembangan ekosistem kendaraan listrik ke depan.
Hilangkan Pajak Berlapis
Di forum yang sama, pengamat otomotif, Bebin Djuana berpendapat, transisi dari penggunaan mobil konvensional (internal combustion engine/ICE) ke mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV) perlu dijembatani lebih dahulu oleh mobil hybrid (hybrid electric vehicle/HEV).
Dia mengamati bahwa keberhasilan pasar kendaraan listrik (HEV/BEV) juga berkaitan erat dengan lifestyle masyarakat. Justru transisi melalui HEV itu diperlukan karena terkait dengan lifestyle. Hal penting yang harus dicermati dalam HEV adalah kualitas bahan bakar, karena berpengaruh saat pergantian otomatis dari listrik ke mesin. “Ketika hybrid berjalan dengan tenaga baterainya, misal ketika baterai mencapai 20-30%, mobil HEV akan otomatis berganti ke mesin ICE,” kata Bebin Djuana yang pernah 20 tahun di Suzuki Indomobil.
Soal insentif atau subsidi mobil HEV, Bebin berharap ada pengurangan atau pembebasan tarif pengenaan pajak kendaraan bermotor (PKB) dan pajak pertambahan nilai barang mewah (PPnBM). Dia menyebut mobil tidak perlu dianggap sebagai barang mewah lagi, kecuali yang segmen premium, sehingga pengenaan PPnBM tidak relevan lagi. “Pengenaan pajak di otomotif itu berlapis-lapis sehingga memusingkan dan membuat harga mobil jadi mahal,” kata dia.
Bebin setuju bahwa insentif HEV dan BEV dibedakan, karena HEV masih menyumbang emisi karbon dari bahan bakarnya. Misalnya, perbedaan insentif pajaknya sekitar 10% antara HEV dan BEV. Bebin berpendapat, jika Indonesia sudah bisa memproduksi baterai mobil listrik sendiri, diharapkan harga mobil listrik, termasuk HEV bakal lebih murah. Dengan catatan, biaya produksi baterai efisien. Soal resale value, masyarakat pada umumnya masih khawatir dengan baterai walaupun sekarang lifetime baterainya sudah di atas 8 tahun dan kalau rusak bisa digantikan per cell. Masalah resale value ini belum jelas karena belum terbentuk pasar sekundernya (secondary market). Mungkin secondary market akan terbentuk sekitar 2-3 tahun lagi. “Ketika populasi naik, secondary market pasti lebih jelas dan perusahaan pembiayaan lebih tenang hidupnya,” kata Bebin. (Tim investortrust.id) ***

