AMIN Targetkan Market Cap Pasar Modal Indonesia Samai Malaysia
JAKARTA, Investortrust.id - Tim Ekonomi Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Wijayanto Samirin menyebut pasangan calon presiden (cawapres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang diusungnya bisa meningkatkan market cap to GDP ratio di pasar modal melejit dan menyamai Malaysia.
“(Saat pasar modal masih ditangani) Bapepam, institusi yang respektif dengan kebijakan yang inovatif. Ke depan kita akan copy, apa yang dahulu pernah kita miliki sehingga market cap to GDP ratio kita, melejit minimal menyamai Malaysia,” kata Wijayanto, saat paparan Dialog Arah Kebijakan Investasi dan Pasar Modal 2024-2029 yang digelar Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Senin (8/1/2024).
Wijayanto mengatakan, market cap to GDP ratio pasar modal Indonesia masih sangat rendah. Selama tujuh tahun, kata dia, market cap to GDP ratio Indonesia hanya naik 8%. Saat ini market cap to GDP ratio Indonesia hanya 48,5%.
“Tahun 2016, bukankah kita sudah di level 40%?” kata dia.
Baca Juga
Top! Jumlah Investor Pasar Modal RI Tembus 12 Juta, Mayoritas Gen Z dan Milenial
Menurut Wijayanto, pasar modal ke depan harus lebih didongkrak terutama dari sisi kapitalisasi. Sementara darisupply side, pasangan AMIN ingin mendorong BUMN go public dan perusahaan joint venture berkomitmen melakukan IPO setelah mendapat kemudahan pajak.
Dari demand side, kata dia, perluditingkatkan literasi dan inklusi keuangan. Dia berjanji, jika pasangan AMIN menang, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar akan menjadi marketer pasar modal Indonesia.
“Yang tidak kalah penting yaitu enabling environment. Kita bicara kepastian hukum,” ujar dia.
Sisi ketiga tersebut, kata Wijayanto, yaitu memberi kelonggaran badan atau lembaga pemerintah untuk menggelontorkan dananya di pasar modal. Selama ini, tidak adanya kepastian hukum membuat badan atau lembaga pemerintah sulit mengembangkan dana.
“Ketidakjelasan hukum membuat, kalau harga turun, jadi ‘temuan’ KPK, BPK,” ucap dia.
Dari sisi pemerintah, dia menyarankan agar pemerintah menahan diri menerbitkan Surat Utang Negara (SUN). Sebab, kata dia, SUN membuat banyak uang investor pasar modal berpindah.
Terakhir, catatan Wijayanto yaitu dimasukkannya literasi pasar modal dalam kurikulum sekolah dasar hingga menengah. Cara ini diharapkan dapat membangun pola pikir investasi. “Dan tidak kalah penting yaitu infrastruktur digital,” kata dia.

