Bitcoin Berfluktuasi di Tengah Sinyal Berlawanan Inflasi AS dan Suku Bunga Jepang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar kripto mengalami volatilitas yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir seiring dua peristiwa makroekonomi penting yang terjadi hampir bersamaan, yakni kenaikan suku bunga acuan Jepang dan rilis data inflasi CPI (IHK) Amerika Serikat (AS) bulan November yang jauh lebih rendah dari ekspektasi.
Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ke level 0,75%, melanjutkan kenaikan sebelumnya pada Januari lalu. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir dan menandai berlanjutnya fase pengetatan kebijakan moneter Jepang. Di sisi lain, data inflasi CPI AS terbaru menunjukkan inflasi tahunan mereda di angka 2,7%, jauh di bawah ekspektasi beberapa ekonom yang bahkan sempat memperkirakan angka inflasi November menyentuh 3,1%.
Data ini menjadi laporan inflasi pertama yang diterima investor sejak berakhirnya government shutdown AS terpanjang bulan lalu. Tidak dirilisnya data inflasi Oktober akibat shutdown tersebut membuat laporan CPI kali ini tidak menyertakan perubahan inflasi bulanan (month-over-month). Sementara itu, inflasi inti AS yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi tercatat naik 2,6% secara tahunan.
Merespons kondisi tersebut, Analyst Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan bahwa meredanya inflasi CPI AS ini membuka ruang untuk penurunan suku bunga yang lebih agresif tahun depan, akan tetapi banyak pihak saat ini meragukan validitas dari data tersebut. The Fed mungkin masih akan melakukan pemantauan lebih lanjut untuk rilis data yang akan datang, khususnya data inflasi PCE yang mereka gunakan sebagai acuan.
“Kondisi ini memberikan sentimen positif yang terbatas di pasar kripto, terlebih dengan adanya kenaikan suku bunga Jepang yang cenderung memberikan tekanan tambahan,” ujar Fahmi dalam risetnya, Jumat (19/12/2025).
Fahmi menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga Jepang berdampak langsung pada strategi yen carry trade, yang selama ini menjadi salah satu sumber likuiditas global. Strategi tersebut melibatkan peminjaman yen dengan suku bunga rendah untuk diinvestasikan ke aset berimbal hasil lebih tinggi seperti saham, obligasi, maupun kripto.
“Ketika suku bunga Jepang naik, strategi yen carry trade menjadi kurang menarik. Investor cenderung melikuidasi posisi mereka di aset berisiko, termasuk saham dan kripto, untuk menutup kewajiban pinjaman dalam yen. Kondisi ini secara historis sering kali menekan pasar kripto,” jelasnya.
Baca Juga
Suku Bunga Jepang Naik ke Level Tertinggi 3 Dekade, Bitcoin Naik ke US$ 87.000-an
Secara historis, Fahmi menambahkan, korelasi antara pengetatan kebijakan BoJ dan tekanan harga Bitcoin terlihat cukup signifikan. Pada Maret 2024, Bitcoin sempat terkoreksi sekitar 23% setelah kenaikan suku bunga Jepang. Tekanan serupa kembali terjadi pada Juli 2024 dengan penurunan sekitar 26%, serta pada Januari 2025 ketika Bitcoin mengalami koreksi hingga 31% menyusul sinyal pengetatan lanjutan.
Mengacu pada pola historis tersebut, Fahmi menilai tekanan di pasar kripto masih berpotensi bertahan dalam beberapa pekan ke depan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tren bullish jangka panjang pasar kripto secara fundamental masih terlihat solid.
“Volatilitas yang tinggi di fase seperti ini justru dapat menjadi momentum akumulasi bagi investor jangka panjang, terlebih apabila inflasi AS ternyata memang sudah benar-benar cooling down. Di sisi lain, bagi trader, kondisi pasar yang fluktuatif juga membuka peluang trading yang menarik, selama tetap memperhatikan manajemen risiko, volatilitas dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan potensi return dengan pengelolaan portofolio investasi secara lebih aktif, khususnya bagi para trader berpengalaman” tutup Fahmi.
Baca Juga
Adopsi Bitcoin Meroket, Bhutan Alokasikan US$ 1 Miliar untuk Kembangkan Kota Ekonomi
Proyeksi Bitcoin
Secara terpisah, BTC berpotensi kembali melambung menuju zona resistance di kisaran US$ 90.000 - US$ 92.000. Hal ini dapat tercapai bila BTC mampu mempertahankan area support krusial pada rentang US$ 84.000 - US$ 85.000. Sementara saat ini BTC tengah kembali memasuki zona konsolidasi, diperdagangkan pada kisaran US$ 87.000.
Financial Expert Ajaib Panji Yudha menyebutkan, kondisi makroekonomi memberi sinyal beragam namun cenderung suportif. Indeks Harga Konsumen (CPI) tercatat di level 2,7% (yoy), lebih rendah dari ekspektasi 3,1%, yang membantu menekan kekuatan dollar dan meredakan kekhawatiran kebijakan moneter ketat.
“Bank of England telah memangkas suku bunga menjadi 3,75%, sementara Bank Sentral Eropa (ECB) menahan suku bunga di 2,15%, menandakan transisi perlahan meninggalkan kebijakan pengetatan ekstrem,” jelasnya, Jumat (19/12/2025).
Setelah sempat mencatat outflow pada 16 Desember, data terbaru menunjukkan net inflow besar senilai US$ 457,29 juta pada 17 Desember 2025. Secara kumulatif, total dana masuk ke ETF Bitcoin kini menembus US$ 57,73 miliar dengan total aset kelolaan (AUM) stabil di kisaran US$ 112,57 miliar.
Sementara hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di kisaran US$ 85.000 - US$ 89.500 dan Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 2.700 - US$ 3.050. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin naik 0,84% menyentuh level US$ 88.005 pada pukul 17:07 WIB sehingga mencatatkan kapitalisasi pasar US$ 1,76 triliun.

