Rupiah Melorot 8 Poin pada Senin ke Posisi Rp 16.758 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (22/12/2025). Rupiah melemah 8 poin di pasar spot ke posisi Rp 16.758 per US$ berdasarkan Bloomberg.
Indeks mata uang AS atau DXY bergerak menguat. Posisi DXY berada di 98,60.
Meski demikian, tekanan dolar AS hanya terjadi terhadap rupiah. Sejumlah mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia bergerak menguat terhadap dolar AS.
Rupee India, yen Jepang, dolar Singapura, dan baht Thailand bergerak menguat terhadap dolar AS. Rupee menguat 1,07%, yen menguat 0,31%, dan dolar Singapura menguat 0,03%, serta baht menguat 0,12%.
Euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya juga menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,07% dan poundsterling menguat 0,13%.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan indeks harga konsumen (CPI) inti AS pada November 2025 menunjukkan penurunan ke level terendah sejak awal 2021. Meski turun, sejumlah ekonom memperingatkan adanya distorsi karena penutupan pemerintah AS selama 43 hari.
Kondisi ini membuat ekspektasi bahwa the Fed kembali memangkas suku bunganya kembali muncul. Tetapi, investor juga skeptis terhadap langkah the Fed ke depan.
Baca Juga
Rupiah Melemah Makin Dalam, Menembus Rp 16.735 per US$ di Akhir Pekan Ini
“Fokus pasar adalah rilis indikator inflasi favorit the Fed, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE), dan indeks sentimen konsumen [dari] Universitas Michigan,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, Bank Dunia memperingatkan kesehatan fiskal Indonesia dalam jangka menengah. Terdapat proyeksi defisit APBN 2025 yang akan melebar secara konsisten sehingga mendekati batas psikologis 3% hingga 2027.
Kondisi ini diproyeksi terjadi karena turunnya pendapatan negara dan peningkatan beban utang. Bank Dunia memprediksi defisit fiskal pada 2025 akan menyentuh 2,8% dan 2,9% pada 2027.
Bank Dunia melihat rasio utang pemerintah pusat akan terus mengalami kenaikan dalam tiga tahun mendatang. Diproyeksikan utang pemerintah berada di posisi 39,8% terhadap PDB menjadi 40,5% terhadap PDB pada 2025, 41,1% dari PDB pada 2026, dan 41,5% dari PDB pada 2027.

