Triputra Agro (TAPG) Raih Laba Rp 1,66 Triliun Tahun 2023
JAKARTA, investortrust.id – Emiten kelapa sawit, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencatat perolehan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,66 triliun sepanjang tahun 2023.
Capaian laba tersebut mencerminkan penurunan sebesar 46,21% secara year on year (yoy), dibanding laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 3,08 triliun pada tahun 2022.
Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip, Rabu (13/3) diuraikan, penurunan laba Perseroan sejalan dengan perolehan pendapatan yang tercatat turun sebesar 10,91% yoy menjadi Rp 8,32 triliun di tahun 2023 dari Rp 9,34 triliun tahun 2022.
Baca Juga
Peduli Kelestarian Hutan, Triputra Agro (TAPG) Perluas Program Desa Makmur Peduli Api
Sementara beban pokok penjualan tercatat meningkat menjadi Rp 6,10 triliun tahun 2023 dari Rp 5,62 triliun pada tahun 2022. Alhasil laba kotor yang dibukukan merosot jadi Rp 2,21 triliun tahun 2023 dari Rp 3,71 triliun tahun 2022.
Adapun posisi EBITDA tercatat sebesar Rp 1,94 triliun, turun sebesar 37,14% yoy dibanding Rp 3,08 triliun pada tahun buku 2022.
Penurunan laba bersih berdampak pada turunnya laba per saham Perseroan menjadi Rp 81 per saham per 31 desember 2023 dari Rp 150 per saham pada 31 Desember 2022.
Sementara dari sisi neraca total aset TAPG mengalami penurunan menjadi sebesar Rp 13,86 triliun per 31 Desember 2023 dari posisi Rp 14,52 triliun per 31 Desember 2022.
Baca Juga
Raih Award Bidang ESG, Ini Program Andalan Triputra Agro (TAPG)
Kendati begitu Perseroan berhasil menurunkan angka liabilitas menjadi Rp 2,52 triliun per Desember 2023 dari Rp 4,11 triliun pada periode yang sama tahun 2022. Sedangkan total ekuitas tercatat naik menjadi Rp 11,33 triliun dari sebelumnya Rp 10,41 triliun pada tahun 2022.
Dalam sebuah kesempatan, Manajemen TAPG menyebut perolehan kinerja tahun 2023 dipengaruhi oleh kenaikan harga pupuk. Kondisi ini membuat peningkatan terhadap biaya produksi Perseroan yang pada akhirnya menggerus EBITDA dan laba bersih.

